
1Kor 4:1–5; Mzm 37:3–6.27–28.39–40; Luk 5:33–39
Hati yang Siap Menerima Kebaruan Kristus
Komsoskam.com|| Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Yesus hari ini memberikan gambaran yang sangat sederhana tetapi mendalam: “Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong kulit yang baru.” Anggur baru adalah kehidupan baru yang dibawa Kristus: cara baru memandang Allah, sesama, diri sendiri, pelayanan dan kehidupan. Tetapi kebaruan Kristus membutuhkan hati yang bersedia dibarui. Persoalannya sering kali bukan karena Tuhan tidak memberikan sesuatu yang baru, melainkan karena hati kita terlalu penuh dengan yang lama. Kita berkata ingin mengikuti Kristus, tetapi tetap mempertahankan dendam lama, kesombongan lama, kebiasaan lama, cara menghakimi yang lama, dan kepentingan diri yang lama. Kita ingin anggur baru, tetapi tidak mau mengganti kantong kulit yang lama. Padahal Kristus tidak datang hanya untuk menambal kehidupan lama kita. Ia datang untuk menjadikan kita manusia baru.
Menariknya, orang-orang Farisi mempertanyakan mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti kelompok mereka. Di balik pertanyaan itu terdapat bahaya menjadikan kebiasaan sendiri sebagai ukuran bagi orang lain. Karena kami melakukannya demikian, orang lain pun harus demikian; karena kami terbiasa dengan cara ini, cara lain dianggap salah. Yesus tidak menolak puasa, tetapi Ia mengembalikan semuanya kepada pusatnya: kehadiran Sang Mempelai, yaitu Kristus sendiri. Ini berarti kehidupan iman tidak boleh berhenti pada kebiasaan, aturan atau tradisi lahiriah; semuanya harus membawa kita kepada perjumpaan dengan Kristus. Kita perlu bertanya: apakah doa membuat kita semakin mengasihi? Apakah puasa membuat kita semakin peduli? Apakah pelayanan membuat kita semakin rendah hati? Apakah hidup menggereja membuat kita semakin dekat kepada Kristus? Kebiasaan rohani yang tidak mengubah hati dapat menjadi pakaian lama yang hanya kita tambal dengan simbol-simbol agama.
Bacaan pertama menunjukkan salah satu “kantong kulit lama” yang harus kita tinggalkan, yaitu kebutuhan untuk selalu dinilai baik oleh manusia dan kecenderungan menghakimi orang lain. Paulus mengatakan, “Janganlah menghakimi sebelum waktunya.” Kita begitu mudah memberi label kepada orang: dia baik, dia buruk; dia berhasil, dia gagal; dia setia, dia tidak berguna. Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya. Tuhan melihat apa yang tersembunyi dan mengenal maksud hati. Hati yang dibarui Kristus menjadi lebih rendah hati dalam menilai sesama. Ia belajar berkata, “Saya mungkin mengetahui tindakannya, tetapi saya tidak mengetahui seluruh pergumulan hatinya.” Kebaruan Kristus membuat kita lebih cepat memahami daripada menghakimi, lebih siap mendengarkan daripada menuduh, dan lebih bersemangat menolong orang bangkit daripada mengingat-ingat kegagalannya.
Paulus juga mengatakan bahwa kita adalah “pelayan-pelayan Kristus dan pengelola rahasia Allah,” dan yang dituntut dari seorang pengelola adalah kesetiaan. Ini pun membutuhkan hati yang baru. Kita bukan pemilik; kita adalah penatalayan. Hidup adalah titipan, keluarga adalah titipan, waktu adalah titipan, kemampuan adalah titipan, harta adalah titipan, bahkan jabatan dan pelayanan adalah titipan. Banyak persoalan muncul ketika kita mulai memperlakukan titipan Tuhan sebagai milik pribadi: jabatan saya, lembaga saya, kelompok saya, pelayanan saya. Hati yang baru berkata lain: “Tuhan, semuanya berasal dari-Mu. Apa yang Engkau percayakan kepadaku akan kugunakan menurut kehendak-Mu.” Karena itu seorang penatalayan tidak pertama-tama bertanya, “Berapa banyak yang saya miliki?” melainkan, “Apa yang Tuhan kehendaki saya lakukan dengan apa yang dipercayakan-Nya?”
Namun Yesus mengetahui bahwa perubahan tidak mudah. Ia mengatakan bahwa orang yang sudah terbiasa dengan anggur tua akan berkata, “Yang tua itu baik.” Kita pun sering berkata: “Saya memang begini. Dari dulu sudah begitu. Sulit berubah. Kami selalu melakukannya dengan cara ini.” Ada rasa aman dalam kebiasaan lama, bahkan ketika kebiasaan itu tidak lagi membawa kehidupan. Karena itu pembaruan Kristiani membutuhkan keberanian untuk membiarkan Tuhan mengganggu kenyamanan kita. Mungkin yang perlu dibarui bukan ajaran Kristus, tetapi cara kita mendengarkan; bukan Injil, tetapi cara kita menghidupinya; bukan orang-orang di sekitar kita, tetapi hati kita sendiri. Tradisi iman harus kita jaga dengan setia, tetapi kekerasan hati, rutinitas tanpa jiwa, kepahitan, kesombongan dan kebiasaan dosa tidak boleh kita beri nama “tradisi” hanya karena sudah lama kita pertahankan.
Saudara-saudari, marilah hari ini kita bertanya: “Apakah hatiku masih dapat menjadi kantong kulit baru bagi anggur baru Kristus?” Mungkin Tuhan sedang mengundang kita untuk memandang seseorang dengan cara baru, mengampuni luka lama, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki cara melayani, menerima gagasan yang baik dari orang lain, atau berani mengubah sesuatu dalam diri yang selama ini kita pertahankan. Jangan takut terhadap pembaruan yang berasal dari Kristus. Sebab Kristus tidak membarui kita untuk kehilangan jati diri, tetapi supaya kita semakin menjadi manusia sebagaimana Allah menghendaki. Maka berdoalah: “Tuhan, jangan hanya memberikan anggur baru-Mu kepadaku; jadikanlah juga hatiku baru. Lepaskanlah aku dari apa yang sudah tua dalam diriku: kesombongan, penghakiman, kepahitan dan kelekatan pada diri sendiri. Berilah aku hati yang lentur, rendah hati dan terbuka, agar setiap hari Engkau dapat melakukan sesuatu yang baru dalam hidupku.” Sebab Injil selalu baru; yang sering kali menjadi tua adalah hati kita. Maka biarlah Kristus membarui hati kita setiap hari.
Amin.