Siapakah Maria? Mengapa Gereja Begitu Menghormatinya?

Ilustrasi perjamuan di Kana, Maria Ibu Yesus dan  Mukjizat Pertama oleh Yesus Kristus

Jika Yesus adalah Pusat Iman Kita,Mengapa Gereja Begitu Menghormati Maria?

Pernahkah kita bertanya, mengapa nama Maria begitu dekat dengan kehidupan umat Katolik? Kita menjumpainya dalam doa Rosario, perayaan liturgi, lagu-lagu Gereja, dan berbagai bentuk devosi.

Namun, jika Yesus adalah pusat iman kita, mengapa Gereja begitu menghormati Maria?

Pertanyaan ini penting. Sebab, penghormatan kepada Maria tidak pernah menggantikan tempat Yesus. Justru sebaliknya, Maria selalu berkaitan erat dengan Kristus dan karya keselamatan-Nya. Mengenal Maria berarti juga semakin memahami hubungan dan perannya dalam karya keselamatan yang berpusat pada Kristus.

Maria: Perempuan yang Mengatakan “Ya” kepada Allah

Maria bukan sekadar tokoh dalam tradisi Gereja. Ia adalah perempuan yang hadir dalam kisah keselamatan sebagaimana diceritakan dalam Kitab Suci.

Ketika malaikat Gabriel menyampaikan bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Yesus, Maria menerima panggilan itu dengan iman. Dengan penuh kepercayaan, ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah.

Jawaban Maria sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat besar: ia bersedia menerima kehendak Allah dalam hidupnya.

Karena itu, Maria bukan hanya dikenal sebagai ibu Yesus, tetapi juga sebagai teladan iman bagi Gereja. Konsili Vatikan II menyebut Maria sebagai anggota Gereja yang unggul dan istimewa sekaligus teladan iman dan kasih.

Teladan Maria tetap relevan bagi kehidupan kita. Kita mungkin tidak menerima panggilan seperti Maria, tetapi setiap hari kita dihadapkan pada pilihan untuk percaya atau ragu, mengikuti kehendak Allah atau keinginan sendiri.

Maria mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang mengenal Allah, tetapi juga tentang keberanian untuk berkata “ya” kepada-Nya.

Mengapa Gereja Menghormati Maria?

Gereja menghormati Maria karena Allah memberinya peran istimewa dalam sejarah keselamatan. Maria adalah ibu Yesus, Putra Allah yang menjadi manusia.

Karena itu, Gereja mengakui Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos).

Gelar ini bukan berarti Maria lebih tinggi daripada Allah. Sebaliknya, gelar tersebut menegaskan kebenaran iman bahwa Yesus yang dilahirkan Maria sungguh adalah Putra Allah yang menjadi manusia.

Maka, ketika Gereja menghormati Maria, perhatian kita tidak berhenti pada Maria. Penghormatan kepada Maria selalu berkaitan dengan Kristus dan karya keselamatan Allah yang dikerjakan melalui-Nya.

Dengan kata lain, Maria tidak mengambil tempat Yesus. Maria justru menunjukkan kepada kita siapa Yesus.

Maria Justru Mengarahkan Kita kepada Kristus

Gereja memberikan penghormatan khusus kepada Maria, tetapi penghormatan itu berbeda dari penyembahan yang hanya ditujukan kepada Allah Tritunggal.

Karena itu, menghormati Maria bukan berarti menempatkannya sejajar dengan Yesus atau menyembahnya sebagai Allah.

Maria dihormati karena rahmat Allah yang bekerja dalam dirinya dan karena perannya yang istimewa dalam karya keselamatan yang berpusat pada Kristus.

Semakin kita memahami Maria, semakin kita diarahkan kepada Yesus.

Hal ini tampak jelas dalam peristiwa di Kana. Ketika terjadi kekurangan anggur, Maria berkata kepada para pelayan:

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
(Yohanes 2:5)

Pesan Maria tersebut sederhana, tetapi sangat mendalam. Ia tidak mengarahkan perhatian kepada dirinya sendiri. Ia justru mengarahkan para pelayan kepada Yesus: dengarkan Dia dan lakukan apa yang dikatakan-Nya.

Inilah salah satu gambaran penting tentang Maria dalam kehidupan iman Gereja. Maria membawa kita kepada Kristus.

Lalu, Apa Itu Dogma?

Di titik ini, kita mungkin bertanya: apa sebenarnya yang dimaksud dengan dogma Maria?

Secara sederhana, dogma adalah ajaran iman yang ditetapkan Gereja secara definitif untuk menegaskan kebenaran yang bersumber dari Wahyu Allah.

Dogma bukanlah aturan tambahan yang dibuat untuk memperumit iman. Sebaliknya, dogma membantu umat memahami dan menghayati kebenaran iman dengan lebih jelas.

Karena itu, ketika Gereja berbicara tentang dogma Maria, Gereja sedang membantu umat memahami siapa Maria dan bagaimana perannya dalam kaitannya dengan Kristus serta karya keselamatan Allah.

Gereja Katolik memiliki empat dogma utama tentang Maria. Keempatnya saling berkaitan dan membantu kita memahami pribadi serta peran Maria dalam karya keselamatan Allah.

