9
Penelitian Lembaga Riset Psikiatri Pakistan “the Pakistan Psychiatric Sosiety (PPS) menemukan bahwa hampir 25,5 persen orang dewasa mengalami gangguan mental (Foto:Shutterstock)
Survei nasional terbaru di Pakistan mengungkapkan, 32,3 persen orang dewasa hidup dengan gangguan mental atau perilaku yang dapat didiagnosis secara klinis. Stigma sosial, tekanan ekonomi, dan minimnya kesadaran membuat banyak orang memilih menyembunyikan penderitaan mereka.
Komsoskam.com|| Pada bulan November 2024, Dr. Maria keluar dari ruang kerja atasannya dengan pikiran yang kacau. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang lengang, tetapi hampir tidak menyadari ke mana langkah kakinya menuju.Setibanya di area parkir yang sepi, kedua kakinya terasa begitu lemah. Lututnya tiba-tiba tak mampu menopang tubuhnya. Ia pun terjatuh.
“Saat itu, yang saya tahu hanyalah saya tidak bisa bernapas. Saya merasakan sakit di bagian dada,” tutur Maria, seorang dokter berusia 24 tahun yang meminta agar identitasnya hanya disebut dengan satu nama.“Saya tahu bahwa keputusan untuk mengatakan tidak kepada atasan saya menjadi pemicu semuanya. Namun, apa yang terjadi setelah saya meninggalkan ruangannya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya lupakan ataupun saya ubah,” katanya kepada UCA News. Maria membutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari bahwa pengalaman tersebut merupakan serangan panik (panic attack) pertamanya.
“Peristiwa itu memicu rangkaian kejadian yang kemudian berkembang menjadi serangan panik berulang. Saya bahkan tidak mampu mengenali apa yang sedang terjadi pada diri saya sampai Juli 2025,” kenangnya. Pengalaman Maria memperlihatkan bahwa gangguan kesehatan mental dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dan profesi di bidang kesehatan.
Kesadaran kesehatan mental masih rendah
Ketidakmampuan Maria mengenali gejala yang dialaminya mencerminkan persoalan yang lebih luas di Pakistan, yakni masih terbatasnya kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental.
Survei kesehatan mental nasional pertama yang representatif terhadap populasi Pakistan, yang diterbitkan pada September, mengungkapkan bahwa 32,3 persen orang dewasa mengalami gangguan mental atau perilaku yang dapat didiagnosis secara klinis. Sementara itu, 37,9 persen responden pernah mengalami gangguan serupa sepanjang hidup mereka. Penelitian tersebut dilakukan oleh para peneliti yang mewakili Pakistan Psychiatric Society (PPS), dengan melibatkan 17.773 orang dewasa dari empat provinsi di Pakistan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan neurotik dan gangguan yang berkaitan dengan stres merupakan kategori paling banyak ditemukan. Kelompok gangguan ini dialami oleh 24,5 persen orang dewasa. Pengalaman serupa dalam memahami pergulatan emosional juga dialami Sehar Fazal. Sejak kecil, ia kerap merasa kesulitan memahami mengapa lingkungan di sekitarnya begitu kuat memengaruhi kondisi emosionalnya.
“Pada usia 28 tahun, saya masih mengalami fase-fase kesedihan, kecemasan, dan perasaan kewalahan secara emosional,” ujarnya.Melalui berbagai informasi dan penelitian yang dibacanya di internet, Fazal mulai mengenali pola respons emosional dalam dirinya serta memahami bagaimana pengalaman masa lalu memengaruhi kehidupannya saat ini.Menurutnya, tekanan keluarga menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi kesehatan mental seseorang.
“Harapan keluarga mengenai gaya hidup, pendidikan, keuangan, pernikahan, dan hubungan pribadi memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental, terutama ketika harapan tersebut tidak sejalan dengan aspirasi pribadi seseorang,” katanya. Terbatasnya kesempatan kerja dan ketidakstabilan ekonomi juga menimbulkan ketidakpastian serta kecemasan.
