Romo Vimal Trimanna dari Srilangka memimpin diskusi selama 3 hari dalam pertemuan Tim Sinodal Nasional di Bangkok pada tanggal 02 September 2026 (Foto: rvasia.org)
Pertemuan tim sinodal nasional dari berbagai negara Asia di Bangkok menekankan pentingnya sinodalitas yang praktis dan membumi, bukan menjadi program baru yang justru menambah beban keuskupan.
Komsoskam.com|| BANGKOK — Tim-tim sinodal nasional di Asia diingatkan agar tidak berubah menjadi sumber beban baru bagi keuskupan. Sinodalitas hendaknya tidak diwujudkan terutama melalui program dan struktur baru, melainkan dengan membantu Gereja-gereja lokal menjawab kebutuhan pastoral yang sudah mereka hadapi.
Peringatan itu disampaikan teolog asal Sri Lanka, Romo Vimal Tirimanna, anggota Komisi Sinodalitas Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC), dalam diskusi mengenai penguatan keterlibatan sinodal, Rabu (2/9). Diskusi tersebut berlangsung pada hari kedua pertemuan tiga hari tim-tim sinodal nasional dari berbagai negara Asia di Bangkok.
Jangan Datang Membawa Program Baru
Pertemuan tersebut membahas bagaimana tim sinodal nasional dapat memberikan dukungan nyata kepada keuskupan melalui metode sinodal tanpa menambah pekerjaan administratif maupun program baru. Sinodalitas, demikian ditekankan dalam pertemuan itu, harus bergerak melampaui ruang rapat, dokumen, dan berbagai proposal. Sinodalitas perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di keuskupan dan paroki.
Karena itu, tim sinodal nasional sebaiknya tidak datang ke keuskupan dengan membawa agenda yang sudah jadi. Mereka justru perlu bertanya: Apa yang ingin dicapai oleh keuskupan? Apa kesulitan yang sedang dihadapi? Apa tujuan pastoral yang paling penting?
Dari sana, tim sinodal dapat menawarkan bantuan konkret melalui proses mendengarkan, melibatkan berbagai pihak, melakukan discernment atau penegasan bersama, serta membangun tanggung jawab bersama. Dengan pendekatan tersebut, sinodalitas tidak menjadi “program tambahan”, tetapi menjadi cara baru untuk menjalankan pelayanan pastoral yang sudah ada.
Sinodalitas Jangan Memenuhi Kalender Gereja
Para peserta menggambarkan sinodalitas sebagai “cara bekerja bersama yang ditingkatkan”, bukan sebagai satu lagi agenda yang memenuhi kalender kegiatan Gereja.
Karena itu, setiap keuskupan tidak perlu mendapatkan intervensi yang sama. Kebutuhan setiap Gereja lokal berbeda. Keterlibatan sinodal harus dimulai dari situasi konkret masing-masing keuskupan.
Prinsipnya sederhana: bukan keuskupan yang harus menyesuaikan diri dengan program sinodal, melainkan pendekatan sinodal yang harus membantu keuskupan menjawab kebutuhan pastoralnya.
Perubahan Harus Dimulai dari Seminari
Salah satu persoalan penting yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah perlunya memasukkan formasi sinodal sejak pendidikan calon imam.
Banyak imam, menurut para peserta, dibentuk terutama untuk berorientasi pada tugas: apa yang harus dikerjakan dan bagaimana pekerjaan itu diselesaikan. Namun, dalam Gereja yang semakin menekankan sinodalitas, seorang imam juga perlu memahami bagaimana mendengarkan umat, melibatkan berbagai pihak, mengambil keputusan secara bersama, dan melakukan discernment dalam komunitas.
Karena itu, pendidikan di seminari perlu memberikan perhatian lebih besar pada pembentukan budaya sinodal.
Para peserta menegaskan bahwa gambaran Gereja sebagai Umat Allah, sebagaimana ditegaskan Konsili Vatikan II, belum selalu terintegrasi secara memadai dalam pembinaan calon imam.
Sejumlah seminari memang telah mulai memasukkan unsur-unsur sinodalitas dalam formasi. Namun, menurut Tirimanna, pendekatan tersebut masih perlu diperluas agar menjadi bagian yang lebih umum dalam pendidikan calon imam di Asia.