Empat Dogma Maria

1. Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos)

Gereja mengakui Maria sebagai Bunda Allah karena Yesus yang dilahirkannya sungguh adalah Putra Allah yang menjadi manusia.

Gelar Theotokos, yang berarti “Bunda Allah” atau “Yang Melahirkan Allah”, terutama menegaskan identitas Yesus. Maria adalah ibu dari Yesus Kristus, dan Yesus Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia.

Karena itu, penghormatan kepada Maria tidak dapat dipisahkan dari iman kepada Kristus.

2. Maria Tetap Perawan

Gereja mengimani Maria sebagai tetap perawan dalam kaitannya dengan misteri kelahiran dan identitas Yesus Kristus.

Keperawanan Maria merupakan bagian dari iman Gereja mengenai karya Allah dalam kelahiran Yesus dan menegaskan bahwa kelahiran Kristus merupakan karya Allah yang istimewa.

3. Maria Dikandung Tanpa Noda

Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda mengajarkan bahwa sejak awal keberadaannya, Maria, oleh rahmat Allah, dibebaskan dari dosa asal karena jasa Yesus Kristus.

Dengan demikian, Maria tetap membutuhkan keselamatan dari Allah. Hanya saja, rahmat keselamatan Kristus diterapkan kepadanya secara istimewa sejak awal keberadaannya.

Dogma ini menunjukkan betapa besar rahmat Allah yang bekerja dalam diri Maria.

4. Maria Diangkat ke Surga

Gereja mengimani bahwa setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, Maria diangkat ke dalam kemuliaan surga dengan jiwa dan raganya.

Dogma ini mengarahkan perhatian kita kepada tujuan akhir kehidupan manusia: persatuan dengan Allah dalam kemuliaan.

Maria menjadi tanda harapan bagi Gereja bahwa keselamatan yang dijanjikan Allah pada akhirnya membawa manusia kepada kehidupan yang penuh bersama-Nya.

Keempat dogma ini akan kita kenali lebih dalam dalam tulisan-tulisan berikutnya.

Namun, satu hal penting perlu selalu kita ingat: Maria bukan pusat iman yang baru. Pusat iman kita tetaplah Yesus Kristus.

Maria Menunjukkan Jalan kepada Kristus

Mungkin sekarang pertanyaan awal kita mulai menemukan jawabannya: mengapa Gereja begitu menghormati Maria?

Dalam diri Maria, Gereja melihat seorang perempuan yang mengambil bagian secara istimewa dalam karya keselamatan Allah. Ia menerima kehendak Allah, menjadi ibu Yesus, menyertai-Nya dalam perjalanan hidup-Nya, dan tetap setia dalam iman.

Namun, Maria tidak pernah menempatkan dirinya sebagai tujuan akhir iman.

Hidupnya justru selalu mengarahkan kita kepada Kristus.

Maria mengajarkan iman melalui kehidupannya: iman yang percaya, rendah hati, taat, dan terbuka terhadap kehendak Allah.

Karena itu, semakin kita mengenal Maria, semakin kita diarahkan kepada Kristus. Menghormati Maria bukan sekadar mengagumi sosoknya, tetapi juga meneladani iman, kerendahan hati, ketaatan, dan keterbukaannya kepada Allah.

Konsili Vatikan II pun menegaskan bahwa penghormatan yang benar kepada Maria mendorong umat untuk mengenal keutamaannya dan meneladani kebajikan-kebajikannya.

Maria Bukan Sekadar Sosok yang Kita Hormati

Maria bukan sekadar tokoh dalam sejarah keselamatan. Ia adalah teladan tentang bagaimana seorang manusia menjawab kasih dan panggilan Allah dengan seluruh hidupnya.

Di tengah dunia yang sering mengajarkan kita untuk mengandalkan diri sendiri dan mengejar pengakuan, Maria mengajarkan keberanian untuk percaya, kerendahan hati, dan kesetiaan kepada Allah.

Karena itu, pertanyaan “Siapa itu Maria?” tidak cukup dijawab hanya dengan mengatakan bahwa ia adalah ibu Yesus.

Maria adalah perempuan yang mengambil bagian secara istimewa dalam karya keselamatan Allah dan menjadi teladan iman bagi Gereja. Namun, semuanya tetap harus dipahami dalam hubungannya dengan Kristus.

Maria tidak membawa kita menjauh dari Yesus. Sebaliknya, hidupnya mengajarkan kita untuk semakin dekat kepada-Nya.

Dari sinilah perjalanan kita mengenal empat dogma Maria dimulai.

Mengapa Maria disebut Bunda Allah? Apa yang dimaksud dengan Maria Tetap Perawan? Mengapa Gereja mengimani Maria Dikandung Tanpa Noda? Dan apa makna Maria Diangkat ke Surga?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan kita temukan jawabannya dalam tulisan-tulisan selanjutnya.

Pada akhirnya, mengenal Maria bukan berarti mengalihkan pandangan kita dari Kristus. Justru melalui Maria, kita belajar untuk semakin mengenal, mengasihi, dan mengikuti Yesus.

Maria menunjukkan jalan kepada Kristus. Dan seperti di Kana, pesannya kepada kita tetap sama:

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
(Yohanes 2:5)

 

*Anggi Manik

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com