Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Minggu XXII Masa Biasa

Yeh 33:7–9; Mzm 95; Rm 13:8–10; Mat 18:15–20

Menegur untuk Menyelamatkan, Bukan Menghukum”

Komsoskam.com||Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Kita hidup pada zaman ketika kesalahan seseorang dapat tersebar dalam hitungan detik. Satu foto, satu video, satu kalimat yang keliru, lalu banyak orang menjadi hakim: berkomentar, menuduh, membagikan, bahkan menghancurkan nama baik seseorang. Orang yang bersalah mungkin belum sempat menjelaskan, tetapi “pengadilan media sosial” sudah menjatuhkan vonis. Kita sering lebih cepat membagikan kesalahan orang daripada kebaikannya; lebih mudah berbicara tentang seseorang daripada berbicara kepada seseorang. Di tengah budaya seperti ini, Yesus memberikan jalan yang sangat berbeda: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Dan Yesus langsung menjelaskan tujuannya: “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali.” Perhatikan: tujuannya bukan memenangkan perdebatan, bukan membuktikan bahwa saya benar, apalagi mempermalukannya. Tujuannya adalah mendapatkan saudara kembali. Maka koreksi Kristiani bukan seni menemukan kesalahan, tetapi seni menyelamatkan saudara dan memulihkan relasi.

Mengapa kita kadang justru menikmati membicarakan kelemahan orang lain? Karena di balik gosip sering tersembunyi sesuatu dalam diri kita sendiri. Ada kesombongan: dengan menunjukkan kesalahan orang, kita merasa diri lebih baik. Ada iri hati: kejatuhan orang lain diam-diam membuat kita merasa lebih tinggi. Ada luka yang belum disembuhkan sehingga kesalahan orang lain menjadi kesempatan untuk membalas. Bahkan ada kebutuhan untuk diperhatikan: kita merasa penting karena mempunyai cerita yang belum diketahui orang lain. Karena itu sebelum bertanya, “Apa kesalahannya?”, kita perlu bertanya, “Apa yang sedang terjadi di dalam hatiku sehingga aku begitu ingin menceritakan kesalahannya?” Orang yang sungguh mengasihi tidak menikmati kejatuhan saudaranya. Kalau melihat saudaranya jatuh, ia tidak berlari mencari orang lain untuk menceritakannya; ia berlari mendekati saudaranya untuk membantunya bangkit. Kasih menutupi aib yang tidak perlu diumbar, tetapi tidak menutupi kesalahan yang perlu diperbaiki. Kasih menjaga martabat orang sekaligus berani mengatakan kebenaran.

Karena itu Yesus memberikan tahapan yang sangat bijaksana: datanglah kepada orangnya, bicaralah empat mata, dengarkanlah, dan usahakanlah pemulihan. Kalau belum berhasil, bawalah satu atau dua orang yang bijaksana; dan barulah persoalan dibawa kepada komunitas. Urutan ini penting karena Yesus ingin menjaga martabat manusia sambil tetap menangani kesalahan dengan serius. Bandingkan dengan kebiasaan kita: kadang orang yang terakhir mengetahui bahwa dirinya mempunyai masalah justru adalah orang yang bersangkutan! Semua orang sudah mengetahuinya, grup WhatsApp sudah membicarakannya, teman-temannya sudah mendiskusikannya, tetapi tidak seorang pun berani berbicara langsung kepadanya. Itu bukan koreksi fraterna. Menegur membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada bergosip. Bergosip mudah karena orangnya tidak hadir; menegur sulit karena kita harus bertemu wajah dengan wajah, mendengarkan jawabannya, dan mungkin juga menemukan bahwa kita sendiri tidak sepenuhnya benar. Karena itu koreksi persaudaraan membutuhkan dua kebajikan sekaligus: keberanian untuk mengatakan kebenaran dan kerendahan hati untuk mendengarkan kebenaran.

Bacaan pertama memperdalam tanggung jawab ini. Tuhan menjadikan Yehezkiel sebagai penjaga bagi Israel. Ketika melihat bahaya, seorang penjaga tidak boleh diam. Artinya, kasih Kristiani bukan sikap masa bodoh yang berkata, “Itu hidupnya, terserah dia.” Kalau seseorang sedang berjalan menuju kehancuran, kasih kadang menuntut kita berani mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi bacaan kedua memberikan ukuran bagi teguran itu. Paulus berkata: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Jadi ukuran terakhir sebuah teguran adalah kasih. Ada perbedaan besar antara menegur dan menghakimi. Menghakimi berkata, “Engkau orang jahat.” Menegur berkata, “Perbuatan ini tidak benar, tetapi engkau tetap saudaraku.” Menghakimi ingin orang lain kalah; menegur ingin dia bangkit. Menghakimi membuka aib; menegur menjaga martabat. Menghakimi berhenti pada kesalahan masa lalu; menegur membuka kemungkinan masa depan. Karena itu, kasih tanpa kebenaran menjadi pembiaran, tetapi kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekejaman. Dalam Kristus, kebenaran dan kasih harus berjalan bersama.

Sabda ini sangat penting bagi keluarga, komunitas, paroki, lembaga, bahkan bagi cara kita membangun Gereja yang sinodal. Kita tidak mungkin sungguh berjalan bersama kalau budaya kita adalah berbicara di belakang, membentuk kelompok, menyimpan kecurigaan, menyebarkan cerita, lalu menghindari percakapan langsung. Kita perlu membangun budaya baru: berbicara dengan orang, bukan berbicara tentang orang. Dalam keluarga, kalau ada persoalan dengan pasangan, bicaralah dengan pasangan. Dalam komunitas, kalau ada persoalan dengan seorang saudara, datanglah kepadanya. Dalam pelayanan, kalau ada sesuatu yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan jujur tetapi penuh hormat. Dan ketika seseorang datang menegur kita, jangan langsung melihatnya sebagai musuh. Mungkin melalui orang itu Tuhan sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita sadari. Sinodalitas bukan berarti tidak pernah berbeda atau berkonflik. Sinodalitas berarti kita tidak membiarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan. Kita tetap duduk bersama, mendengarkan, berbicara benar, mengampuni, dan mencari jalan untuk berjalan kembali bersama.

Saudara-saudari, sebelum menceritakan kesalahan seseorang, biasakanlah mengajukan tiga pertanyaan: Apakah saya sudah berbicara langsung kepadanya? Apakah tujuan saya sungguh ingin menyelamatkan dan memulihkannya? Apakah yang hendak saya katakan lahir dari kasih? Kalau belum, mungkin kita bukan sedang melakukan koreksi persaudaraan, tetapi sedang memperbesar luka. Yesus menutup Injil dengan janji yang indah: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kristus hadir ketika dua orang yang terluka berani duduk kembali bersama; ketika orang yang bersalah berani berkata, “Maafkan saya”; ketika orang yang disakiti berani berkata, “Saya mengampunimu”; ketika seseorang berani menegur tanpa mempermalukan dan yang ditegur berani mendengarkan tanpa membenci. Maka marilah kita mengubah budaya kita: dari membicarakan menjadi berbicara langsung, dari mempermalukan menjadi memulihkan, dari menghakimi menjadi mendampingi, dari memenangkan perdebatan menjadi memenangkan saudara. Sebab menurut Injil, keberhasilan sebuah teguran bukanlah ketika kita dapat berkata, “Ternyata saya benar,” melainkan ketika Kristus dapat berkata, “Saudaramu telah engkau dapatkan kembali.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com