
PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
Mi 5:1–4a; Mzm 13; Mat 1:1–16.18–23
Menjadi Jembatan agar Kristus Lahir di Dunia
Komsoskam.com|| Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Dalam doa liturgis Pesta Kelahiran St. Perawan Maria, Gereja memandang kelahiran Maria dengan sukacita karena kelahirannya menjadi fajar keselamatan: melalui Maria, Kristus Sang Matahari Keadilan akan datang ke dunia. Tentu Maria bukan sumber keselamatan—Kristuslah satu-satunya Juruselamat—tetapi Allah berkenan menjadikan hidup Maria sebagai jalan yang melaluinya Sang Juruselamat memasuki sejarah manusia. Maka hari ini kita tidak hanya merayakan kelahiran seorang pribadi suci. Kita merayakan sebuah kehidupan yang sejak awal dipersiapkan Allah untuk menjadi jembatan: melalui rahimnya Yang Ilahi masuk ke dalam kemanusiaan kita; melalui kesediaannya Sabda menjadi daging; melalui fiat-nya, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu,” Kristus hadir di tengah dunia. Maria seakan mengajarkan kepada kita: hidup menjadi sangat berarti ketika kita membiarkan Allah memakai diri kita sebagai jalan agar Kristus sampai kepada orang lain.
Injil hari ini menampilkan silsilah Yesus yang panjang. Nama demi nama, generasi demi generasi, sampai akhirnya kita mendengar: “Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” Silsilah ini sesungguhnya adalah kisah tentang jembatan-jembatan kecil yang dibangun Allah sepanjang sejarah. Abraham menjadi jembatan janji, Daud menjadi jembatan pengharapan, para nabi menjadi jembatan Sabda, Yusuf menjadi jembatan ketaatan, dan Maria menjadi jembatan yang melaluinya Kristus menerima kemanusiaan kita. Tidak semuanya sempurna. Bahkan dalam silsilah itu terdapat sejarah manusia yang terluka, berdosa dan rumit. Tetapi Allah terus bekerja melalui semuanya sampai janji-Nya mencapai kepenuhannya dalam Kristus. Ini memberikan harapan besar: Allah tidak menunggu sejarah kita sempurna untuk mulai bekerja melalui kita. Ia hanya membutuhkan hati yang bersedia menyerahkan hidup kepada-Nya.
Maria menjadi jembatan bukan karena ia mempunyai kekuasaan atau kedudukan besar. Ia menjadi jembatan karena ia menyediakan dirinya bagi Allah. Inilah rahasia Maria. Ia tidak menarik perhatian kepada dirinya sendiri; ia membawa manusia kepada Kristus. Di Kana ia berkata, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.” Dalam seluruh hidupnya Maria seakan berkata: “Jangan berhenti pada saya; pergilah kepada Putraku.” Inilah ciri seorang jembatan: orang melewatinya untuk sampai ke seberang. Jembatan tidak dibangun supaya orang berhenti dan mengaguminya. Demikian pula pelayanan Kristiani. Imam, orang tua, guru, pemimpin, katekis, religius, pelayan Gereja—kita bukan tujuan akhir. Kita adalah jalan. Pertanyaan pentingnya bukan, “Berapa banyak orang mengagumi saya?”, tetapi “Berapa banyak orang menjadi lebih dekat kepada Kristus melalui hidup saya?” Kita tidak dipanggil membuat diri kita semakin penting; kita dipanggil membuat Kristus semakin mudah ditemukan.
Tetapi menjadi jembatan selalu mempunyai harga. Jembatan menghubungkan dua sisi yang berjauhan. Maria berada di antara rencana Allah dan ketidakpastian manusia. Ia harus membawa sebuah misteri yang bahkan Yusuf pada awalnya tidak mengerti. Yusuf pun harus menjadi jembatan. Ketika seluruh perhitungannya seakan runtuh, malaikat berkata, “Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu.” Ia menaati Tuhan dan menyediakan rumah bagi Maria serta Yesus. Maka Maria dan Yusuf mengajarkan bahwa menjadi jembatan membutuhkan kerendahan hati, keberanian dan pengorbanan. Dalam keluarga, mungkin kita dipanggil menjadi jembatan antara dua saudara yang tidak lagi berbicara. Dalam komunitas, antara kelompok yang saling mencurigai. Dalam masyarakat, antara mereka yang berbeda suku, agama, budaya atau status sosial. Dalam Gereja, antara generasi tua dan muda, antara pusat dan pinggiran, antara mereka yang kuat dan mereka yang terlupakan. Jangan menjadi tembok yang memperbesar jarak; jadilah jembatan yang memungkinkan perjumpaan.
Namun ada sesuatu yang lebih dalam. Kita tidak hanya dipanggil menjadi jembatan antara manusia dengan manusia, tetapi menjadi jalan agar Kristus lahir kembali di tengah dunia. Kristus ingin lahir di rumah yang kehilangan damai melalui pengampunan yang kita berikan. Kristus ingin lahir di tengah orang miskin melalui tangan yang kita ulurkan. Kristus ingin lahir dalam diri orang yang kesepian melalui waktu yang kita berikan untuk mendengarkan. Kristus ingin lahir di tengah konflik melalui keberanian kita berdamai. Kristus ingin lahir di tempat kerja melalui kejujuran kita; di dunia digital melalui perkataan yang benar dan membangun; di tengah kerusakan alam melalui kepedulian kita terhadap ciptaan. Maka pertanyaannya bukan hanya, “Apakah Kristus hidup dalam diriku?” tetapi juga, “Apakah melalui diriku Kristus dapat hadir dalam kehidupan orang lain?” Maria menerima Kristus dalam dirinya, tetapi tidak menyimpan-Nya bagi dirinya sendiri. Ia membawa-Nya kepada Elisabet, menghadirkan-Nya di Kana, mengikuti-Nya sampai salib, dan berada bersama Gereja yang menerima Roh Kudus. Orang yang menerima Kristus selalu diutus membawa Kristus.
Saudara-saudari, pada pesta kelahiran Maria ini, marilah kita memohon rahmat untuk menjadi seperti dirinya: menjadi jembatan agar Kristus dapat lahir di dunia kita. Mungkin kita tidak melakukan sesuatu yang besar. Maria pun memulai semuanya dalam kehidupan Nazaret yang sederhana dan tersembunyi. Tetapi Allah sering memulai karya terbesar-Nya melalui kesetiaan yang kecil. Maka besok pagi ketika kita kembali kepada keluarga, pekerjaan, komunitas dan pelayanan, tanyakanlah: “Di mana ada jarak yang dapat saya pendekkan? Siapa yang dapat saya pertemukan kembali? Siapa yang melalui kehadiran saya dapat mengalami kasih Kristus?” Belajarlah dari Maria untuk berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”; belajarlah dari Yusuf untuk menaati Tuhan sekalipun belum memahami semuanya; dan pandanglah Kristus, Sang Emmanuel, Allah-beserta-kita. Semoga hidup kita menjadi jalan yang terbuka bagi-Nya: mendekatkan yang berjauhan, mempertemukan yang berbeda, menyambungkan yang terputus, dan terutama menjadi jembatan yang melaluinya Kristus terus “lahir” dan hadir di tengah dunia.
Amin.