
Artis Singapura Sharda Harrison, 38 tampil sebagai St. Clara dalam drama perayaan 800 tahun di sebuah paroki,Singapura, 17 Oktober 2026 (foto:supplied)
Kemiskinan yang dihayati Santa Klara bukan sekadar hidup tanpa memiliki harta benda, melainkan menanggalkan ego dan kesombongan serta semakin menggantungkan diri kepada Allah.
Komsoskam.com || SINGAPURA – Dapatkah seseorang hidup tanpa memiliki apa pun di tengah salah satu kota paling makmur di dunia? Bagi seniman Singapura, Sharda Harrison (38), jawabannya dapat ditemukan dalam kehidupan Santa Klara dari Assisi, seorang perempuan abad ke-13 yang meninggalkan kekayaan dan hak istimewanya demi mengikuti Kristus.
Melalui sebuah pertunjukan teater, Harrison mengajak masyarakat merenungkan kembali makna hidup sederhana, kemiskinan, dan kesetiaan dalam mengikuti Kristus. Ia tidak hanya menulis naskah dan menyutradarai pementasan tersebut, tetapi juga memerankan Santa Klara.
Pertunjukan itu dipentaskan pada 16 dan 17 Oktober di Gereja Santa Maria dari Para Malaikat (Church of St. Mary of the Angels), sebuah paroki yang dikelola para Fransiskan di Bukit Batok, Singapura. Pementasan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan memperingati 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi pada 1226.
Ketika ditanya bagaimana Santa Klara akan menjawab orang-orang Singapura yang meragukan kemungkinan hidup tanpa kepemilikan di tengah masyarakat yang serba berkecukupan, Harrison memberikan jawaban tegas.
“Klara mungkin akan berkata: tinggalkan semuanya. Bahkan di Singapura sekalipun. Tinggalkan kehidupan lamamu dan masuklah ke dalam kemiskinan. Sebab, melalui kemiskinan dan cinta kepada Kristus, kamu akan memperoleh jauh lebih banyak daripada yang kamu lepaskan,” ujarnya.
Namun, Harrison menegaskan bahwa pesan pertunjukan tersebut bukanlah ajakan agar setiap orang mengikuti secara harfiah pilihan hidup miskin secara radikal seperti Santa Klara.
“Intinya adalah menjadikan Kristus sebagai cermin dan melihat sejauh mana kita dapat mencerminkan sifat-sifat Kristus dalam kehidupan kita,” kata seniman yang juga bekerja sebagai pendidik seni itu.
Menemukan spiritualitas Santa Klara
Harrison mengaku tertarik pada sosok Santa Klara karena keberaniannya meninggalkan kehidupan nyaman dan memilih jalan hidup yang sepenuhnya berpusat pada Kristus. Ia terutama terpesona oleh spiritualitas Klara yang dikenal sebagai gazing at Christ, yakni memandang dan mengarahkan seluruh hidup kepada Kristus.
Awalnya, Harrison hampir tidak mengenal kehidupan Santa Klara. Ketika penyelenggara meminta agar ia membuat pertunjukan tentang Santa Klara, bukan lagi tentang Santo Fransiskus, ia harus memulai proses kreatifnya dengan mempelajari kehidupan dan spiritualitas sang santa.
Seorang imam Fransiskan, Pastor Derrick Yap, yang bertugas sebagai kustos para saudara Fransiskan di Malaysia, Singapura, dan Brunei, meminjamkan sejumlah buku tentang Santa Klara kepadanya. Harrison juga mendiskusikan naskah pertunjukan tersebut dengan seorang imam Fransiskan di Malaysia. asilnya adalah sebuah pementasan yang menghubungkan spiritualitas abad pertengahan dengan persoalan kehidupan masyarakat modern.
Salah satu adegan, misalnya, menggambarkan para pria yang ingin meminang Klara melalui aplikasi kencan daring. Penonton diajak membayangkan situasi tersebut dengan memilih menggeser layar ke kiri atau ke kanan, seperti yang lazim dilakukan pengguna aplikasi kencan saat ini.
Caroline David (62), seorang konselor sekaligus umat Paroki Santa Maria dari Para Malaikat, menilai pendekatan kontemporer tersebut membantu penonton memahami kehidupan Santa Klara yang terpaut jauh dari zaman sekarang. Dalam salah satu adegan lainnya, Klara menantang penonton membayangkan kehidupan tanpa memiliki apa pun.
