Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Senin Pekan XXVII Masa Biasa

Gal 1:6-12; Mzm 111:1-2.7-10c; Luk 10:25-37

Menjadi Sesama: Menunjukkan Belas Kasih kepada yang Membutuhkan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Siapakah sesamaku?” Pertanyaan itu tampaknya baik, tetapi di baliknya ada keinginan menentukan batas: siapa yang termasuk sesama dan siapa yang tidak; kepada siapa saya mempunyai kewajiban mengasihi dan kepada siapa saya tidak perlu atau merasa tidak bertanggung jawab. Yesus tidak memberikan daftar. Ia menceritakan seseorang yang dirampok, dipukuli dan ditinggalkan setengah mati. Seorang imam melihatnya tetapi lewat; seorang Lewi juga melihatnya tetapi lewat. Lalu datang seorang Samaria-justru orang yang dianggap asing-dan ketika melihat orang yang terluka itu, hatinya tergerak oleh belas kasih. Ia mendekat, membalut lukanya, membawa ke penginapan dan menanggung biaya perawatannya. Pada akhir cerita Yesus membalik pertanyaan ahli Taurat. Bukan lagi, “Siapakah sesamaku?”, tetapi: “Siapakah yang telah menjadi sesama bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawabannya: “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.”

Di sinilah letak pembalikan Injil: sesama bukan terutama orang yang berada dekat dengan kita; menjadi sesama adalah keputusan untuk mendekati orang yang membutuhkan kita. Imam dan orang Lewi sebenarnya berada dekat secara fisik. Mereka melihat korban itu, tetapi mengambil jarak. Orang Samaria mungkin jauh secara suku, agama dan sejarah, tetapi justru ia mendekat. Jadi jarak yang sesungguhnya bukan geografis, bukan ras, buka suku, warna kulit bentuk rambut, minat dan latar yg berbeda, melainkan ketiadaan belas kasih. Kita dapat tinggal serumah tetapi tidak menjadi sesama; duduk sebangku di gereja tetapi tidak menjadi sesama; bekerja sekantor tetapi tidak menjadi sesama. Sebaliknya, seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal dapat menjadi sesama ketika penderitaannya menggerakkan kita untuk berhenti, mendekat dan menolong. Karena itu Yesus tidak meminta kita sibuk menentukan, “Apakah dia sesamaku?” Ia mengundang kita bertanya, “Dapatkah aku menjadi sesama baginya?”

Menariknya, orang Samaria itu tidak berhenti pada perasaan kasihan. Kita yang berbelaskasih ini tidak hanya mempunyai hati, tetapi juga mempunyai kaki, tangan, waktu, tenaga, bahkan biaya. Ia melihat, tergerak, mendekat, membalut, mengangkat, membawa, merawat dan membayar. Inilah belas kasih Kristiani: penderitaan orang lain masuk ke dalam hidup kita dan membuat kita melakukan sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita tidak menemukan orang setengah mati di pinggir jalan Yerikho. Tetapi ada banyak orang yang “tergeletak” di sepanjang jalan kehidupan kita: orang tua yang kesepian, keluarga yang sedang kesulitan, tetangga yang sakit, orang miskin yang membutuhkan pertolongan, anak yang membutuhkan perhatian, orang yang terluka oleh perkataan, migran yang kehilangan perlindungan, atau seseorang yang hanya membutuhkan orang yang bersedia mendengarkan. Pertanyaannya sederhana: apakah saya melewati mereka, atau saya bersedia berhenti, berbelaskasih, bergerak mengadakan aksi, bahkan mengorbankan waktu dan biaya?

Bacaan pertama membantu kita memahami bahwa belas kasih seperti inilah yang tidak boleh dipisahkan dari Injil. Paulus memperingatkan jemaat Galatia supaya tidak mengganti Injil Kristus dengan “injil lain”. Baginya Injil bukan hasil rekayasa manusia, melainkan diterima dari Yesus Kristus. Dan Injil yang benar harus terlihat dalam kehidupan. Bait Pengantar Injil memberikan ukurannya: kita diperintahkan untuk saling mengasihi sebagaimana Kristus telah mengasihi kita. Maka iman tidak cukup hanya mengetahui hukum kasih. Ahli Taurat mengetahui jawabannya dengan benar; imam dan Lewi pun orang-orang religius. Namun Yesus menutup perumpamaan bukan dengan berkata, “Engkau sekarang sudah mengerti,” melainkan: “Pergilah dan lakukanlah demikian.” Injil berpindah dari pengetahuan kepada tindakan, dari kepala kepada hati, dan dari hati kepada tangan.

Saudara-saudari, mungkin pertobatan yang diminta Tuhan hari ini sangat sederhana: berhentilah menentukan siapa yang layak menjadi sesamaku, dan mulailah menjadi sesama bagi siapa pun yang membutuhkan belas kasih. Jangan bertanya terlebih dahulu apa sukunya, agamanya, kelompoknya, apakah ia menyukai kita, atau apakah suatu hari ia dapat membalas kebaikan kita. Orang Samaria tidak menanyakan semua itu kepada orang yang terluka. Ia hanya melihat seorang manusia yang membutuhkan pertolongan. Itulah sebabnya belas kasih dapat menjadi jembatan yang melampaui batas-batas yang kita bangun. Maka ketika kita keluar dari perayaan Ekaristi ini, bawalah satu pertanyaan: “Siapa yang Tuhan tempatkan di jalan hidupku hari ini supaya aku menjadi sesama baginya?” Dan ketika kita menemukannya, jangan lewat dari seberang jalan. Berhentilah. Mendekatlah. Dengarkanlah. Bantulah. Sebab menurut Yesus, menjadi sesama berarti menjadi orang yang menunjukkan belas kasih kepada yang membutuhkan. “Pergilah, dan lakukanlah demikian.”
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com