Imam Tidak Cukup Hanya Pandai Mengelola
Formasi sinodal tidak boleh berhenti ketika seorang imam meninggalkan seminari.
Para imam yang sudah berkarya di keuskupan maupun tarekat religius membutuhkan pembinaan berkelanjutan mengenai sinodalitas. Hal ini penting karena budaya klerikal yang berkembang di kalangan imam dapat sangat memengaruhi bagaimana sebuah paroki mendengarkan, melakukan discernment, dan mengambil keputusan.
Perubahan menuju Gereja yang lebih sinodal tidak cukup dilakukan melalui dokumen atau pelatihan sesaat. Perubahan tersebut harus menyentuh cara para pelayan Gereja menjalankan kepemimpinan dan berhubungan dengan umat.
Ketika Umat Diajak Mendengarkan Bersama
Pertemuan tersebut juga membahas kemungkinan peran tim sinodal nasional dalam mendampingi proses pengambilan keputusan penting dalam kehidupan Gereja.
Salah satu peserta memberikan contoh proses pemilihan seorang uskup agung yang akan datang. Dalam situasi seperti itu, tim sinodal dapat membantu memfasilitasi pertemuan yang melibatkan imam, biarawan-biarawati, serta perwakilan umat awam.
Tujuannya bukan mengambil alih kewenangan Gereja dalam menentukan seorang pemimpin, melainkan menciptakan ruang untuk mendengarkan, berdoa, dan melakukan discernment bersama.
Tak Perlu Membuat Struktur Baru
Para peserta juga menyoroti pentingnya membawa semangat sinodalitas ke dalam program paroki yang sudah berjalan, daripada menciptakan struktur baru.
Masa Adven dan Prapaskah, misalnya, dapat menjadi kesempatan untuk menggunakan metode sederhana berupa percakapan rohani. Umat dapat saling mendengarkan dan melakukan refleksi bersama tanpa harus mengikuti format yang kaku atau menciptakan kegiatan baru.
Dengan pendekatan seperti ini, sinodalitas menjadi bagian dari kehidupan pastoral sehari-hari.
Enam Bulan, Bukan Rencana di Atas Kertas
Salah satu pesan penting pertemuan di Bangkok adalah perlunya menghasilkan tindakan yang realistis.
Tim sinodal nasional tidak didorong untuk membuat rencana besar yang akhirnya hanya berhenti di atas kertas. Sebaliknya, mereka diminta mengidentifikasi tindakan yang dapat dilakukan secara nyata dalam waktu sekitar enam bulan.
Intervensi tersebut harus realistis, berkelanjutan, dan menjawab kebutuhan pastoral yang benar-benar dirasakan oleh keuskupan.
Keberhasilan sinodalitas, karena itu, tidak terutama diukur dari banyaknya pertemuan yang diselenggarakan atau dokumen yang dihasilkan. Ukurannya adalah apakah cara Gereja mendengarkan, melakukan discernment, mengambil keputusan, dan bekerja bersama sungguh-sungguh mengalami perubahan.
Sinodalitas Bukan Program Tambahan
Pertemuan tim sinodal nasional Asia di Bangkok memperlihatkan satu kekhawatiran yang mendasar: sinodalitas jangan sampai menjadi “program baru” di tengah begitu banyak program Gereja yang sudah ada.
Tim sinodal nasional justru perlu menempatkan dirinya sebagai pendamping keuskupan. Bukan datang dengan membawa “beban tambahan dan tujuan tambahan”, tetapi membantu Gereja lokal mencapai tujuan pastoral yang memang sudah mereka miliki.
Dengan demikian, sinodalitas bukanlah pekerjaan tambahan bagi Gereja. Sinodalitas adalah cara baru untuk menjalankan misi Gereja yang sudah ada—dengan lebih banyak mendengarkan, melibatkan, melakukan penegasan bersama, dan bekerja bersama.
Bagi Gereja di Asia, tantangannya bukan sekadar bagaimana berbicara tentang sinodalitas, tetapi bagaimana membuatnya sungguh-sungguh hidup dalam keseharian keuskupan, paroki, komunitas, seminari, dan berbagai pelayanan Gereja.
(Reporter UCA News, 03 September 2026)
