Renungan Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Minggu XXXI Masa Biasa

Why 7:2-4.9-14; Mzm 24; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a
HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

Sabda Bahagia: Potret Wajah Yesus, Jalan Hidup Para Kudus, dan Panggilan Kita

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com||  Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Kita mengenangkan bukan hanya orang-orang kudus yang namanya tercantum dalam kalender Gereja, tetapi juga begitu banyak orang yang telah hidup setia kepada Allah dan kini menikmati kebahagiaan abadi bersama-Nya. Siapakah sebenarnya orang kudus itu? Apakah mereka manusia luar biasa yang tidak pernah memiliki kelemahan, tidak pernah bergumul dengan dosa, dan tidak pernah mengalami kegagalan? Tentu tidak. Mereka adalah manusia seperti kita, yang mengalami pergumulan, kelemahan, penderitaan, dan pencobaan. Namun, mereka membiarkan rahmat Allah mengubah hidup mereka. Orang kudus bukanlah manusia yang tidak pernah jatuh, melainkan manusia yang terus bangkit, bertobat, dan semakin menyerupai Kristus. Karena itu, kekudusan bukanlah cita-cita yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang istimewa. Kekudusan adalah panggilan setiap orang yang telah dibaptis.

Dalam Injil hari ini, Yesus mewartakan Sabda Bahagia. Kita sering memahami Sabda Bahagia sebagai kumpulan nasihat moral tentang bagaimana manusia seharusnya hidup. Namun, sesungguhnya Sabda Bahagia pertama-tama adalah potret diri Yesus sendiri. Ketika Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,” kita melihat Dia yang mengosongkan diri dan sepenuhnya berserah kepada Bapa. Ketika Ia berkata, “Berbahagialah orang yang lemah lembut,” kita melihat Dia yang rendah hati dan lemah lembut. Ketika Ia menyebut mereka yang berbelaskasihan, kita melihat Dia yang menyentuh orang sakit, mengampuni pendosa, dan merangkul mereka yang tersingkir. Ketika Ia menyebut mereka yang membawa damai, kita melihat Dia yang mendamaikan manusia dengan Allah melalui salib-Nya. Ketika Ia menyebut mereka yang dianiaya karena kebenaran, kita melihat Dia yang tetap setia kepada kehendak Bapa sampai menyerahkan nyawa-Nya. Yesus bukan hanya mengajarkan Sabda Bahagia. Ia sendiri adalah Sabda Bahagia yang menjadi manusia. Karena itu, Sabda Bahagia bukan sekadar aturan untuk diikuti, melainkan undangan untuk mengambil bagian dalam cara hidup dan hati Kristus.

Para kudus adalah mereka yang telah menjadikan Sabda Bahagia sebagai jalan hidup. Mereka adalah potret-potret Kristus yang hidup dalam berbagai zaman, budaya, dan keadaan. St. Fransiskus dari Assisi menghidupi kebahagiaan orang yang miskin di hadapan Allah melalui kedinaan dan pelepasan diri dari kekayaan. St. Teresa dari Kalkuta menghadirkan kebahagiaan orang yang berbelaskasihan melalui pelayanannya kepada mereka yang paling miskin dan terlupakan. St. Maksimilianus Kolbe memperlihatkan kasih yang rela berkorban ketika menyerahkan hidupnya demi menyelamatkan sesama tahanan. St. Monika menunjukkan ketekunan iman melalui doa, air mata, dan pengharapan bagi pertobatan putranya. Mereka memiliki kepribadian, panggilan, dan jalan hidup yang berbeda. Namun, semuanya memperlihatkan satu wajah yang sama, yakni wajah Kristus. Para kudus tidak menjadi kudus karena berhasil membangun kebesaran dirinya, melainkan karena membiarkan Kristus semakin nyata dalam hidup mereka. Mereka telah menghidupi Sabda Bahagia, dan kini mereka menikmati kepenuhan kebahagiaan yang dijanjikan Kristus.

Di sinilah kita perlu memahami sesuatu yang sangat penting: Sabda Bahagia bukan hanya jalan menuju kebahagiaan kelak di surga, melainkan juga visi kristiani tentang bagaimana manusia menemukan kebahagiaan sejati sejak hidup di dunia. Dunia sering mengajarkan bahwa orang berbahagia apabila kaya, berkuasa, terkenal, selalu menang, dan mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya. Yesus justru menyebut berbahagia mereka yang miskin di hadapan Allah, lemah lembut, berbelaskasihan, suci hati, membawa damai, dan tetap setia meskipun menderita karena kebenaran. Apakah Yesus sedang memuliakan kemiskinan, kesedihan, dan penderitaan? Tidak. Yesus sedang menyatakan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh keadaan lahiriah, melainkan oleh hubungan manusia dengan Allah dan kesediaannya hidup menurut kasih-Nya. Orang dapat memiliki kekayaan berlimpah tetapi hatinya gelisah. Orang dapat menduduki jabatan tinggi tetapi hidup dalam ketakutan kehilangan kekuasaan. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana dapat memiliki kedamaian yang mendalam karena hatinya dipenuhi kasih, syukur, dan pengharapan.

