Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Jumat Masa Biasa Pekan XXXI

Flp 3:17-4:1; Mzm 122; Luk 16:1-8

Bijaksana Mempersiapkan Masa Depan yang Kekal

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Mengapa manusia begitu cerdas mempersiapkan masa depan hidupnya di dunia, tetapi sering begitu lalai mempersiapkan masa depan hidupnya bersama Allah? Kita bekerja keras mengumpulkan kekayaan, membangun karier, mempertahankan kedudukan, dan menjamin masa tua. Semuanya itu baik dan perlu. Namun, pernahkah kita bertanya: untuk apa semua yang kita kumpulkan apabila akhirnya harus kita tinggalkan? Dalam bacaan pertama, St. Paulus mengingatkan bahwa kewargaan kita ada di surga. Dari sanalah kita menantikan Kristus, yang akan mengubah tubuh kita yang fana menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia. Inilah dasar pengharapan kristiani: hidup kita tidak berakhir pada kematian, sebab masa depan kita berada dalam tangan Kristus yang telah bangkit. Karena itu, Paulus mengajak kita berdiri teguh dalam Tuhan. Artinya, jangan sampai kita begitu sibuk membangun kehidupan yang sementara sehingga melupakan kehidupan kekal yang dijanjikan Allah.

Dalam Injil, Yesus menyampaikan perumpamaan yang mengejutkan tentang seorang bendahara yang tidak jujur, tetapi justru dipuji oleh tuannya karena bertindak cerdik. Mengapa ia dipuji? Bukan karena ketidakjujurannya, melainkan karena kemampuannya membaca keadaan dan mempersiapkan masa depan. Ketika mengetahui bahwa jabatannya akan berakhir, bendahara itu segera mengambil tindakan agar kelak ada orang yang bersedia menerimanya. Ia menyadari bahwa kesempatan yang dimilikinya terbatas. Yesus tidak mengajak kita meniru ketidakjujurannya, tetapi belajar dari kecerdikannya dalam mempersiapkan masa depan. Jika manusia begitu cerdik mempersiapkan masa depan yang sementara, mengapa kita tidak lebih sungguh-sungguh mempersiapkan masa depan yang kekal? Betapa sering kita pandai menghitung keuntungan materi, tetapi kurang bijaksana memperhitungkan nilai kejujuran, kasih, pengampunan, dan keselamatan. Kita dapat begitu berhasil dalam urusan duniawi, tetapi gagal membangun kehidupan yang berkenan kepada Allah.

Saudara-saudari, kedua bacaan hari ini mengajarkan bahwa pengharapan akan kemuliaan kekal harus melahirkan kebijaksanaan dalam menggunakan kehidupan yang sementara. Allah memberikan kepada kita waktu, kemampuan, kekayaan, kedudukan, dan berbagai kesempatan bukan hanya untuk dinikmati, melainkan juga untuk menghasilkan buah kebaikan. Kekayaan menjadi bernilai abadi ketika digunakan untuk menolong mereka yang membutuhkan. Kedudukan menjadi bermakna ketika dipakai untuk melayani, bukan menguasai. Pengetahuan menjadi berharga ketika digunakan untuk mencerdaskan dan mengangkat martabat sesama. Bahkan, penderitaan dapat menghasilkan buah rohani ketika dihadapi dengan iman, kesabaran, dan kasih. Kecerdikan kristiani bukanlah kemampuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri, melainkan kebijaksanaan menggunakan segala yang sementara untuk memperjuangkan nilai-nilai yang abadi. Jangan sampai kita berhasil mengumpulkan banyak harta, tetapi miskin dalam kasih; berhasil meraih kedudukan tinggi, tetapi kehilangan kerendahan hati; berhasil membangun nama besar, tetapi tidak meninggalkan warisan kebaikan.

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini Tuhan mengundang kita memeriksa arah kehidupan kita. Apakah waktu yang kita miliki semakin mendekatkan kita kepada Allah? Apakah kekayaan dan kedudukan kita menjadi berkat bagi sesama? Apakah keputusan-keputusan kita hari ini sungguh mempersiapkan masa depan bersama Kristus? Ingatlah, suatu saat jabatan akan berakhir, kekayaan akan kita tinggalkan, kekuatan tubuh akan melemah, dan kehidupan duniawi akan mencapai batasnya. Namun, kasih yang kita hidupi, kebaikan yang kita lakukan, dan kesetiaan kita kepada Kristus mempunyai nilai yang melampaui kehidupan sementara ini. Orang yang bijaksana bukan hanya tahu bagaimana hidup baik hari ini, melainkan tahu menggunakan kehidupan hari ini untuk mempersiapkan masa depan yang dijanjikan Allah. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang dapat saya kumpulkan selama hidup?” tetapi bertanyalah, “Kebaikan apa yang dapat saya persembahkan kepada Allah melalui hidup saya?” Sebab keberhasilan hidup bukan hanya diukur dari apa yang berhasil kita miliki sebelum meninggalkan dunia, melainkan dari bagaimana kita menggunakan seluruh kehidupan untuk mengasihi Allah dan sesama.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com