Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Jumat Pekan XXIII Masa Biasa

1Kor 9:16–19.22b–27; Mzm 84; Luk 6:39–42

Jernihkan Mata, Supaya Kita Tidak Menjadi Penuntun Buta

Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com||Yesus hari ini memakai gambaran yang hampir lucu, tetapi sangat tajam: seseorang begitu sibuk melihat selumbar kecil di mata saudaranya, sementara ada balok besar di matanya sendiri. Gambaran ini menyentuh salah satu kelemahan manusia yang paling umum: kita sering memiliki mata yang sangat tajam terhadap kesalahan orang lain, tetapi sangat kabur terhadap kelemahan sendiri. Kita mudah mengetahui siapa yang salah, apa kekurangannya, mengapa ia bertindak demikian, bahkan merasa tahu motivasi di dalam hatinya. Anehnya, terhadap diri sendiri kita mempunyai seribu alasan dan pembenaran. Karena itu Yesus tidak pertama-tama meminta kita menjadi ahli menemukan kesalahan orang lain. Ia mengajak kita memiliki keberanian yang jauh lebih sulit: melihat diri sendiri dalam terang Tuhan.

Yang menarik, persoalannya kadang-kadang bukan bahwa apa yang kita lihat pada orang lain sama sekali salah. Mungkin memang ada selumbar di mata saudara kita. Ada kelemahan yang sungguh perlu diperbaiki, kesalahan yang perlu ditegur, bahkan dosa yang harus ditinggalkan. Tetapi persoalannya ialah: apakah mata yang melihatnya cukup jernih? Hati yang dipenuhi iri hati akan melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Hati yang terluka mudah menafsirkan perbedaan sebagai penghinaan. Hati yang sombong melihat kelemahan sesama sebagai bukti bahwa dirinya lebih baik. Hati yang menyimpan dendam bahkan dapat menggunakan kebenaran untuk membalas. Maka sebelum bertanya, “Apa yang salah dengan dia?”, Injil mengajak kita bertanya, “Apa yang sedang terjadi di dalam hati saya ketika saya melihat dia?” Kita mungkin benar mengenai kesalahannya, tetapi belum tentu benar dalam cara kita melihatnya.

Itulah sebabnya Yesus memberikan peringatan kedua: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” Ini menjadi sabda yang sangat serius bagi siapa pun yang mempunyai tanggung jawab menuntun orang lain: orang tua, guru, pemimpin, imam, pelayan Gereja, bahkan siapa saja yang gemar memberi nasihat. Kita tidak dapat membawa orang kepada jalan yang kita sendiri tidak mau jalani. Sulit mengajarkan pengampunan sambil memelihara dendam; sulit menyerukan kerendahan hati sambil haus penghormatan; sulit mengajak orang hidup dalam persaudaraan kalau kita sendiri suka membangun kelompok dan perpecahan. Karena itu seorang penuntun Kristiani bukan orang yang merasa dirinya sudah melihat semuanya dengan sempurna. Justru semakin besar tanggung jawab kita untuk menuntun, semakin besar kebutuhan kita untuk berkata: “Tuhan, bukalah mataku terlebih dahulu.”

Bacaan pertama memperlihatkan sikap yang berlawanan dengan penuntun buta. Paulus mempunyai kewibawaan sebagai rasul, tetapi ia berkata, “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” Paulus tidak menempatkan dirinya di atas orang yang dilayaninya; ia rela turun dan mendekati mereka. Di sinilah perbedaan antara menghakimi dan menuntun. Menghakimi berdiri dari kejauhan dan menunjuk kesalahan; menuntun mendekat dan menunjukkan jalan. Menghakimi ingin membuktikan, “Saya benar”; menuntun bertanya, “Bagaimana saudara saya dapat kembali?” Menghakimi menikmati selumbar orang lain; kasih berusaha mengeluarkannya dengan tangan yang lembut. Paulus mengajarkan bahwa pewartaan Injil bukan soal memenangkan diri sendiri, tetapi memenangkan manusia bagi Kristus.

Maka doa kita hari ini seharusnya bukan pertama-tama, “Tuhan, bukalah mata orang lain supaya mereka melihat kesalahannya,” tetapi, “Tuhan, bukalah mataku supaya aku melihat diriku sebagaimana Engkau melihatku.” Keluarkanlah balok kesombongan, iri hati, dendam, prasangka, luka dan keinginan selalu benar yang mengaburkan pandanganku. Sebab ketika Kristus menjernihkan mata kita, kita tidak akan menjadi buta terhadap kesalahan sesama; kita justru akan melihatnya dengan cara baru—bukan untuk menghukum, tetapi menyembuhkan; bukan untuk mempermalukan, tetapi memulihkan; bukan untuk menjatuhkan, tetapi menuntun. Dunia sudah mempunyai terlalu banyak orang yang pandai menunjukkan selumbar. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang cukup rendah hati untuk membersihkan matanya sendiri dan kemudian menjadi jembatan yang menuntun sesama kepada Kristus.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com