Bacaan pertama dari Kitab Wahyu memperlihatkan suatu penglihatan yang sangat indah: suatu kumpulan besar orang dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa berdiri di hadapan takhta Allah dan Anak Domba, mengenakan jubah putih serta memegang daun palem (bdk. Why 7:9). Mereka adalah orang-orang yang telah melewati kesusahan besar dan membasuh jubah mereka dalam darah Anak Domba. Gambaran ini mengingatkan bahwa kekudusan bukanlah hasil kesempurnaan manusia semata, melainkan buah rahmat penebusan Kristus yang diterima dan dihidupi dengan setia. Para kudus tidak menyelamatkan dirinya sendiri. Mereka diselamatkan oleh Kristus dan menanggapi rahmat keselamatan itu melalui kehidupan yang penuh iman, kasih, dan ketekunan. Karena itu, kekudusan tidak berarti hidup tanpa salib, melainkan tetap setia kepada Kristus ketika harus memikul salib.

Dalam bacaan kedua, St. Yohanes menyampaikan dasar terdalam panggilan kita menuju kekudusan: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1). Kita dipanggil menjadi kudus bukan supaya Allah mulai mengasihi kita, melainkan karena Allah telah lebih dahulu mengasihi dan menjadikan kita anak-anak-Nya. Kekudusan adalah tanggapan terhadap kasih Allah. Semakin kita menyadari diri sebagai anak-anak Allah, semakin kita terdorong untuk hidup menyerupai Kristus. Maka, menjadi kudus bukan pertama-tama soal melakukan tindakan luar biasa, melainkan menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan biasa: menjadi orang tua yang setia, anak yang menghormati orang tua, pekerja yang jujur, pemimpin yang adil, tetangga yang peduli, dan pribadi yang bersedia mengampuni.

Saudara-saudari yang terkasih, Hari Raya Semua Orang Kudus mengajak kita untuk tidak hanya mengagumi para kudus, tetapi berani mengikuti jalan hidup mereka. Kita tidak harus menjadi Fransiskus dari Assisi, Teresa dari Kalkuta, atau Maksimilianus Kolbe. Kita dipanggil menjadi kudus melalui panggilan dan keadaan hidup kita sendiri. Ketika kita memilih kejujuran di tengah kebohongan, kita sedang menghidupi Sabda Bahagia. Ketika kita mengampuni orang yang menyakiti, kita sedang menghadirkan belas kasih Kristus. Ketika kita menolak keserakahan dan berbagi dengan yang membutuhkan, kita sedang menghidupi kemiskinan dalam roh. Ketika kita mendamaikan keluarga yang bertikai, kita sedang menjadi pembawa damai. Ketika kita tetap membela kebenaran meskipun harus menanggung risiko, kita sedang mengikuti Kristus yang setia sampai salib. Kekudusan tidak selalu tampak dalam tindakan besar yang mengagumkan, tetapi sering bertumbuh melalui kesetiaan melakukan kebaikan kecil dengan kasih yang besar.

Akhirnya, saudara-saudari, marilah kita membawa pulang satu keyakinan: Sabda Bahagia adalah potret wajah Yesus; para kudus adalah mereka yang telah menghadirkan wajah Yesus dalam hidupnya; dan kita semua dipanggil untuk melanjutkan kesaksian itu di tengah dunia. Para kudus telah menemukan kebahagiaan sejati bukan karena hidup mereka selalu mudah, tetapi karena mereka hidup dalam persatuan dengan Kristus. Mereka telah membuktikan bahwa kebahagiaan yang dijanjikan Yesus bukanlah ilusi, melainkan kenyataan yang dapat mulai dialami melalui iman, kasih, dan pengharapan, serta mencapai kepenuhannya dalam kehidupan abadi. Jangan hanya ingin masuk surga dan menikmati kebahagiaan para kudus; mulailah menghidupi Sabda Bahagia agar sejak sekarang hidup kita menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah. Semoga melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat kelemahlembutan, belas kasih, kemurnian hati, keadilan, dan perdamaian Kristus. Sebab pada akhirnya, menjadi kudus berarti semakin menyerupai Yesus, dan semakin menyerupai Yesus berarti semakin menemukan kebahagiaan sejati.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com