Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Minggu XXI Pekan Biasa

Yes. 22:19–23; Mzm. 138; Rm. 11:33–36; Mat. 16:13–20

Membuka Pintu, Membangun Jembatan Keselamatan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Injil hari ini dimulai dengan pertanyaan Yesus yang sangat pribadi: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Pertanyaan ini penting karena cara kita mengenal Kristus akan menentukan cara kita menjalankan perutusan-Nya. Jika kita mengenal Kristus secara keliru, kita pun dapat menjalankan misi secara keliru. Karena itu sebelum Yesus memberikan tugas kepada Petrus, Ia terlebih dahulu membawa Petrus kepada pengenalan akan diri-Nya. Kita harus mengenal wajah Kristus yang sejati agar dapat menghadirkan wajah-Nya secara benar kepada dunia.

Wajah Kristus yang sejati adalah wajah Dia yang datang untuk membuka jalan keselamatan dan membangun kembali jembatan antara Allah dan manusia, serta antara manusia dengan sesamanya. Seluruh kehidupan Yesus adalah gerakan mendekatkan kembali mereka yang terpisah. Ia mendekati orang berdosa yang dijauhi, menyentuh orang sakit yang dianggap najis, duduk makan bersama mereka yang disingkirkan, berbicara dengan orang yang dianggap asing, mengampuni orang berdosa, dan mencari domba yang hilang. Puncaknya adalah salib. Di sana Kristus memperdamaikan manusia dengan Allah dan sesamanya. Karena itu, semakin sungguh kita mengenal Kristus, semakin kita seharusnya menjadi pembangun jembatan, bukan pembangun tembok; orang yang mempertemukan, bukan memisahkan; orang yang membuka jalan, bukan menutup jalan.

Bacaan pertama memberikan simbol yang sangat kuat, yaitu kunci. Kepada Elyakim Tuhan mempercayakan kunci keluarga Daud: “Apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” Dalam Injil, Yesus berkata kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Kunci adalah lambang kepercayaan dan tanggung jawab. Tetapi ada sesuatu yang sederhana yang tidak boleh kita lupakan: fungsi utama kunci adalah membuka. Kunci diberikan bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk membuka pintu. Demikian juga kuasa dan tanggung jawab dalam Gereja diberikan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk membuka jalan agar manusia berjumpa dengan Allah.

Karena itu, Gereja harus terus bertanya: pintu apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dibuka? Bukalah pintu bagi orang yang sedang mencari Tuhan. Bukalah jalan pulang bagi mereka yang sudah lama menjauh dari Gereja. Bukalah ruang pengampunan bagi orang berdosa yang ingin bertobat. Bukalah pintu harapan bagi keluarga yang hampir menyerah. Bukalah ruang persaudaraan bagi orang yang merasa tidak diterima. Bukalah jalan rekonsiliasi bagi mereka yang sedang bermusuhan. Bukalah hati terhadap orang miskin, orang sakit, orang tua, orang muda, dan mereka yang terlupakan. Gereja menjadi semakin menyerupai Kristus ketika kehadirannya membuat orang berkata, “Ternyata masih ada jalan pulang; ternyata saya masih mempunyai saudara; ternyata Allah belum meninggalkan saya.”

Tetapi untuk membuka pintu, sering kali kita harus terlebih dahulu membangun jembatan. Ada begitu banyak jurang dalam kehidupan sekarang: antara suami dan istri, orang tua dan anak, generasi tua dan generasi muda, kaya dan miskin, kelompok yang berbeda, bahkan antara umat dengan Gereja. Jurang itu semakin lebar oleh prasangka, gosip, luka masa lalu, kesombongan dan keinginan selalu merasa benar. Murid Kristus tidak dipanggil berdiri di satu sisi jurang sambil berteriak kepada mereka yang berada di seberang. Murid Kristus dipanggil membangun jembatan. Jembatan itu bernama mendengarkan, dialog, pengampunan, belas kasih, kesabaran dan keberanian mengambil langkah pertama untuk berdamai.

Dan kita harus berhati-hati: kunci yang seharusnya membuka dapat dipakai untuk menutup; agama yang seharusnya menjadi jembatan dapat berubah menjadi tembok. Hal itu terjadi ketika kita merasa lebih suci daripada orang lain, mudah menghakimi, menolak orang karena masa lalunya, atau menggunakan jabatan dan aturan bukan untuk menuntun tetapi untuk menguasai. Tentu membuka pintu bukan berarti mengatakan bahwa semuanya boleh dan semuanya benar. Kristus sendiri memanggil manusia kepada pertobatan. Tetapi Ia selalu membuka jalan menuju pertobatan. Ia tidak berkata kepada orang berdosa, “Tetaplah dalam dosamu,” tetapi juga tidak berkata, “Tidak ada lagi tempat bagimu.” Ia berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Kebenaran menunjukkan jalan; belas kasih memberi kekuatan untuk berjalan di atasnya.

Maka tugas membuka pintu dan membangun jembatan bukan hanya milik Petrus, Paus, uskup, imam atau pengurus Gereja. Setiap orang yang dibaptis dipanggil mengambil bagian dalam misi Kristus. Orang tua dapat menjadi jembatan yang membawa anak kepada Tuhan. Guru menjadi jembatan bagi masa depan muridnya. Kaum muda dapat menjadi jembatan persahabatan di tengah lingkungan yang mudah mengucilkan. Kita semua dapat menjadi jembatan rekonsiliasi dalam keluarga dan komunitas. Karena itu pertanyaan yang sangat konkret hari ini adalah: karena kehadiran saya, apakah orang semakin dekat atau semakin jauh? Apakah saya membuka pintu atau menutupnya? Apakah saya mempertemukan atau memisahkan? Jangan sampai kita membawa nama Kristus tetapi membangun tembok yang tidak pernah dibangun Kristus.

Saudara-saudari, Yesus hari ini kembali bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawablah bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan kehidupan. Jika kita mengakui Dia sebagai Mesias, marilah meneruskan misi-Nya: membuka jalan keselamatan dan membangun jembatan perjumpaan. Peganglah “kunci” yang Tuhan percayakan kepada kita bukan sebagai tanda kehormatan, melainkan sebagai tanggung jawab untuk membuka. Bukalah pintu pengampunan, pengharapan, persaudaraan, pertobatan dan jalan pulang kepada Allah. Sebab semakin kita mengenal wajah Kristus yang sejati, semakin kita menjadi pembuka jalan, bukan penutup jalan; pembangun jembatan, bukan pembangun tembok. Dan melalui jembatan kehidupan kita, semoga semakin banyak orang dapat menemukan jalan menuju Kristus, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com