“Ketakutan mengecewakan keluarga semakin menambah beban emosional,” tambah Fazal. Temuan survei nasional tersebut juga memperlihatkan adanya hubungan antara gangguan kesehatan mental dan kondisi sosial ekonomi. Pengangguran berkaitan dengan kemungkinan lebih tinggi mengalami gangguan mental dan perilaku. Sebaliknya, tingkat pendidikan dan pendapatan yang lebih tinggi berkaitan dengan kemungkinan yang lebih rendah.
Takut dicap dan disalahpahami
Selain tekanan sosial dan ekonomi, stigma masyarakat menjadi penghalang besar bagi mereka yang ingin mengungkapkan persoalan kesehatan mental. Menurut Syed Tabraiz Bukhari, seorang psikolog klinis, banyak orang dengan gangguan mental di Pakistan berusaha menyembunyikan kondisi yang mereka alami.
“Orang-orang dengan gangguan kesehatan mental di Pakistan biasanya berusaha menyembunyikan atau menutupi keadaan mereka,” jelasnya.Mereka mungkin bersedia menceritakan pergulatan batinnya kepada sahabat dekat, tetapi cenderung enggan membicarakannya dengan keluarga sendiri karena takut mendapat stigma dan dicap negatif.
Ketakutan serupa juga muncul di lingkungan kerja maupun lembaga pendidikan. Seseorang yang mengungkapkan masalah kesehatan mentalnya khawatir akan dianggap tidak kompeten atau tidak mampu menjalankan tanggung jawab.Bukhari juga menyoroti persoalan biaya sebagai hambatan untuk memperoleh pertolongan profesional. Menurutnya, seorang psikolog berpengalaman dapat mengenakan biaya sekitar 11–18 dollar AS untuk satu sesi konsultasi. Jumlah tersebut tidak terjangkau bagi sebagian masyarakat.Seorang perawat berusia 24 tahun dari Lahore, yang meminta identitasnya dirahasiakan, menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh pergulatan emosional.
“Sejak kecil, saya selalu merasa seperti orang yang tidak cocok dengan lingkungan saya. Ada hari-hari ketika semuanya terasa normal, bahkan lebih baik dari biasanya. Namun, pada hari-hari lainnya, semuanya terasa begitu menyesakkan,” tuturnya.Ia menggambarkan kondisi yang dialaminya seolah-olah seperti penyakit kronis mematikan yang telah dideritanya sejak lahir.
“Ke mana pun saya pergi dan apa pun yang saya lakukan, saya merasa tidak akan pernah bisa melarikan diri darinya.” Namun, yang paling menyakitkan bukan semata-mata pergulatan batin tersebut, melainkan ketiadaan seseorang yang bisa diajak berbicara. Ia merasa seolah-olah semua orang di sekitarnya hidup normal, sementara dirinya harus menghadapi persoalan yang tidak dipahami orang lain.Bahkan, muncul pertanyaan dalam dirinya: mengapa harus menjadikan persoalan pribadi sebagai beban orang lain?
Ia pernah mencoba berbicara dengan orangtuanya dan beberapa orang yang dianggap dapat memberikan pertolongan.Namun, respons yang diterimanya justru membuatnya semakin merasa sendirian.
“Orang-orang di sekitar saya sepertinya berpikir bahwa jika masalah kesehatan saya tidak terlihat secara fisik, berarti masalah itu sebenarnya tidak ada,” kenangnya.
Iman dan komunitas sebagai sumber pengharapan
Pengalaman berbeda dialami Kashan Gill, seorang pria berusia 27 tahun. Seiring bertambahnya usia, ia merasa semakin sulit terhubung secara emosional dengan berbagai situasi yang dihadapinya. Persoalannya bukan hanya kesulitan mengendalikan emosi, tetapi juga ketidakmampuannya mengungkapkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya.
