
1Kor 12:31–13:13; Mzm 33; Luk 7:31–35
Peringatan Wajib: St. Kornelius Paus dan St. Siprianus Uskup/Martir
Dari Meditasi Menjadi Pengaruh: Pandanglah Kristus, Biarkan Dia Mengubah Hidupmu
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Injil hari ini menunjukkan sesuatu yang menarik: ternyata orang dapat memandang Tuhan, tetapi gagal mengenal-Nya. Orang-orang melihat Yohanes Pembaptis, tetapi karena cara hidupnya keras dan penuh askese, mereka berkata, “Ia kerasukan setan.” Kemudian datang Yesus yang makan bersama orang lain dan mendekati para pendosa, mereka pun berkata, “Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Apa pun yang dilakukan Yohanes dan Yesus, mereka selalu menemukan alasan untuk menolak. Yesus menggambarkan mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar: seruling dimainkan, mereka tidak menari; nyanyian dukacita dinyanyikan, mereka tidak menangis. Masalah mereka ternyata bukan karena Allah tidak hadir. Allah sudah hadir di depan mata mereka, tetapi hati mereka tidak bersedia dipengaruhi oleh Allah. Mereka memandang, tetapi tidak membuka hati. Mereka mendengar, tetapi tidak membiarkan Sabda mengubah kehidupan.
Di sinilah kita dapat memahami arti meditasi secara lebih mendalam. Meditasi bukan hanya memandang Tuhan, membaca Kitab Suci, berdoa Rosario, mengikuti Misa, atau duduk di hadapan Sakramen Mahakudus. Semua itu sangat penting, tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih menentukan: apakah Tuhan yang kita pandang itu mempengaruhi hidup kita? Sebab kita dapat rajin berdoa tetapi tetap menyimpan dendam; rajin mengikuti Misa tetapi tetap mudah menghakimi; membaca Kitab Suci tetapi tetap mempertahankan kesombongan. Meditasi yang sejati berarti mengarahkan mata dan hati kepada Tuhan dan memberi-Nya kesempatan untuk membentuk kita. Karena itu, dalam doa jangan hanya berkata, “Tuhan, dengarkanlah aku,” tetapi juga, “Tuhan, berbicaralah kepadaku. Tunjukkan apa yang harus berubah dalam diriku.” Jangan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan di sekitar kita; izinkanlah Tuhan terlebih dahulu mengubah hati kita.
Hal ini sangat penting pada zaman digital sekarang. Setiap hari mata kita memandang begitu banyak hal: layar telepon, TikTok, Facebook, Instagram, YouTube, berita, iklan, komentar dan kehidupan orang lain. Dan ada sebuah hukum sederhana dalam kehidupan: apa yang terus-menerus kita pandang perlahan-lahan akan mempengaruhi kita. Jika terus memandang kemarahan, hati mudah menjadi marah. Jika terus mengikuti gosip, kita mulai menikmati kelemahan orang lain. Jika terus membandingkan hidup dengan orang lain, kita kehilangan rasa syukur. Karena itu pertanyaannya bukan hanya, “Berapa lama saya melihat layar hari ini?”, tetapi, “Siapa yang sedang membentuk hati saya melalui apa yang saya lihat?” Orang beriman perlu belajar mengarahkan kembali pandangannya kepada Kristus. Kita tidak harus melarikan diri dari dunia digital; justru kita dipanggil hadir di dalamnya dengan hati yang sudah lebih dahulu dibentuk oleh Tuhan. Sebelum membuka dunia melalui layar setiap pagi, alangkah indahnya bila kita terlebih dahulu membuka hati kepada Tuhan. Biarlah Kristus menjadi pengaruh pertama sebelum begitu banyak suara lain mempengaruhi kita.
Lalu bagaimana kita mengetahui apakah kita sungguh telah dipengaruhi Kristus? Bacaan pertama memberikan ukurannya: kasih. Paulus berkata, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” Bahkan iman yang luar biasa, pengetahuan yang hebat dan pengorbanan besar kehilangan maknanya jika tidak menghasilkan kasih. Lalu Paulus memberi ukuran yang sangat konkret: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu; tidak memegahkan diri dan tidak sombong; tidak mencari keuntungan diri sendiri; tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.” Maka setelah berdoa, pertanyaan kita jangan hanya, “Apakah doa saya terkabul?” Ada pertanyaan yang lebih transformatif: “Menjadi manusia seperti apakah saya karena doa saya?” Apakah saya semakin sabar terhadap pasangan dan anak-anak? Semakin murah hati kepada orang kecil? Semakin mudah meminta maaf? Semakin sedikit menghakimi? Semakin mampu mengampuni? Jika kita terus memandang Kristus, perlahan-lahan sesuatu dari Kristus seharusnya mulai terlihat dalam diri kita.
Saudara-saudari, di sinilah setiap orang Kristiani sebenarnya dipanggil menjadi influencer—bukan terutama dalam arti memiliki banyak followers, melainkan menjadi pribadi yang menghadirkan pengaruh baik. Seorang ayah adalah influencer bagi anak-anaknya. Seorang ibu mempengaruhi suasana rumahnya. Guru mempengaruhi muridnya. Anak-anak muda mempengaruhi teman-temannya. Bahkan melalui satu pesan WhatsApp, satu komentar, satu unggahan, satu percakapan, kita dapat membawa orang kepada damai atau kemarahan, harapan atau keputusasaan, persatuan atau perpecahan. Maka orang Kristiani dipanggil menjadi jembatan: melalui perkataan kita, orang menemukan penghiburan; melalui tindakan kita, orang mengalami kebaikan; melalui media sosial kita, orang menemukan harapan; melalui cara kita mengampuni, orang melihat wajah Allah yang Maharahim. Kita tidak perlu membuat semua orang memandang kita. Justru semakin Kristiani hidup kita, semakin kita mampu berkata seperti Yohanes Pembaptis: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Kita menjadi jembatan agar perhatian orang tidak berhenti pada kita, tetapi sampai kepada Kristus.
Maka hari ini marilah kita membawa pulang satu perjalanan sederhana: memandang Kristus – membiarkan Kristus mempengaruhi hati – berubah – lalu membawa pengaruh Kristus kepada orang lain. Jangan sampai kita seperti orang-orang dalam Injil yang melihat Yohanes dan Yesus tetapi tidak pernah berubah. Marilah kita meminta rahmat supaya setiap Misa, setiap doa, setiap Sabda yang kita dengarkan membuat sedikit demi sedikit hidup kita semakin menyerupai Kristus. Dunia sudah dipenuhi begitu banyak orang yang berkata, “Lihatlah aku, ikutilah aku, dengarkanlah aku.” Orang Kristiani dipanggil menghadirkan arah yang berbeda: “Mari kita memandang Kristus.” Semoga mata kita memandang-Nya, hati kita dibentuk oleh-Nya, perkataan kita membawa kasih-Nya, tangan kita membangun jembatan, dan kehidupan kita membuat orang lain ingin semakin dekat kepada-Nya. Dari meditasi menuju transformasi, dari transformasi menuju kesaksian, dan dari kesaksian menjadi jembatan agar orang lain kembali memandang Kristus.
Amin.