Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Sabtu Masa Biasa Pekan XXIV

 

1Kor 15:35–37, 42–49; Luk 8:4–15

Tuhan, Olahlah Kembali Tanah Hatiku

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Dalam perumpamaan hari ini, Yesus mengatakan bahwa benih adalah Firman Allah. Yang menarik, penabur menaburkan benih itu tanpa pilih-pilih. Benih jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di antara semak duri, bahkan di tanah yang baik. Seakan-akan sang penabur tidak takut benihnya terbuang. Inilah gambaran kemurahan hati Allah. Allah tidak hanya berbicara kepada orang yang sudah baik. Ia terus menaburkan Sabda-Nya juga kepada hati yang keras, terluka, penuh persoalan, bahkan kepada orang yang masih jauh dari-Nya. Mengapa? Karena Allah mempunyai pengharapan terhadap manusia. Tuhan percaya bahwa hati yang hari ini keras masih dapat menjadi lembut, yang berbatu dapat diolah, yang penuh duri dapat dibersihkan. Allah tidak pernah berhenti berharap bahwa manusia dapat berubah.

Karena itu, persoalannya bukan pada benih. Firman Allah selalu mempunyai daya kehidupan; keadaan hatilah yang menentukan bagaimana Firman itu diterima. Jalan yang keras adalah hati yang tidak lagi mau disentuh. Batu dapat berupa kesombongan, merasa diri paling benar, atau iman yang hanya bersemangat ketika semuanya berjalan baik. Duri dapat berupa kebencian, luka yang terus dipelihara, kecemasan, ambisi, harta, kesibukan, dan berbagai keterikatan yang perlahan-lahan mencekik kehidupan rohani. Maka sebelum menyalahkan benih, kita perlu memeriksa tanah. Kita mungkin sudah bertahun-tahun mendengarkan Sabda, mengikuti Ekaristi dan berdoa. Pertanyaannya bukan lagi, “Berapa banyak Firman yang sudah saya dengar?” melainkan, “Menjadi manusia seperti apakah saya karena Firman yang saya dengarkan?” Apakah saya semakin mengasihi, mengampuni, rendah hati, jujur, dan peduli kepada sesama?

Kabar baik Injil hari ini ialah bahwa tanah dapat diolah kembali. Keadaan hati kita sekarang bukanlah keadaan yang harus berlangsung selamanya. Karena itu doa kita hari ini sangat sederhana: “Tuhan, olahlah kembali tanah hatiku.” Lunakkanlah bagian yang telah mengeras karena kekecewaan. Singkirkan batu kesombongan dan keinginan untuk selalu benar. Cabutlah duri kebencian, kecemasan, iri hati dan keterikatan yang mengambil terlalu banyak ruang dalam hati. Gemburkanlah kembali tanah kehidupan kita agar Sabda dapat masuk lebih dalam, berakar dan menghasilkan buah. Kadang-kadang proses pengolahan itu menyakitkan. Tanah harus dibajak, batu harus diangkat dan duri harus dicabut. Demikian pula pertobatan dapat menuntut kita melepaskan sesuatu, mengakui kesalahan, meminta maaf, mengampuni, atau mengubah kebiasaan. Tetapi justru melalui proses itulah Allah membuat hati kita kembali subur.

Dan di sinilah kita menemukan tugas penting pelayanan Kristiani: menyediakan tanah yang subur tempat Tuhan menaburkan Sabda-Nya. Kita bukan pemilik benih dan bukan pula sumber pertumbuhan. Allah yang menaburkan; Allah pula yang memberikan pertumbuhan. Tetapi kita dapat membantu menciptakan keadaan agar hati manusia siap menerima-Nya. Orang tua menyediakan tanah melalui kasih dan teladan bagi anak-anaknya. Guru melalui pendidikan yang penuh kesabaran. Imam dan pelayan pastoral melalui pewartaan, pendampingan dan kehidupan yang dapat dipercaya. Komunitas Kristiani menyediakan tanah ketika orang yang datang tidak langsung dihakimi, tetapi didengarkan, diterima, diteguhkan dan dituntun kepada Kristus. Jangan sampai cara kita berbicara tentang Tuhan justru membuat orang semakin jauh dari Tuhan. Pelayan yang baik tidak memaksa benih bertumbuh; ia mengolah tanah dengan kasih dan mempercayakan pertumbuhan kepada Allah.

Saudara-saudari, maka jangan pernah kehilangan harapan terhadap sebuah hati—baik hati kita sendiri maupun hati orang lain. Kalau Tuhan masih menaburkan Sabda, berarti Tuhan masih melihat kemungkinan pertumbuhan. Jangan terlalu cepat berkata, “Dia tidak mungkin berubah,” sebab mungkin tanah itu hanya membutuhkan kesabaran untuk diolah. Jangan pula berkata tentang diri sendiri, “Aku memang sudah begini,” sebab rahmat Allah masih sanggup membarui kita. Marilah kita menyediakan tanah: melalui doa, keteladanan, kesabaran, pengampunan, pendampingan dan kasih. Kemudian biarkan Tuhan menaburkan benih-Nya dan memberikan pertumbuhan. Dan setiap hari kita berdoa: “Tuhan, olahlah kembali tanah hatiku. Jadikanlah hidupku tanah yang subur bagi Sabda-Mu, dan pakailah aku untuk membantu menyediakan tanah yang baik di hati sesamaku, supaya Sabda-Mu berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah yang berlimpah.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com