Merawat Bumi Dengan Kasih: Aksi Ekologis Keluarga SMP RK Bintang Timur Pematangsiantar

Ibadat pagi menjadi pintu masuk refleksi Laudato Si’ sebelum guru, pegawai, dan siswa turun bersama membersihkan lingkungan sekolah dan kawasan sekitarnya. Aksi ini membawa satu pesan: kepedulian terhadap bumi harus tumbuh dari iman, pengetahuan, kebiasaan, dan keteladanan.

Pematangsiantar – Sabtu pagi, 29 Agustus 2026, keluarga besar SMP RK Bintang Timur Pematangsiantar tidak langsung memulai kegiatan Hari Ekologis dengan sapu, karung, atau alat kebersihan. Guru, pegawai, dan siswa terlebih dahulu berkumpul dalam ibadat pagi. Dari suasana doa itulah seluruh rangkaian kegiatan dimulai: merawat bumi bukan sekadar pekerjaan membersihkan lingkungan, melainkan bagian dari tanggung jawab iman terhadap ciptaan Tuhan.

Ibadat pagi tersebut menjadi ruang untuk menanamkan nilai kerohanian kepada para siswa melalui pesan Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2015. Dalam ensiklik tentang perawatan rumah bersama itu, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi bukan barang yang dapat dipakai sesuka hati, melainkan rumah bersama yang menopang kehidupan seluruh makhluk. Karena itu, manusia dipanggil untuk mengubah cara pandang dan cara hidup: dari kebiasaan menguasai dan menghabiskan menjadi kebiasaan merawat, menghargai, serta bertanggung jawab.

Pesan Laudato Si‘ sederhana, tetapi sangat mendalam. Segala sesuatu di dunia ini saling terhubung. Kerusakan tanah, air, udara, hutan, dan lingkungan pada akhirnya akan kembali menyentuh kehidupan manusia. Sebaliknya, setiap tindakan kecil untuk merawat lingkungan juga memiliki pengaruh bagi kehidupan bersama. Paus Fransiskus bahkan mengajak umat manusia menuju ‘pertobatan ekologis’, yaitu perubahan hati yang kemudian terlihat dalam kebiasaan nyata sehari-hari: tidak boros, tidak membuang sampah sembarangan, tidak memperlakukan alam hanya sebagai benda pakai, dan berani menjaga kehidupan bagi generasi yang akan datang.

Pesan inilah yang kemudian dibawa keluar dari ruang ibadat. Setelah doa selesai, guru, pegawai, dan siswa-siswi bergerak menuju lingkungan sekolah dan kawasan di sekitarnya. Ada yang menyapu, mencabut rumput, mengumpulkan sampah, membersihkan halaman, mengangkat kotoran dari saluran air, hingga membersihkan bagian-bagian lingkungan yang selama ini mudah luput dari perhatian. Guru dan pegawai tidak sekadar memberi arahan, tetapi ikut bekerja berdampingan dengan para siswa.

Pemandangan itu menjadi pelajaran yang tidak dapat sepenuhnya diberikan melalui buku. Anak-anak melihat sendiri bahwa selembar plastik yang dibuang sembarangan tidak benar-benar ‘hilang’. Sampah itu hanya berpindah tempat: tersangkut di rumput, masuk ke parit, menghambat aliran air, atau akhirnya harus dipungut oleh orang lain. Mereka juga melihat bahwa lingkungan yang kotor tidak selalu lahir karena tidak adanya petugas kebersihan, tetapi sering kali karena kebiasaan manusia yang merasa urusan kebersihan adalah tanggung jawab orang lain.

Di tengah persoalan ekologis yang semakin nyata, pendidikan seperti ini menjadi penting. Sampah plastik masih mudah ditemukan di jalan dan saluran air. Budaya barang sekali pakai terus bertambah. Banyak saluran air berubah menjadi tempat pembuangan, sementara genangan dan banjir sering diperparah oleh sampah yang menyumbat aliran. Pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi cuaca yang semakin sulit diperkirakan dan berbagai persoalan lingkungan lain yang mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam sedang membutuhkan perhatian serius.

Krisis lingkungan memang terdengar sebagai persoalan besar, tetapi akar masalahnya sering tumbuh dari kebiasaan yang sangat kecil. Satu orang membuang satu bungkus makanan mungkin terasa sepele. Namun jika kebiasaan itu dilakukan setiap hari oleh ribuan orang, sampah akan menjadi masalah bersama. Karena itu, pendidikan ekologis harus dimulai dari pembentukan kebiasaan. Anak tidak cukup hanya mampu menjelaskan pengertian pencemaran dalam ujian; ia juga perlu memiliki kesadaran untuk tidak menjadi bagian dari penyebab pencemaran itu sendiri.

Aksi ekologis SMP RK Bintang Timur Pematangsiantar tidak dimaksudkan hanya untuk membuat lingkungan bersih pada satu hari. Kegiatan ini menjadi cara untuk mempertemukan pengetahuan, iman, dan tindakan. Ibadat pagi memberi arah batin, sedangkan kegiatan bersih-bersih memberi wujud nyata. Apa yang direnungkan dalam doa kemudian diterjemahkan melalui tangan yang memungut sampah, kaki yang turun ke pinggir saluran air, dan kemauan untuk bekerja bersama.

