Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Kamis Masa Biasa Pekan XXIX

 

Ef 3:14-21; Mzm 33; Luk 12:49-53

Berani Memilih Kebenaran, Tetap Setia dalam Kasih

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Dalam Injil hari ini Yesus menyampaikan perkataan yang mengejutkan: “Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan” (Luk 12:51). Bukankah Yesus adalah Raja Damai? Mengapa Ia justru berbicara tentang perpecahan, bahkan dalam keluarga? Yesus tidak mengajarkan kebencian atau memerintahkan kita menciptakan pertengkaran. Ia mengingatkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran dan kehendak Allah terkadang membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan. Damai yang ditawarkan Yesus bukanlah ketenangan semu yang dibangun dengan membiarkan kejahatan, ketidakadilan, dan kebohongan. Damai sejati lahir dari kebenaran, keadilan, dan kasih. Karena itu, mengikuti Kristus menuntut keberanian untuk mengambil sikap, bahkan ketika pilihan tersebut tidak disukai orang lain. Menjadi murid Kristus bukan berarti harus selalu menyenangkan semua orang, melainkan berani melakukan yang benar tanpa kehilangan kasih kepada siapa pun.

Saudara-saudari, pesan ini sangat relevan dengan kehidupan kita. Dalam keluarga, kadang-kadang kita memilih diam ketika melihat tindakan yang salah karena takut merusak hubungan. Di tempat kerja, kita mungkin tergoda mengikuti ketidakjujuran karena tidak ingin berbeda dari rekan-rekan. Dalam masyarakat, kita dapat memilih menghindari persoalan ketika melihat ketidakadilan karena takut kehilangan kenyamanan. Bahkan dalam Gereja, kita bisa membiarkan tindakan yang merugikan sesama hanya demi menjaga suasana seolah-olah semuanya baik-baik saja. Tetapi diam terhadap ketidakadilan tidak selalu berarti menciptakan damai; kadang-kadang justru berarti membiarkan luka semakin dalam. Seorang ayah yang sungguh mengasihi anaknya harus berani menegur ketika anaknya melakukan kesalahan. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab harus berani menolak penyalahgunaan wewenang, sekalipun menghadapi penolakan. Seorang murid Kristus harus berani membela martabat manusia, sekalipun tidak mendapat dukungan. Namun, keberanian itu tidak boleh berubah menjadi kemarahan, penghinaan, atau sikap merasa diri paling benar. Kita dipanggil untuk menolak kesalahan tanpa membenci orang yang bersalah, memperjuangkan kebenaran tanpa merendahkan sesama, dan menghadapi pertentangan tanpa kehilangan semangat persaudaraan.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus berdoa agar umat “berakar serta berdasar di dalam kasih” dan semakin mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan (Ef 3:17-19). Inilah dasar yang harus menopang keberanian kita memperjuangkan kebenaran: kasih Kristus. Tanpa kasih, perjuangan demi kebenaran dapat berubah menjadi kesombongan, kekerasan, dan keinginan mengalahkan orang lain. Sebaliknya, tanpa kesetiaan kepada kebenaran, kasih dapat berubah menjadi sikap membiarkan kesalahan terus berlangsung. St. Agustinus mengajarkan pentingnya mengasihi manusia sambil menolak kejahatan yang dilakukannya. Semangat ini menolong kita membedakan antara pribadi yang harus tetap kita hormati dan tindakan salah yang harus kita koreksi. Kebenaran tanpa kasih dapat melukai; kasih tanpa kebenaran dapat menjadi kompromi. Karena itu, seorang murid Kristus harus memiliki hati yang lembut sekaligus pendirian yang teguh. Kita tidak perlu mencari pertentangan, tetapi juga tidak boleh mengkhianati suara hati demi menghindarinya. Kesetiaan kepada Kristus bukan diukur dari seberapa keras kita melawan orang lain, melainkan dari seberapa teguh kita membela kebenaran sambil tetap mengasihi.

Akhirnya, saudara-saudari yang terkasih, Yesus berkata: “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12:49). Api ini mengingatkan kita akan daya pembaruan yang dibawa Kristus: api yang membakar kepalsuan, memurnikan hati, dan mengobarkan keberanian untuk hidup menurut Injil. Kristus tidak menghendaki kita menjadi pembuat keributan, melainkan pembawa perubahan. Maka, marilah kita bertanya: apakah selama ini kita lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran? Apakah kita berani menegur dengan kasih, membela yang lemah, dan menolak ketidakadilan? Ataukah kita menggunakan alasan menjaga perdamaian untuk membenarkan sikap diam? Hari ini, ambillah satu langkah nyata: katakan kebenaran dengan hormat, selesaikan persoalan melalui dialog yang jujur, dan beranilah melakukan yang benar meskipun tidak populer. Jangan menciptakan perpecahan atas nama kebenaran, tetapi jangan pula mengorbankan kebenaran demi persatuan yang palsu. Semoga api kasih Kristus membentuk kita menjadi pribadi yang berani dalam kebenaran, rendah hati dalam sikap, dan setia dalam kasih. Sebab damai sejati bukanlah keadaan tanpa pertentangan, melainkan kehidupan yang dibangun di atas kebenaran, keadilan, dan kasih.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com