
Rumah Gereja Prebysterian di desa Ringalabasan, Distrik Medinipur, Negara bagian Benggala, India (Foto: Supplied)
Pendeta Diduga Diculik, Gereja Rumah Dirusak Massa
Komsoskam.com||BENGGALA BARAT, INDIA — Dua insiden kekerasan terhadap komunitas Kristen dilaporkan terjadi di Benggala Barat, India, Minggu (6/9/2026). Dalam dua kejadian terpisah, seorang pendeta Protestan diduga diculik saat memimpin ibadat doa dan sebuah gereja rumah Presbiterian dirusak massa.
Kedua insiden tersebut terjadi di wilayah Medinipur Barat dan Medinipur Timur, di tengah meningkatnya ketegangan yang melibatkan komunitas Kristen di negara bagian bagian timur India itu.
Pendeta Dibawa Paksa
Sekitar pukul 11.00 waktu setempat, sekitar 25 orang diduga mendatangi secara paksa sebuah rumah Kristen di Desa Nandapurya, Distrik Medinipur Barat.
Saat itu, Pendeta Sukhendu Singh sedang memimpin ibadat doa bagi umat Kristen dari delapan keluarga yang berasal dari sejumlah desa di sekitarnya.
“Mereka mengancam Pendeta Sukhendu Singh dan membawanya secara paksa,” kata Purna Hembram, seorang saksi mata Kristen, kepada UCA News, Senin (7/9/2026).
Menurut Victor Behera, koordinator Bangiya Christiya Pariseba atau Bengal Christian Council, sebuah organisasi ekumenis, Singh kemudian dibawa ke sebuah kantor lokal Partai Bharatiya Janata (BJP), partai yang berkuasa di wilayah tersebut.
Di tempat itu, Singh diduga mengalami kekerasan dan penyiksaan.
Singh baru dibebaskan pada Minggu malam setelah diduga dipaksa menandatangani surat pernyataan. Dalam surat tersebut, ia berjanji tidak lagi mengunjungi desa-desa untuk memimpin ibadat doa.
Behera juga mengatakan Singh dipaksa menyampaikan kepada umat Kristen bahwa agama Kristen merupakan agama asing dan mereka seharusnya kembali memeluk agama Hindu.
Pernyataan tersebut, menurut Behera, direkam dalam sebuah video.
Pengacara Samarjeet Dey kini membantu para korban mengajukan laporan kepada kepolisian.
Gereja Rumah Dirusak
Insiden kedua terjadi pada Minggu pagi di Desa Rangilabasan, Distrik Medinipur Timur.
Sekitar 125 orang diduga mendatangi dan merusak sebuah rumah yang digunakan sebagai tempat ibadat komunitas Presbiterian.
Sebagian besar jemaat telah meninggalkan lokasi setelah ibadat pagi selesai ketika massa tiba-tiba memasuki rumah tersebut.
“Untungnya, sebagian besar jemaat sudah meninggalkan tempat itu setelah ibadat pagi selesai. Setelah itu, massa yang berjumlah sekitar 125 orang tiba-tiba masuk secara paksa ke rumah tersebut,” kata Chhabi Das, anggota Gereja Presbiterian yang menyaksikan kejadian itu.
Massa diduga merusak berbagai bagian bangunan yang sementara digunakan sebagai tempat ibadat. Sebuah salib juga dilaporkan dipatahkan menjadi empat bagian.
Selain merusak tempat ibadat, massa diduga menyerang Tapan Samanta, seorang umat Kristen yang rumahnya digunakan untuk kegiatan doa.
Menurut Das, pihak kepolisian setempat sebenarnya telah mendapat pemberitahuan tertulis secara rutin mengenai jadwal ibadat Minggu yang dilaksanakan di lokasi tersebut.
Sejumlah perempuan dari lingkungan sekitar kemudian mendatangi rumah itu setelah mendengar keributan dan berusaha menghentikan aksi massa.
Namun, mereka dan Samanta diduga diseret ke kantor polisi setempat. Mereka kemudian dibebaskan.
Gereja Minta Penyelidikan
Pendiri sekaligus sekretaris Bengal Christian Council, Herod Mullick, menyatakan keprihatinannya atas berulangnya gangguan terhadap kegiatan ibadat umat Kristen.
“Meski pemerintah daerah terus memberikan jaminan, gangguan dan serangan yang berulang selama ibadat doa pada hari Minggu tetap sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Kanselir Keuskupan Agung Kalkuta, Pastor Dominic Gomes, mengecam kekerasan, intimidasi, dan tindakan yang dianggap menodai tempat ibadat.
Menurut Gomes, tindakan semacam itu tidak dapat diterima dan harus dikutuk.
Ia mendesak kepolisian dan pemerintah distrik melakukan penyelidikan secara cepat dan tidak memihak, serta menangkap pihak-pihak yang bertanggung jawab tanpa memandang identitas maupun afiliasi mereka.
Gomes juga meminta pemerintah memastikan keamanan para korban dan komunitas Kristen setempat.
Kekhawatiran Kekerasan Anti-Kristen
Juru bicara All India Catholic Union, John Dayal, mengatakan frekuensi dan intensitas kekerasan terhadap umat Kristen di Benggala Barat telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Ia memperingatkan bahwa Benggala Barat berisiko mengikuti jejak Chhattisgarh, Odisha, dan Uttar Pradesh, yang menurutnya termasuk negara bagian dengan catatan kekerasan anti-Kristen terburuk di India.
Dayal juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai sikap diam Kepala Menteri Benggala Barat, Suvendu Adhikari, dan Menteri Dalam Negeri Pemerintah Federal India.
Menurut dia, kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan di kalangan umat Kristen bahwa kekerasan tersebut mendapat dukungan dari pejabat pemerintah tingkat tinggi dan BJP, partai yang dikenal memiliki orientasi nasionalisme Hindu.
Namun, tuduhan mengenai keterlibatan atau dukungan pejabat pemerintah dan BJP tersebut masih merupakan klaim yang disampaikan oleh pihak-pihak yang dikutip dalam laporan ini dan memerlukan verifikasi melalui penyelidikan resmi.
(Mikhael Gonsalves, UCA NEWS, 07 September 2026