
2Tes. 3:6–10.16–18; Mzm. 128; Mat. 23:27–32
Menjembatani Jarak antara Iman dan Kehidupan
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com|| Injil hari ini kembali memperlihatkan teguran keras Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi: “Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang-belulang.” Persoalan yang ditunjukkan Yesus adalah adanya jarak: jarak antara yang tampak dari luar dan kenyataan di dalam; antara perkataan dan perbuatan; antara kesalehan yang diperlihatkan dan hati yang sesungguhnya. Jarak terbesar dalam kehidupan beriman bukanlah jarak geografis antara manusia dengan Allah, melainkan jarak antara iman yang kita ucapkan dengan kehidupan yang kita jalankan.
Kita semua hidup dalam tegangan jarak itu. Kita mengatakan, “Aku percaya kepada Allah yang Mahakasih,” tetapi kadang sulit mengasihi. Kita berdoa, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni,” tetapi masih menyimpan dendam. Kita memberikan salam damai dalam Ekaristi, tetapi mungkin ada orang yang tidak mau kita sapa. Kita berbicara tentang persaudaraan, tetapi masih membangun kelompok dan sekat. Kita mengatakan bahwa semua manusia adalah saudara, tetapi masih mudah menghakimi dan merendahkan. Semakin jauh jarak antara apa yang kita imani dengan apa yang kita hidupi, semakin besar bahaya kemunafikan. Inilah yang dikritik Yesus.
Namun Yesus tidak menegur untuk menghancurkan. Ia menegur karena ingin memulihkan kesatuan hidup kita. Kristus datang sebagai jembatan yang menyambungkan kembali apa yang telah dipisahkan oleh dosa: manusia dengan Allah, manusia dengan sesama, dan bahkan manusia dengan dirinya sendiri. Karena itu pertobatan berarti membiarkan Kristus memperpendek jarak tersebut. Mungkin selama hidup di dunia kita tidak pernah mampu menghilangkan seluruh jarak antara cita-cita iman dan kenyataan hidup. Tetapi setiap hari kita dapat memperpendeknya. Hari ini sedikit lebih sabar daripada kemarin. Hari ini lebih berani mengampuni. Hari ini lebih jujur. Hari ini perkataan kita semakin sesuai dengan tindakan. Itulah perjalanan pertobatan.
Bacaan pertama memberikan contoh yang sangat konkret melalui Santo Paulus. Paulus tidak hanya berkata kepada umat agar bekerja; ia sendiri berkata, “Kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.” Di sini jarak antara perkataan dan perbuatan dipersempit. Paulus mengajar melalui teladan hidup. Inilah integritas Kristiani: yang kita katakan, itulah yang kita perjuangkan untuk kita lakukan. Doa menjadi tindakan; iman menjadi pelayanan; Ekaristi menjadi kasih; Sabda menjadi kehidupan. Dunia sekarang mungkin tidak terlalu membutuhkan banyak orang yang pandai berbicara tentang kebaikan. Dunia membutuhkan saksi—orang yang hidupnya membuat perkataannya dapat dipercaya.
Karena itu setiap orang Kristen dipanggil menjadi penghubung. Mulailah dari dalam diri sendiri: hubungkan doa dengan tindakan, iman dengan kehidupan, perkataan dengan perbuatan. Kemudian jadilah penghubung bagi sesama. Kalau ada dua orang yang renggang, jangan memperlebar jurang dengan gosip; bangunlah jembatan dengan dialog. Kalau ada yang terluka, jangan menambah lukanya dengan penghakiman; dekatilah dengan belas kasih. Kalau ada konflik dalam keluarga, jangan sibuk menentukan siapa yang menang; bantulah mereka menemukan jalan berdamai. Kalau ada yang menjauh dari Tuhan dan Gereja, jangan lebih dahulu menghakiminya; jadilah jalan yang membuatnya berani pulang. Murid Kristus bukan pembangun tembok, tetapi pembangun jembatan.
Saudara-saudari, hari ini marilah kita bertanya: jarak apa yang masih harus dijembatani dalam hidup saya? Jarak antara doa dan kehidupan? Antara perkataan dan perbuatan? Antara saya dengan Tuhan? Antara saya dengan seseorang yang pernah melukai saya? Jangan takut mengakui jarak itu. Justru kesadaran itulah awal pertobatan. Datanglah kepada Kristus dan biarkan Dia menjadi jembatan. Kemudian mintalah rahmat supaya kita sendiri menjadi penghubung bagi sesama. Perpendeklah jarak antara iman dan kehidupan, antara altar dan kehidupan sehari-hari, antara kasih yang kita ucapkan dan kasih yang kita lakukan. Semakin kecil jarak itu, semakin nyata Kristus hidup dalam diri kita.
Amin.