Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Jumat Masa Biasa Pekan XXIX

Ef 4:1-6; Mzm 24; Luk 12:54-59

Beriman: Mengenali Karya Allah dan Menanggapinya dengan Perubahan Hidup

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Dalam Injil hari ini Yesus menegur orang banyak karena mereka pandai membaca tanda-tanda alam, tetapi tidak mampu memahami tanda-tanda zaman. Mereka mengetahui kapan hujan akan turun dan kapan udara menjadi panas, tetapi tidak mengenali bahwa Allah sedang hadir dan berkarya menyelamatkan manusia melalui diri Yesus. Teguran ini juga ditujukan kepada kita. Kita mungkin mengenal banyak ajaran agama, rajin berdoa, dan setia mengikuti perayaan Ekaristi. Tetapi apakah kita sungguh mampu mengenali kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari? Beriman bukan sekadar percaya bahwa Allah ada, melainkan mengenali bahwa Allah hadir, bekerja, dan terus mengundang kita untuk menanggapi kasih-Nya. Allah hadir melalui Sabda yang menegur hati nurani kita, melalui sesama yang membutuhkan pertolongan, melalui pengalaman yang mengajak kita bertobat, bahkan melalui kesulitan yang mendorong kita semakin percaya kepada-Nya. Iman yang hidup membuat kita tidak hanya bertanya, “Di manakah Allah?”, tetapi juga, “Apa yang sedang Allah kehendaki agar saya lakukan dalam situasi ini?”

Saudara-saudari, mengenali karya Allah menuntut kepekaan rohani dan keberanian untuk membaca kehidupan dalam terang Injil. Ketika melihat keluarga yang sedang bertengkar, orang beriman tidak hanya melihat persoalan, tetapi juga panggilan Allah untuk membangun perdamaian. Ketika melihat orang miskin dan menderita, ia tidak hanya melihat kesulitan mereka, tetapi mendengar panggilan untuk menghadirkan belas kasih. Ketika menyaksikan ketidakadilan, ia tidak hanya mengeluh atau menyalahkan orang lain, tetapi mencari jalan untuk membela kebenaran. Ketika menerima keberhasilan, ia tidak menjadi sombong, tetapi bersyukur dan bertanya bagaimana keberhasilan itu dapat menjadi berkat. Mengenali kehadiran Allah bukan berarti menganggap setiap peristiwa sebagai pesan khusus dari Tuhan, melainkan menilai setiap keadaan dengan terang Sabda-Nya dan memilih tanggapan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, iman bukan sikap pasif yang hanya menunggu pertolongan Allah. Iman adalah kesediaan bekerja sama dengan rahmat Allah untuk mengubah kehidupan menjadi semakin baik.

Dalam bacaan pertama, Rasul Paulus menasihati kita supaya “hidup berpadanan dengan panggilan” yang telah kita terima, dengan segala kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih (Ef 4:1-2). Inilah ukuran apakah kita sungguh mengenali dan menanggapi karya keselamatan Allah: kehidupan kita semakin mencerminkan kasih Kristus. Kita tidak cukup mengatakan bahwa Allah adalah Bapa apabila kita tidak memperlakukan sesama sebagai saudara. Kita tidak cukup percaya bahwa Kristus membawa perdamaian apabila kita sendiri terus memelihara kebencian. Kita tidak cukup mengakui bahwa Allah mengampuni dosa apabila kita menolak memberikan pengampunan. St. Agustinus mengingatkan bahwa hati manusia tidak akan menemukan ketenteraman sejati sebelum beristirahat dalam Allah. Tetapi hati yang menemukan Allah tidak berhenti pada ketenteraman untuk dirinya sendiri. Ia terdorong untuk mengasihi, melayani, dan membangun persaudaraan. Kedekatan dengan Allah seharusnya membuat kita semakin dekat dengan penderitaan dan kebutuhan sesama. Sebab iman yang benar bukan hanya mengubah cara kita memandang Allah, melainkan juga mengubah cara kita memperlakukan manusia.

Akhirnya, saudara-saudari yang terkasih, Yesus menutup Injil dengan ajakan agar kita segera berdamai dengan lawan sebelum terlambat. Pesannya sangat jelas: ketika kita sudah mengenali apa yang benar dan baik, jangan menunda untuk melakukannya. Jangan menunggu orang lain meminta maaf sebelum kita berusaha berdamai. Jangan menunggu memiliki banyak harta sebelum mulai berbagi. Jangan menunggu keadaan menjadi sempurna sebelum berbuat baik. Dan jangan menunda pertobatan dengan alasan masih mempunyai banyak waktu. Marilah kita bertanya: Apakah perjumpaan saya dengan Allah sungguh mengubah kehidupan saya? Apakah doa membuat saya semakin sabar, Ekaristi membuat saya semakin mengasihi, dan Sabda Tuhan membuat saya semakin berani melakukan kebenaran? Jika tidak, mungkin kita baru mengenal ajaran tentang Allah, tetapi belum sungguh membiarkan Allah membarui hidup kita. Beriman berarti mengenali kehadiran dan karya keselamatan Allah di tengah kehidupan, lalu menanggapinya dengan hidup yang semakin sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga setiap hari kita semakin mampu melihat dengan mata iman, mendengarkan dengan hati yang terbuka, dan bertindak dengan kasih Kristus. Sebab iman yang sejati bukan hanya membuat kita menemukan Allah dalam kehidupan, tetapi juga membuat orang lain menemukan kasih Allah melalui kehidupan kita.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com