Pertama Kali, Prancis Adakan Misa Drive-In di Tengah Pandemi

1,476 total views, 2 views today

Komsoskam.com – Untuk pertama kali, umat Katolik di Kota Chalons en Champagne, Prancis, mengadakan misa drive-in pada hari Minggu (17/5) kemarin, sejak penutupan delapan minggu karena penyebaran Covid-19 di negara itu.

Dalam misa yang digelar pada Minggu kemarin, sejumlah aturan ketat diberlakukan seperti pemeriksaan mobil di pintu masuk untuk memastikan umat mengenakan masker dan membawa hand sanitizer. Tak hanya itu, dalam satu mobil tidak boleh ada lebih dari empat orang serta tidak diperkenankan turun dari mobil.

Seperti melansir dari abcnews.go, misa dimulai dengan para imam yang mengenakan masker melakukan prosesi melalui tempat parkir, ketika sebuah pujian dilantunkan dan mobil-mobil membunyikan klakson mereka.

Uskup Agung Perancis Chalons-en-Champagne, Mgr Francois Touvet dan para Imam yang mengenakan masker memimpin misa drive-in pertama kalinya saat pandemi COVDI-19 di Chalons en Champagne, dekat Reims, Perancis, 17 Mei 2020. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)
Uskup Agung Perancis Chalons-en-Champagne, Mgr Francois Touvet dan para Imam yang mengenakan masker memimpin misa drive-in pertama kalinya saat pandemi COVDI-19 di Chalons en Champagne, dekat Reims, Perancis, 17 Mei 2020. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)

Uskup setempat, Francois Touvet, terlihat berdiri di podium di depan mobil-mobil ketika memimpin misa. Para imam kemudian membagikan hosti kepada umat saat mereka duduk di dalam mobil mereka. Bagi umat, misa drive-in ini  mengobati kerinduan mereka saat menghadiri misa di dalam gereja.

Seorang pastor memberikan hosti kepada jemaah di dalam mobil, ketika merayakan misa drive-in untuk pertama kalinya saat pandemi COVDI-19 di Chalons en Champagne, dekat Reims, Perancis, 17 Mei 2020. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)
Seorang pastor memberikan hosti kepada jemaah di dalam mobil, ketika merayakan misa drive-in untuk pertama kalinya saat pandemi COVDI-19 di Chalons en Champagne, dekat Reims, Perancis, 17 Mei 2020. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)

Prancis dengan hati-hati bangkit dari penguncian wilayahnya pada 11 Mei lalu, namun layanan keagamaan di dalam ruangan tetap dilarang sampai akhir bulan karena pemerintah berusaha untuk menahan risiko gelombang kedua penyebaran virus.

“Itu (penguncian) benar-benar perampasan bagi umat Katolik, seperti juga untuk agama-agama lain, tidak bisa berkumpul di tempat ibadah kami. Kami dengan cepat datang dengan ide misa drive-in ini,” ujar Uskup Touvet.

Baca juga  Unika Medan Produksi Sendiri 'Hand Sanitizer' untuk Lingkungan Kampus
Uskup Agung Perancis Chalons-en-Champagne, Mgr Francois Touvet melambaikan tangan kepada jemaah setelah memimpin misa drive-in untuk pertama kalinya saat pandemi COVDI-19 di Chalons en Champagne, dekat Reims, Perancis, 17 Mei 2020. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)
Uskup Agung Perancis Chalons-en-Champagne, Mgr Francois Touvet melambaikan tangan kepada jemaah setelah memimpin misa drive-in untuk pertama kalinya saat pandemi COVDI-19 di Chalons en Champagne, dekat Reims, Perancis, 17 Mei 2020. (REUTERS/Gonzalo Fuentes)

“Orang-orang di dalam mobil mereka, mereka berasal dari apartemen yang sama atau rumah yang sama, mereka memiliki masker dan gel alkohol. Mobil-mobil itu berjarak satu meter satu sama lain, kami memberikan komuni, dan kemudian kami mencuci tangan,”  lanjut Uskup Touvet.

Umat dilarang turun dari kendaraan mereka, pengelompokan maksimal empat orang dari rumah tangga yang sama diizinkan per kendaraan.

Seorang umat yang ikut, Michelle, mengaku senang bisa menghadiri misa lagi. “Ada misa di televisi tetapi tidak sama dengan berada di komunitas pada kebaktian hari Minggu,” katanya.

Misa serupa juga terjadi di negara Polandia, tempat seorang imam mulai menerima pengakuan dari umat beriman di tempat parkir gerejanya di Warsawa. Sebaliknya, di Yunani,  setelah pelonggaran larangan pertemuan publik, ribuan orang kembali ke gereja pada hari Minggu setelah berminggu-minggu harus menjauh.

Sampai sekarang terdapat 142.291 kasus Covid-19 di Prancis dengan 27.625 jumlah kematian. Angka tersebut merupakan salah satu tingkat kematian tertinggi di dunia.

 

Facebook Comments

Yoseni

Freelance Content Writer

Leave a Reply