“Kemampuan saya untuk merasakan sesuatu seolah-olah menghilang. Namun, pada saat-saat tertentu, saya justru merasakan kemarahan yang luar biasa besar di dalam diri saya,” ungkapnya.Kesulitan mengungkapkan penderitaan emosional dan menemukan tempat untuk memperoleh dukungan menjadi persoalan penting bagi masyarakat. Hal ini disampaikan Pendeta Sajid Azeem, seorang pendeta sekaligus psikolog klinis yang memimpin Gracewell, sebuah inisiatif kesehatan mental dari Grace Believers Society Pakistan.
Menurut Azeem, sebuah penelitian terhadap orang dewasa Kristen di Lahore, Karachi, dan Faisalabad menemukan bahwa semakin tinggi stigma yang dirasakan seseorang, semakin besar pula tekanan psikologis yang dialaminya.
Penelitian tersebut juga mengidentifikasi komunitas iman dan gereja sebagai salah satu sumber dukungan emosional. Meskipun demikian, sejumlah peserta penelitian juga melaporkan adanya pergulatan spiritual dalam kehidupan mereka.Azeem menegaskan bahwa iman dapat memberikan kekuatan bagi seseorang untuk menghadapi penderitaan, tetapi pendampingan spiritual tidak boleh menggantikan pertolongan profesional.
“Iman dapat menjadi sumber pengharapan, makna hidup, rasa memiliki, dan dukungan nyata. Namun, pendampingan spiritual tidak boleh mempermalukan orang yang sedang menderita, menyalahkan mereka atas keadaan yang dialami, ataupun menyatakan bahwa doa saja dapat menggantikan pertolongan profesional,” katanya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan yang menyeluruh terhadap kesehatan mental. Dukungan spiritual, penerimaan komunitas, dan pelayanan profesional perlu berjalan bersama.Azeem mendorong peningkatan kesadaran masyarakat yang tidak berhenti pada pemahaman teoretis, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Setiap orang seharusnya dapat berbicara mengenai penderitaan yang dialaminya tanpa takut dipermalukan. Setiap komunitas juga harus memiliki jalan yang jelas untuk membantu mereka memperoleh dukungan,” tambahnya.
Mendengarkan tanpa menghakimi
Bagi Dr. Maria, serangan panik masih terus berulang selama ia bekerja di rumah sakit. Keadaan mulai membaik setelah ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya.Kini, ia mulai mengenali pola-pola yang memicu kecemasan dalam dirinya. Ia juga pernah disarankan menggunakan obat untuk mengatasi gangguan kecemasan, meskipun saat ini ia masih berusaha mengelolanya tanpa obat-obatan.
Pengalaman Maria, Fazal, Gill, dan sejumlah orang lainnya memperlihatkan bahwa gangguan kesehatan mental bukan sekadar persoalan pribadi. Ada faktor lingkungan, keluarga, pekerjaan, kondisi ekonomi, stigma sosial, dan keterbatasan akses pelayanan profesional yang ikut membentuk pengalaman seseorang.Di tengah situasi tersebut, masyarakat membutuhkan ruang yang aman bagi setiap orang untuk mengungkapkan pergulatan batinnya tanpa takut dicap lemah, tidak normal, atau kurang beriman.
Keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, komunitas sosial, dan komunitas keagamaan memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya saling mendengarkan dan mendampingi.Dalam konteks kehidupan beragama, iman seharusnya menjadi sumber pengharapan dan kekuatan, bukan alasan untuk menyalahkan orang yang sedang mengalami penderitaan psikologis.
Sebab, tidak semua luka dapat terlihat secara kasatmata. Ada penderitaan yang tersembunyi di balik senyuman, pekerjaan yang tetap dijalankan, dan kehidupan sehari-hari yang tampak normal.
Mendengarkan tanpa menghakimi, menerima tanpa memberi stigma, serta membantu seseorang memperoleh pertolongan yang tepat merupakan langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi.
(Anee Muskan, UCA NEWS, 28 Oktober 2026)