“Tidak punya uang, tidak punya suami, tidak punya istri, tidak punya tanah atau properti, bahkan tidak punya sepatu untuk dikenakan.”Bagi Harrison, kemiskinan yang dihayati Santa Klara jauh melampaui persoalan ketiadaan materi.”Kemiskinan adalah proses menanggalkan ego dan kesombongan kita bersama,” tulisnya dalam jawaban tertulis.
Kemiskinan sebagai perjalanan batin
Harrison mengakui bahwa proses mempersiapkan pertunjukan tersebut juga menjadi pengalaman rohani yang mendalam baginya.Di tengah kesibukannya menulis naskah, menyutradarai, dan memainkan tokoh utama, ia tetap bekerja penuh waktu di sebuah sekolah inklusif yang melayani peserta didik neurodivergen, sekaligus mengasuh anaknya yang baru berusia satu tahun.Pengalaman menjalani berbagai tanggung jawab tersebut membuatnya sedikit banyak memahami makna kemiskinan dalam perspektif spiritual.
“Saya akan semakin bersandar kepada Allah, semakin menyerahkan diri kepada-Nya, dan semakin percaya kepada-Nya,” katanya.Harrison sendiri baru menjadi seorang Katolik pada 2024. Pada tahun yang sama, ia juga terlibat dalam pertunjukan teater berjudul St Thérèse: The Little Way, yang mengangkat spiritualitas Santa Teresia dari Lisieux.
Pemahamannya tentang kemiskinan dan kesederhanaan juga semakin diperdalam melalui keterlibatannya bersama Pastor Rowland Yeo, seorang imam Fransiskan tunarungu yang memerankan Santo Fransiskus dalam pertunjukan tersebut.Kehadiran Pastor Rowland menuntut seluruh pemain dan kru untuk menyesuaikan cara berkomunikasi selama latihan. Mereka bekerja sama dengan June Ang, seorang penerjemah bahasa isyarat yang berpengalaman dalam pertunjukan langsung.Harrison bahkan memasukkan bahasa isyarat ke dalam penampilannya sendiri.
Bekerja bersama imam Fransiskan tersebut membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih lembut, lebih peka, lebih baik hati, dan lebih sabar. Ia juga semakin menyadari bahwa sebuah pertunjukan seni harus dapat diakses dan dinikmati oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas.
Memiliki lebih sedikit, bukan berarti tidak memiliki apa-apa
Bagi sebagian penonton, pesan Santa Klara menghadirkan tantangan tersendiri untuk mengevaluasi gaya hidup dan kebiasaan konsumsi sehari-hari.Angela Wong (73), seorang pensiunan profesor universitas sekaligus umat Paroki Santa Maria dari Para Malaikat, mengakui bahwa dirinya belum tentu mampu mengikuti pilihan hidup Santa Klara secara utuh.
“Saya rasa saya belum mampu sepenuhnya mengikuti pilihan Klara. Saya mungkin bisa memiliki lebih sedikit, tetapi bukan berarti tidak memiliki apa-apa,” katanya.Sementara itu, Caroline David mulai mempertanyakan kebiasaan konsumtif yang selama ini dianggap biasa. Ia, misalnya, merenungkan apakah seseorang benar-benar membutuhkan sepasang sepatu tambahan, atau justru uang untuk membeli sepatu tersebut dapat digunakan membantu orang lain yang lebih membutuhkan.
Bagi Wong, pertunjukan itu tidak mengubah pandangannya terhadap Santa Klara maupun Santo Fransiskus. Namun, pementasan tersebut kembali mengingatkannya akan pentingnya mendekatkan diri kepada Allah dan tidak membiarkan diri teralihkan oleh hal-hal duniawi.
David pun berharap dapat terus memelihara refleksi batin tentang makna dan keutamaan kemiskinan.
“Saya ingin terus melanjutkan percakapan batin ini tentang keutamaan kemiskinan, sampai suatu hari saya dapat berkata, ‘Saya hampir sampai pada tahap itu’,” ujarnya.Pada akhirnya, bagi Harrison, menghadirkan Santa Klara ke atas panggung bukan sekadar menceritakan seorang perempuan yang meninggalkan segala sesuatu demi Kristus. Lebih dari itu, ia ingin mengajak masyarakat modern bertanya: apa yang sebenarnya dituntut oleh teladan Santa Klara dari orang-orang yang memiliki jauh lebih banyak daripada yang mereka butuhkan?Hingga kini, belum ada rencana untuk mementaskan kembali drama tersebut. Namun, ketika ditanya apakah pertunjukan itu berpeluang dipentaskan lagi, Harrison menjawab singkat, “Kami berharap demikian.”