Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga
Why 7:2-4.9-14; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a
Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November)
Pada hari raya semua orang kudus ini kita diajak untuk mengenang para kudus sebagai panutan mengikuti Kristus. Kesalehan dan kesetiaan mereka menantang kita menghidupi janji baptis. Kitab Wahyu mengarahkan kita ke Yerusalem surgawi yang dipenuhi kumpulan besar orang yang tak terhitung dari segala bangsa, suku dan bahasa yang memakai jubah putih, memegang daun palem dan menyanyikan pujian. Mereka telah keluar dari kesusahan besar, mencuci dan membuat jubah mereka putih dalam darah anak domba.
Yesus menyampaikan kotbah yang memuat kebijaksanaan supaya kelak menjadi pewaris Kerajaan Surga. Yesus berbicara tentang siapa yang pantas disebut bahagia. Pertama, mereka yang menjadikan Tuhan tumpuan harapan dan hidupnya, yakni orang miskin, berdukacita dan lemah lembut. Kedua, mereka yang berupaya melakukan kehendak Tuhan, yakni orang yang lapar dan haus akan kebenaran serta yang suci hatinya. Mereka tidak gampang dipengaruhi oleh hal-hal yang menjauhkan mereka dari Tuhan. Hati jernih dan terpusat pada Allah memampukan mereka memilih kebaikan.
Ketiga, mereka yang berupaya menghadirkan kebaikan Tuhan di bumi, yakni orang yang berbelas kasih dan cinta damai, yang menyadari perlunya saling mendukung dan mengampuni. Keempat, mereka yang dianiaya dan dimusuhi. Mereka mengalami kesulitan karena memperjuangkan kebenaran dan menanggung penganiayaan dengan besar hati.
Khusus bagi para murid, Yesus menambahkan Sabda Bahagia sekaitan pengalaman dimusuhi karena menjadi murid-Nya. Mereka dicela, difitnah, dianiaya dan ditempatkan pada posisi sulit. Tapi, mereka tidak merasa malu. Mereka bangga karena boleh ikut serta memperjuangkan hidup yang lurus dan benar. Penganiayaan tidak membelokkan prinsip hidup mereka.
Seorang anak dibawa berjalan-jalan oleh ibunya ke sejumlah Gereja. Ibunya menjelaskan bahwa semua patung dalam lemari kaca yang bercahaya itu adalah orang-orang kudus. Ketika seseorang bertanya tentang orang kudus, jawab anak itu, “Orang kudus itu seperti terang yang cahayanya tak dapat dirintangi.” Benar, orang-orang kudus adalah mereka yang menerangi, menghangatkan dan membuat indah semua yang mereka sentuh.
Sabda bahagia mengajak kita mengkaji ulang pikiran kita tentang nilai hidup dan kebahagiaan yang kita harapkan. Kebahagiaan tidak diukur dari kaca mata dunia. Yesus mengajak kita mencari kebahagiaan sejati. Itu tidak berarti bahwa kebahagiaan di dunia ini tidak perlu. Kita diciptakan untuk bahagia termasuk di dunia. Kebahagiaan itu akan sempurna dalam Kerajaan Surga.
Kita diingatkan agar tidak terlena oleh kenikmatan dunia ini. Yesus mengajak kita menyandarkan hidup pada kebaikan hati Allah, menjadi insan yang berbelas kasih, pembawa damai, kebaikan dan keadilan dan tidak lari dari resiko karena mengikuti Kristus. Inilah jalan menuju kebahagiaan, jalan sempit menuju surga yang menuntut perjuangan.
Semoga para kudus yang kini menikmati kebahagiaan sejati di rumah Bapa mendoakan kita. Amin.
RP Frans S. Situmorang OFMCap
Dosen Fakultas Filsafat UNIKA St. Thomas Medan
