Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap , Minggu Biasa XXV,

 

Yes 55:6–9; Flp 1:20c–24,27a; Mat 20:1–16a

Rancangan-Ku Bukanlah Rancanganmu

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Nabi Yesaya hari ini menyampaikan sabda yang sangat meneguhkan: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku… seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Kita sering memahami kalimat ini hanya ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana kita. Tetapi maknanya jauh lebih dalam: apa yang ada dalam pikiran dan hati Allah jauh melampaui apa yang mampu dipikirkan hati dan pikiran manusia. Kita melihat sebagian; Allah melihat keseluruhan. Kita melihat hari ini; Allah melihat perjalanan sampai akhirnya. Kita menghitung kemungkinan; Allah membuka kemungkinan yang bahkan belum pernah kita pikirkan. Karena itu iman bukan berarti kita sudah memahami seluruh rencana Allah. Iman adalah keberanian berkata: “Tuhan, aku belum memahami jalan-Mu, tetapi aku percaya bahwa Engkau melihat lebih jauh daripada aku.”

Rancangan Allah yang melampaui pikiran manusia itu menjadi nyata dalam diri Kristus. Dialah pewahyuan Bapa; melalui Yesus kita melihat apa yang ada dalam hati Allah. Dan Paulus dalam bacaan kedua bahkan berkata, “Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Paulus telah sampai pada kebebasan yang luar biasa. Ia tidak lagi memaksa Tuhan mengikuti rencananya. Ia bahkan berada di antara dua kemungkinan: pergi dan tinggal bersama Kristus atau tetap hidup untuk melayani umat. Yang penting baginya bukan lagi, “Apa yang paling menyenangkan bagiku?” tetapi, “Di manakah Kristus dapat dimuliakan melalui hidupku?” Inilah pertobatan besar dalam iman: dari meminta Tuhan melaksanakan rencana kita menuju kesediaan membiarkan rencana Tuhan terlaksana melalui kita. Doa yang dewasa akhirnya bukan hanya, “Tuhan, berikanlah apa yang kuminta,” tetapi juga, “Tuhan, lakukanlah melalui hidupku apa yang ada dalam hati-Mu.”

Dan apa yang ada dalam hati Allah itu digambarkan dengan sangat mengejutkan dalam Injil. Seorang pemilik kebun anggur keluar pagi-pagi mencari pekerja. Ia keluar lagi pukul sembilan, tengah hari, pukul tiga, bahkan pukul lima sore. Mengapa ia terus keluar? Kalau tujuannya hanya produktivitas kebun anggur, pekerja yang datang pukul lima sore hampir tidak berarti lagi. Tetapi ternyata ia tidak hanya membutuhkan pekerja untuk kebunnya; ia melihat pekerja yang membutuhkan pekerjaan. Ketika ditanya mengapa mereka menganggur, mereka menjawab, “Tidak ada orang yang mengupah kami.” Tidak ada yang memilih mereka. Tidak ada yang membutuhkan mereka. Tetapi pemilik kebun itu masih keluar mencari mereka. Inilah Allah kita. Ia mencari manusia bukan hanya karena Ia mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi karena manusia itu berharga bagi-Nya. Kita sering bertanya, “Apa yang dapat orang ini kerjakan?” Allah terlebih dahulu bertanya, “Apa yang dibutuhkan orang ini supaya ia dapat hidup?” Inilah pikiran Allah yang melampaui pikiran kita.

Kejutan semakin besar ketika tiba saatnya membayar upah. Mereka yang bekerja satu jam menerima satu dinar; yang bekerja sejak pagi juga satu dinar. Bukan karena pemilik kebun tidak adil. Pekerja pertama menerima tepat seperti yang disepakati. Tetapi pemilik kebun memilih bermurah hati kepada mereka yang datang terakhir. Satu dinar adalah kebutuhan hidup sehari bagi pekerja dan keluarganya. Kalau pekerja terakhir dibayar hanya menurut jumlah jam kerjanya, mungkin malam itu keluarganya tidak mempunyai cukup makanan. Di sinilah keadilan Allah melampaui matematika manusia. Kita cenderung bertanya, “Berapa yang pantas ia terima berdasarkan jasanya?” Allah melihat lebih dalam: “Apa yang dibutuhkannya agar ia dan keluarganya dapat hidup?” Keadilan Allah bukan ketidakadilan terhadap yang pertama; keadilan-Nya adalah keadilan yang disempurnakan oleh kemurahan hati. Allah tidak hanya melihat jasa; Ia melihat manusia. Tidak hanya menghitung pekerjaan; Ia melihat kebutuhan. Tidak hanya memberikan apa yang pantas; dalam kemurahan-Nya Ia memberikan apa yang memungkinkan kehidupan.

Maka persoalan pekerja pertama bukan bahwa ia menerima terlalu sedikit. Ia menerima semuanya sesuai perjanjian. Persoalannya adalah ia tidak sanggup bersukacita ketika orang lain menerima lebih daripada yang menurut perhitungannya pantas diterima. Sang tuan bertanya, “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?” Ini juga dapat menjadi persoalan kehidupan rohani kita. Kita menghitung: Saya sudah lebih lama melayani; saya lebih banyak berkorban; saya lebih setia; mengapa dia menerima kesempatan yang sama? Kita ingin Allah mengikuti matematika kita. Padahal kalau Allah memperlakukan kita hanya berdasarkan jasa, siapakah yang dapat berdiri di hadapan-Nya? Kita semua hidup karena rahmat. Karena itu, salah satu tanda bahwa pikiran kita mulai menyerupai pikiran Allah adalah ketika kita bukan hanya mampu bersyukur atas kebaikan yang kita terima, tetapi juga mampu bersukacita melihat Allah bermurah hati kepada orang lain.

Saudara-saudari, sabda hari ini akhirnya memberikan pengharapan besar. Mungkin sekarang ada sesuatu yang kita doakan tetapi belum terjadi. Ada jalan yang tertutup, rencana yang gagal, perjuangan keluarga, pekerjaan, kesehatan, panggilan atau pelayanan yang belum kita pahami. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Tuhan tidak bekerja hanya karena Ia tidak mengikuti skenario kita. Rancangan-Nya melampaui rancangan kita. Ini bukan janji bahwa Allah selalu memberikan persis apa yang kita inginkan atau lebih banyak secara materi. Yang dijanjikan iman jauh lebih dalam: Allah dapat mengerjakan kebaikan yang melampaui cakrawala permintaan kita, menurut kebijaksanaan dan kasih-Nya. Kadang-kadang kita meminta satu jalan, Tuhan membuka jalan lain. Kita meminta masalah disingkirkan, Tuhan memberi kekuatan melewatinya. Kita meminta keberhasilan, Tuhan membentuk kedewasaan. Kita meminta sesuatu bagi diri sendiri, Tuhan justru menjadikan hidup kita berkat bagi banyak orang. Maka beranilah percaya: apa yang dapat kita pikirkan terbatas, tetapi kasih Allah tidak terbatas; pandangan kita pendek, tetapi Tuhan melihat sampai akhir. Doa kita hari ini: “Tuhan, ketika aku tidak memahami jalan-Mu, ajarlah aku tetap percaya. Jangan hanya wujudkan rancanganku, tetapi masukkanlah aku ke dalam rancangan-Mu. Sebab jalan-Mu lebih tinggi daripada jalanku, pikiran-Mu melampaui pikiranku, dan kasih-Mu selalu lebih besar daripada yang dapat kubayangkan.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com