Keterlibatan seluruh warga sekolah juga menyampaikan pesan lain: merawat bumi tidak memiliki batas usia dan jabatan. Ketika guru, pegawai, dan siswa bekerja bersama, yang dibangun bukan hanya kebersihan, tetapi juga rasa memiliki terhadap lingkungan. Anak-anak belajar bahwa kepedulian bukan sesuatu yang cukup disuruh. Kepedulian perlu dicontohkan. Ketika orang dewasa ikut memegang sapu, mengangkat rumput, atau membersihkan saluran air, pendidikan berlangsung melalui keteladanan.

Kegiatan ini juga sengaja menyentuh lingkungan sekitar sekolah. Sebab kepedulian ekologis tidak boleh berhenti di balik pagar. Jalan, parit, rerumputan, dan ruang publik di sekitar sekolah adalah bagian dari ruang hidup bersama. Sekolah yang mendidik kepedulian tidak cukup hanya memiliki halaman yang bersih, tetapi juga perlu menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan tempat masyarakat hidup dan beraktivitas.

Bagi para siswa, pesan yang hendak ditanamkan jauh lebih besar daripada sekadar ‘jangan membuang sampah sembarangan’. Mereka sedang diajak memahami bahwa setiap pilihan memiliki akibat. Memilih membuang sampah pada tempatnya berarti ikut menjaga saluran air. Mengurangi barang sekali pakai berarti ikut mengurangi beban sampah. Menjaga tanaman berarti ikut merawat ruang hidup. Membawa kembali sampah yang belum menemukan tempat pembuangan adalah bentuk tanggung jawab. Bahkan mengingatkan teman dengan cara yang baik juga merupakan bentuk kepedulian.

Anak-anak yang hari ini membersihkan rumput dan saluran air suatu hari akan tumbuh menjadi orang dewasa. Mereka akan menjadi warga masyarakat, orang tua, pekerja, pemimpin, dan pengambil keputusan. Karena itu, kebiasaan yang dibangun hari ini sesungguhnya adalah investasi bagi masa depan. Jika sejak sekolah mereka belajar bahwa bumi adalah rumah bersama, kelak mereka diharapkan tidak mudah mengambil keputusan yang merusak lingkungan hanya demi kenyamanan sesaat.

Pesan yang sama juga ditujukan kepada masyarakat. Hari Ekologis hendaknya tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang selesai setelah dokumentasi diambil dan alat kebersihan disimpan. Semangatnya justru diuji pada hari-hari biasa, ketika tidak ada acara, tidak ada kamera, dan tidak ada orang yang mengawasi. Apakah kita tetap membuang sampah pada tempatnya? Apakah kita mau membersihkan saluran di depan rumah? Apakah kita bersedia mengurangi kebiasaan yang menghasilkan sampah berlebihan? Apakah kita masih peduli ketika sampah yang kita lihat bukan berasal dari tangan kita sendiri?

Merawat bumi tidak harus selalu dimulai dengan program besar. Ia dapat dimulai dari rumah, ruang kelas, halaman sekolah, parit di depan rumah, pasar, tempat ibadah, dan jalan yang setiap hari kita lalui. Perubahan ekologis membutuhkan kebijakan yang baik, tetapi juga membutuhkan perubahan perilaku. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Masyarakat tidak dapat hanya menunggu pemerintah, sementara pemerintah juga tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa kebiasaan hidup yang bertanggung jawab dari warganya.

Melalui tema ‘Merawat Bumi dengan Kasih’, keluarga besar SMP RK Bintang Timur Pematangsiantar ingin menegaskan bahwa kasih kepada Tuhan dan sesama juga harus tampak dalam cara manusia memperlakukan ciptaan. Bumi yang bersih, air yang mengalir tanpa tersumbat sampah, udara yang lebih sehat, dan lingkungan yang terawat bukan hanya perkara keindahan. Semuanya menyangkut kualitas hidup manusia, terutama anak-anak yang akan mewarisi keadaan bumi dari generasi hari ini.

Pada akhirnya, kegiatan pagi itu meninggalkan satu pelajaran sederhana namun kuat: bumi tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya mengeluhkan kerusakannya. Bumi membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil bagian untuk merawatnya. Ibadat mengajarkan arah, sementara aksi memberi bukti. Dari doa menuju jalan, dari renungan menuju sapu dan karung sampah, para siswa belajar bahwa iman tidak berhenti pada kata-kata.

Jika ada satu pesan yang patut dibawa pulang oleh setiap anak dan setiap orang yang membaca kisah ini, pesannya adalah ini: jangan menunggu bumi menjadi semakin rusak untuk mulai peduli. Mulailah dari sesuatu yang ada di depan mata. Satu sampah yang dipungut, satu kebiasaan yang diubah, satu saluran air yang dijaga, dan satu ajakan baik yang diteruskan kepada orang lain mungkin terlihat kecil. Namun dari tindakan-tindakan kecil itulah budaya baru dapat tumbuh – budaya yang tidak hanya memakai bumi, tetapi mencintai dan merawatnya sebagai rumah bersama.

*Bronson Zemi Tanjung, S.Pd (Guru SMP RK Bintang Timur Pematangsiantar)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com