
Komplex sekolah dasar milik Montfort,salah satu sekolah dengan lokasi terluas di Propinsi Chiang Mai, Thailand (Foto:supplied).
BANGKOK — Sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan Katolik di Thailand memperketat sistem keamanan dan memperluas dukungan kesehatan mental bagi siswa, guru, dan orangtua setelah penembakan mematikan yang terjadi di sebuah sekolah di Provinsi Nonthaburi, dekat Bangkok.
Langkah tersebut dilakukan menyusul instruksi Kementerian Pendidikan Thailand kepada seluruh lembaga pendidikan untuk menerapkan sembilan langkah penguatan keamanan sekolah. Kebijakan itu mencakup pencegahan, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental warga sekolah.
Penembakan terjadi pada 7 Agustus di Debsirin Nonthaburi School, Provinsi Nonthaburi. Seorang siswa berusia 14 tahun menembak sejumlah orang hingga tujuh orang tewas sebelum pelaku mengakhiri hidupnya. Seorang korban berusia 12 tahun kemudian meninggal akibat luka yang dideritanya. Beberapa orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Pemerintah kemudian meminta sekolah memperketat pemeriksaan terhadap pengunjung, menyusun dan memperbarui prosedur tanggap darurat, serta melakukan latihan bersama kepolisian. Sekolah juga diminta memiliki mekanisme untuk menangani dampak psikologis setelah insiden serius, termasuk kemungkinan penutupan sementara sekolah.
Selain aspek keamanan fisik, Kementerian Pendidikan Thailand menekankan pentingnya komunikasi yang bertanggung jawab untuk mencegah munculnya perilaku meniru atau copycat behavior. Sekolah juga didorong memperkuat hubungan antara siswa, guru, orangtua, dan tenaga kependidikan agar tercipta rasa aman dan kepercayaan di lingkungan sekolah.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, tidak lama setelah tragedi tersebut, juga menyatakan akan memperketat aturan kepemilikan senjata api dan meningkatkan pengamanan di sekolah.
Sekolah Katolik Ikut Memperketat Pengamanan
Sekolah-sekolah Katolik mulai mengambil langkah konkret untuk menyesuaikan prosedur keamanan mereka.
Sacred Heart College di Nonthaburi, yang lokasinya berada tidak jauh dari sekolah tempat penembakan terjadi, memperketat pemeriksaan terhadap barang bawaan siswa. Sekolah juga menambah personel keamanan serta meningkatkan perhatian terhadap kondisi psikologis dan kesejahteraan siswa.
Administrator sekolah yang memperkenalkan dirinya sebagai Ms. Due mengatakan, langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan keamanan siswa dan seluruh warga sekolah.
Sementara itu, Ruamrudee International School di Bangkok menerima surat dari pihak berwenang yang kemudian disampaikan kepada para orangtua. Surat tersebut menjelaskan berbagai prosedur perlindungan yang telah diterapkan sekolah, antara lain pembatasan akses masuk kampus, identifikasi dan pencatatan pengunjung, keberadaan petugas keamanan terlatih selama jam sekolah, serta latihan keadaan darurat secara berkala yang melibatkan siswa dan staf.
“Keselamatan dan kesejahteraan siswa serta staf tetap menjadi prioritas utama kami,” demikian bunyi surat tersebut.
Pihak sekolah juga menegaskan bahwa tim konseling tersedia bagi siswa, guru, dan keluarga yang membutuhkan pendampingan atau ingin menyampaikan kekhawatiran terkait insiden penembakan.
Pemeriksaan Tas dan Pendidikan Konflik
Di Lampang, Thailand utara, seorang guru di Assumption College mengatakan bahwa sekolah telah memberlakukan pemeriksaan tas secara acak dan sejumlah prosedur keamanan lainnya.
Para guru juga diminta membantu siswa memahami cara menghadapi perundungan (bullying) dan konflik. Sekolah mendorong komunikasi yang terbuka antara siswa dan guru agar persoalan yang muncul dapat diketahui lebih awal dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Langkah serupa dilakukan Montfort College Primary School di Chiang Mai, salah satu sekolah swasta terbesar di Provinsi Chiang Mai.
Menurut seorang guru bahasa Inggris berkewarganegaraan Thailand yang hanya disebut sebagai Somkiat, pihak sekolah tengah membahas berbagai langkah yang perlu diterapkan, termasuk kapan dan bagaimana pelaksanaannya. Sekolah juga mempertimbangkan untuk mempercepat atau meningkatkan frekuensi latihan menghadapi penembak aktif (active shooter drills).
Montfort College selama ini telah menyediakan tenaga ahli kesehatan mental bagi siswa dan staf sekali seminggu. Setelah penembakan terjadi, akses layanan tersebut diperluas sehingga orangtua juga dapat memperoleh dukungan.
Seorang guru berkewarganegaraan Amerika Serikat di Montfort Primary School mengatakan, langkah-langkah keamanan tersebut membuat dirinya dan para siswa merasa lebih aman.
“Keluarga saya di rumah menelepon untuk memastikan keadaan saya. Seharusnya justru saya yang menelepon mereka. Namun, kejadian ini menjadi pengingat bahwa peristiwa seperti itu dapat terjadi di mana saja, bahkan di sini,” ujarnya kepada UCA News dengan meminta namanya tidak dipublikasikan.
Meski demikian, ia mengatakan tidak merasa takut.
“Saya akan melakukan apa pun untuk menjaga keselamatan siswa saya. Namun, secara keseluruhan, kami merasa aman di sini,” katanya.
Menunggu Pedoman Khusus Gereja
UCA News telah menghubungi pejabat Konferensi Waligereja Thailand untuk mengetahui apakah Gereja memiliki pedoman baru khusus bagi sekolah-sekolah Katolik setelah tragedi tersebut. Namun, hingga laporan ini diterbitkan, belum ada tanggapan.
Sementara menunggu kebijakan yang lebih khusus, sekolah-sekolah Katolik di berbagai wilayah Thailand telah mengambil langkah masing-masing dengan memperkuat pengamanan, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta memperluas dukungan kesehatan mental.
Tragedi tersebut sekaligus mengingatkan lembaga pendidikan bahwa keamanan sekolah tidak hanya menyangkut pengawasan terhadap akses masuk dan ancaman fisik. Membangun lingkungan sekolah yang sehat, membuka ruang komunikasi, mencegah perundungan, memperhatikan kesehatan mental, dan memastikan kesiapan menghadapi keadaan darurat menjadi bagian penting dari upaya menciptakan sekolah yang aman bagi semua.
(Emmanuel Cruz, UCA NEWS, 11 Agustus 2026)