Obituari Pastor Dr Frietz Tambunan: Penulis “Jendela” Itu Telah Pergi

3,520 total views, 3 views today

komsoskam.com– Medan- Civitas akademika Unika Santo Thomas berkabung. Rektor kampus katolik tersebut, Pastor Dr. Frietz Tambunan, telah tiada. Redaksi komsoskam.com mendapat informasi bahwa Imam Projo KAM tersebut telah meninggal dunia . Tepatnya, pada Selasa (12 Mei 2020) di Rumah Sakit Elisabeth Medan, tutup usia 62 tahun.

Dari keterangan narasumber kepada Komsos KAM, disampaikan bahwa Pastor Frietz terkena serangan stroke hemograghik pada 28 April lalu. Saat menderita sakit tersebut, dia kemudian dirawat di RS Materna.

Pada 5 Mei 2020, perawatan Pastor Frietz lalu dipindahkan ke RS Elisabeth Medan. Lalu, pada 8 Mei 2020, setelah pembicaraan pihak KAM dengan tim dokter RS Elisabeth, diputuskan agar Imam asal Sigotom itu menjalani operasi untuk mengeluarkan pendarahan di sekitar otak. Namun, hingga 11 Mei 2020, kondisi Pastor Frietz masih lemah dan belum stabil. Pada tanggal yang sama, kemudian diputuskan untuk operasi ulang membersihkan pendarahan.

Lebih Dikenal Sebagai Kolumnis di Majalah Menjemaat

Sosok Imam yang ditahbisan 22 Januari 1989 tersebut, dikenal luas sebagai penulis kolom Menjemaat – majalah resmi Keuskupan Agung Medan. Nama Pastor Frietz sudah tidak asing lagi bagi para pembaca Menjemaat karena coretan-coretan tangannya setiap bulannya. “Belum baca Menjemaat, kalau belum baca jendela.” Demikian pernah terlontar ucapan seorang pembaca setia Menjemaat.

Rektor Unika St. Thomas Medan, Pastor Dr. Frietz Tambunan berjabat tangan dengan Presiden Republik Indonesia, Ir Joko Widodo dalam pertemuan Rektor se Indonesia

Tampil dengan tulisan perdananya di Jendela yang berjudul “Aborsi: Ibu-Bapa, Lindungilah Kami.” Kini RD. Frietz R. Tambunan telah berkarya di media cetak ini sejak Januari 1998. Selain sebagai kolumnis, dia juga merupakan bagian dari Redaksi Menjemaat.

Isi dan gaya tulisannya yang terkesan ringan, santai dan jenaka, walau nyeletuk, sikut kiri, sikut kanan, nyindir sana-sini dan mengundang banyak kritikan, membuat rubrik ini cukup diminati dan selalu dinantikan.  

“Kebanyakan pembaca Jendela hanya mengenal saya dari nama, dan tidak mengenal orangnya. Ketika bertemu, mereka biasanya berkata: Oohh … jadi pastorlah penulis Jendela itu! Pernah saya Misa di Balige, dan dalam pengantar dikatakan: Pastor yang “membawa” Misa ini adalah Pastor Jendela di Menjemaat. Dan tahun lalu di salah satu stasi di Paroki Palipi, sekelompok umat mengungkapkan kesukaan mereka akan Jendela di hadapan saya. Lalu saya bertanya: Kalian mengerti nggak isinya? Mereka bilang: Nggak! Tetapi kami membacanya sambil tertawa-tawa, karena lucu kata-katanya,” ungkap Pastor kelahiran Sigotom, 15 Desember 1957 ini.

“Lingkungan yang paling berpengaruh pada awalnya adalah keluarga. Ketika masih kecil, saya sering melihat ayah saya, almarhum, menulis dan membaca sambil tidur. Lalu sesekali saya mengintip apa yang ditulisnya. Ternyata diary. Setelah di SMP, saya pun mulai menulis sesuatu tentang pengalaman pribadi. Di SMA saya makin rajin menulis dan mempunyai teman pena di mana-mana. Mereka suka dengan tulisan saya yang katanya lucu. Ketika perasaan sedang sendu, saya menulis puisi untuk mengungkapkan isi hati dan setengah jati diri,” tutur Pastor yang pernah melanjutkan studi S1 hingga S3 di Universitas Salesian, Roma.

“Saya berharap untuk lebih dapat mewujudkan idealisme hidup saya, yakni sebuah pencapaian personal yang istilahkan dengan achievement: ketenteraman hati dan pikiran, penguasaan dan pengenalan mendalam akan diri sendiri sebagai suatu pencerahan (enlightment). Orang yang cerah-cerah itu selalu berupa menjadi lebih superior dari dirinya sendiri dari masa lampau dan pertandingan terhebat adalah pertandingan mengatasi diri sendiri sepanjang hayat,” ujarnya.

“Saya juga berupaya untuk menjadi inspirator dan motivator yang mengundang orang lain melihat bahwa kehadiran saya itu mempengaruhi mereka secara positif dan mendorong untuk membuat perubahan yang konstruktif. Hidup perlu membawa perubahan, biar pun sangat kecil, bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Itulah sebabnya mengapa kehadiran saya di suatu lingkungan harus menginspirasikan dan mengubah sesuatu secara positif. Hal ini tidak berarti akan selalu menyenangkan orang lain, karena karakter seperti ini biasanya cenderung menumbuhkan riak terutama bagi orang yang memuja kompromi.”

“Namun saya percaya telah dilahirkan, dipanggil, dan diutus bukan untuk selalu menyenangkan orang lain, tetapi untuk secara terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman akan diri sendiri sehingga dapat mengalami kaizen, pembaharuan diri berkesinambungan. Ini juga tips saya bagi para rekan imam diosesan lainnya,” ungkap imam yang juga suka mengarang dan mengaransemen lagu dan beberapa lagu ciptaannya terdapat di Puji Syukur dan BETK.

Selamat menuju keabadian, Padre Frietz. Kami juga mohon doa bagi kami yang berziarah di dunia fana ini.

Ananta Bangun | Jansudin Saragih (Redaksi Menjemaat & Komsoskam.com)

NB: Sebagian teks disunting dari artikel Membuka “Jendela” Inspirasi yang telah diterbitkan di majalah Menjemaat edisi Februari 2014.

 

Facebook Comments
Baca juga  CEGAH PENYEBARAN VIRUS KORONA, UNIKA TERAPKAN KULIAH ON-LINE

Jansudin Saragih

REDAKTUR ||"Carpe diem" || Youtube : 2share4life

Leave a Reply