
Ef 4:32-5:8; Mzm 1; Luk 13:10-17
Hiduplah sebagai Anak-Anak Terang: Ketika Kasih Menjadi Jiwa dari Hukum
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com|| Dalam bacaan pertama hari ini, Rasul Paulus menyampaikan sebuah ajakan yang sangat indah: “Hiduplah sebagai anak-anak terang” (Ef 5:8). Apa artinya menjadi anak-anak terang? Paulus menjelaskannya dengan mengajak kita menjadi penurut Allah sebagai anak-anak yang dikasihi-Nya dan hidup dalam kasih sebagaimana Kristus telah mengasihi kita. Menjadi anak-anak terang berarti membiarkan kasih Allah menerangi cara kita berpikir, menilai, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama. Terang Kristus membuat kita mampu membedakan yang benar dari yang salah, tetapi juga mengajarkan bagaimana memperjuangkan kebenaran dengan hati yang penuh kasih. Sebab seseorang dapat mengetahui banyak hukum agama, sangat teliti menjalankan aturan, bahkan rajin beribadat, tetapi hatinya belum tentu diterangi oleh kasih Allah. Kita dapat benar dalam menjalankan aturan, tetapi keliru dalam memperlakukan manusia. Karena itu, ukuran kedewasaan iman bukan hanya seberapa banyak peraturan yang kita ketahui dan jalankan, melainkan seberapa jauh kehidupan kita mencerminkan kasih Kristus. Anak-anak terang bukanlah orang yang merasa dirinya paling benar, melainkan orang yang membiarkan kebenaran Allah menjadikannya semakin rendah hati, penuh belas kasih, dan peduli terhadap penderitaan sesama.
Saudara-saudari, Injil hari ini memperlihatkan dengan sangat jelas perbedaan antara kehidupan yang dikuasai legalisme dan kehidupan yang diterangi oleh kasih. Yesus bertemu dengan seorang perempuan yang telah delapan belas tahun menderita karena tubuhnya bungkuk dan tidak mampu berdiri tegak. Yesus melihat penderitaannya, memanggilnya, meletakkan tangan atasnya, dan menyembuhkannya. Namun, kepala rumah ibadat justru marah karena penyembuhan itu dilakukan pada hari Sabat. Betapa ironis! Ketika seorang perempuan dibebaskan dari penderitaan selama delapan belas tahun, ada orang yang tidak mampu bersukacita karena terlalu sibuk mempertahankan penafsiran aturan. Kepala rumah ibadat melihat pelanggaran terhadap ketentuan Sabat, sedangkan Yesus melihat seorang manusia yang perlu dipulihkan martabat dan kehidupannya. Yesus tidak menolak kekudusan hari Sabat. Ia justru menunjukkan tujuan terdalamnya: hari yang dikuduskan bagi Allah seharusnya juga menjadi kesempatan menghadirkan belas kasih dan pembebasan Allah. Karena itu, Yesus bertanya mengapa orang dapat melepaskan lembu atau keledainya untuk diberi minum pada hari Sabat, tetapi keberatan ketika seorang perempuan, yang disebut-Nya sebagai anak Abraham, dibebaskan dari penderitaannya. Hukum Allah diberikan untuk menjaga kehidupan dan menuntun manusia kepada kasih, bukan untuk dijadikan alasan membiarkan manusia tetap menderita. Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Allah tidak pernah boleh dipisahkan dari belas kasih kepada manusia.
Saudara-saudari, kisah ini mengundang kita memeriksa cara kita menghayati iman dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat. Betapa mudahnya kita menjadi legalistis: sangat cepat menunjukkan kesalahan orang lain, tetapi lambat memahami kesulitannya; sangat tegas menuntut kewajiban, tetapi kurang peka terhadap penderitaan; sangat teliti menjaga tata aturan, tetapi kurang memperhatikan martabat manusia. Dalam keluarga, kita mungkin menuntut anak-anak menaati perintah, tetapi tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan pergumulan mereka. Dalam pelayanan Gereja, kita mungkin sibuk memperdebatkan tata cara dan prosedur, tetapi mengabaikan umat yang membutuhkan pendampingan. Dalam masyarakat, kita mungkin menuntut disiplin dan kepatuhan, tetapi tidak peduli ketika aturan diterapkan tanpa keadilan terhadap mereka yang lemah. Anak-anak terang bukanlah orang yang mengabaikan aturan, melainkan orang yang memahami dan menjalankan aturan sesuai dengan tujuan sejatinya, yakni kebenaran, keadilan, martabat manusia, dan kasih. Kasih tidak berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan ketidakadilan. Sebaliknya, kasih membuat kita menegakkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan. Kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekerasan; kasih tanpa kebenaran dapat berubah menjadi pembiaran. Dalam diri Kristus, keduanya bertemu: Ia tegas terhadap kemunafikan, tetapi penuh kelembutan terhadap manusia yang terluka. Inilah terang yang harus kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya, saudara-saudari yang terkasih, perhatikanlah sesuatu yang sangat menyentuh dalam Injil hari ini. Perempuan itu telah hidup membungkuk selama delapan belas tahun. Ketika Yesus menyembuhkannya, ia segera berdiri tegak dan memuliakan Allah. Kasih Kristus membuat manusia yang terbungkuk oleh penderitaan mampu berdiri tegak kembali. Inilah panggilan kita sebagai anak-anak terang: membantu sesama menemukan kembali martabat, keberanian, dan pengharapannya. Di sekitar kita mungkin ada orang yang terbungkuk oleh kemiskinan, terluka oleh penghinaan, tertekan oleh ketidakadilan, atau kehilangan semangat karena penolakan. Apakah kehadiran kita semakin membebani mereka dengan penghakiman, atau justru membantu mereka bangkit? Apakah perkataan kita membuat orang semakin merasa tidak berharga, atau meneguhkan mereka untuk memulai kehidupan yang baru? Santo Paulus mengingatkan: “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef 4:32). Kita dipanggil menjadi anak-anak terang bukan untuk menyilaukan orang lain dengan kehebatan dan kesalehan kita, melainkan untuk menerangi jalan mereka dengan kasih Kristus. Maka, marilah kita berusaha agar orang yang berjumpa dengan kita merasa dihargai, yang bersalah menemukan jalan pertobatan, yang lemah memperoleh kekuatan, dan yang menderita menemukan pengharapan. Jangan sampai kita begitu sibuk membela hukum Allah, tetapi lupa menghadirkan hati Allah yang penuh belas kasih. Sebab anak-anak terang adalah mereka yang setia kepada kebenaran, tetapi selalu menjadikan kasih sebagai jiwa dari setiap tindakan. Semoga melalui kehidupan kita, semakin banyak orang dapat berdiri tegak kembali dan memuliakan Allah.
Amin.