Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Sabtu Pekan XXX Masa Biasa

Flp 1:18b–26; Mzm 42; Luk 14:1.7–11

Jangan Hanya Menca Tempat Terhormat, tetapi Jadilah Pribadi yang Layak Dihormati

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com||Dalam Injil hari ini, Yesus memperhatikan bagaimana orang-orang yang diundang ke sebuah perjamuan berusaha memilih tempat-tempat terhormat. Kelihatannya sederhana, hanya persoalan tempat duduk. Namun, Yesus melihat sesuatu yang lebih dalam, yakni kecenderungan manusia untuk ingin dianggap penting, diakui, dihormati, dan ditempatkan lebih tinggi daripada orang lain. Kecenderungan ini masih sangat nyata dalam kehidupan kita. Orang dapat berusaha menampilkan dirinya sebagai pribadi terhormat melalui tempat duduk kehormatan, pakaian yang menunjukkan status, gelar dan jabatan, cara berbicara yang menyombongkan diri, atau sikap yang menuntut perlakuan istimewa. Semua itu seolah-olah hendak mengatakan, “Lihatlah saya, saya orang penting!” Yesus tidak sedang mempersoalkan pakaian yang baik, jabatan yang tinggi, atau penghormatan yang pantas diberikan kepada seseorang. Yang dipersoalkan Yesus adalah hati yang menjadikan semua itu sebagai sarana untuk meninggikan diri di atas orang lain.

Mengapa manusia begitu ingin dianggap terhormat? Karena setiap manusia ingin dihargai, diakui, dan diterima. Keinginan itu pada dasarnya baik. Namun, persoalan muncul ketika kebutuhan untuk dihargai berubah menjadi keinginan untuk diistimewakan. Kita mulai mengukur harga diri dari penghormatan orang lain. Kita merasa besar ketika dipuji, tetapi merasa direndahkan ketika tidak diperhatikan. Kita merasa penting ketika diberi tempat utama, tetapi tersinggung ketika diperlakukan seperti orang biasa. Bahkan, kadang-kadang orang yang paling sering menonjolkan kebesarannya justru sedang menyembunyikan ketakutan bahwa dirinya tidak cukup berharga. Betapa melelahkan hidup yang terus-menerus harus membuktikan bahwa dirinya orang penting! Padahal, martabat kita tidak ditentukan oleh tempat duduk, pakaian, gelar, kekayaan, atau jabatan. Kita berharga karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah serta dikasihi oleh-Nya. Orang yang sungguh menyadari bahwa dirinya berharga di hadapan Allah tidak perlu merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya.

Karena itu, Yesus berkata: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk 14:11). Yesus mengajak kita mengubah cara memahami kehormatan. Kehormatan sejati bukanlah sesuatu yang harus kita rebut, tuntut, atau pertontonkan. Kehormatan sejati bertumbuh dari kualitas hidup. Orang dihormati bukan semata-mata karena jabatannya, melainkan karena kejujurannya; bukan karena kekayaannya, melainkan karena kemurahan hatinya; bukan karena kekuasaannya, melainkan karena keadilannya; bukan karena kemampuannya memerintah, melainkan karena kesediaannya melayani. Dalam bacaan pertama, St. Paulus memperlihatkan kebebasan batin yang luar biasa ketika mengatakan: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Paulus tidak lagi menjadikan kehormatan dirinya sebagai pusat kehidupan. Yang terpenting baginya ialah Kristus dimuliakan melalui hidupnya. Inilah kebesaran sejati: ketika seseorang tidak lagi sibuk membesarkan dirinya, tetapi membiarkan hidupnya menjadi sarana untuk memuliakan Allah dan membawa kebaikan bagi sesama.

Saudara-saudari yang terkasih, Injil hari ini mengundang kita untuk memeriksa hati. Apakah kita lebih ingin dihormati daripada menghormati? Apakah kita lebih ingin dilayani daripada melayani? Apakah kita lebih sibuk mempertahankan kedudukan daripada menjalankan tanggung jawab? Mulai hari ini, marilah kita mengubah arah hidup. Daripada menuntut penghormatan, belajarlah menghormati setiap orang. Daripada membanggakan jabatan, gunakanlah jabatan untuk melayani. Daripada mempertontonkan kehebatan, tunjukkanlah kejujuran, kerendahan hati, dan kasih dalam tindakan sehari-hari. Jangan terlalu sibuk mencari tempat terhormat, sampai kita lupa membangun kehidupan yang layak dihormati. Sebab kehormatan sejati bukanlah sesuatu yang kita tuntut dari orang lain, melainkan buah dari kerendahan hati, integritas, dan kasih yang kita hidupi. Pada akhirnya, yang membuat hidup kita mulia bukanlah seberapa tinggi tempat yang pernah kita duduki, melainkan seberapa banyak orang yang kita angkat martabatnya melalui kasih dan pelayanan kita. Jangan hanya berusaha menjadi orang yang dihormati; berusahalah menjadi orang yang kehadirannya membawa berkat bagi sesama.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com