*Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Selasa Masa Biasa Pekan XXXI

 

Allah Memberi Tempat bagi Manusia, Sudahkah Kita Memberi Tempat bagi Allah?

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.|| Ada satu pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan hari ini: Mengapa Allah yang Mahabesar justru memilih merendahkan diri, sementara manusia yang kecil sering berusaha meninggikan dirinya? Dalam bacaan pertama, St. Paulus mengatakan bahwa Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba (bdk. Flp 2:6–7). Inilah misteri kasih Allah yang luar biasa. Allah tidak menggunakan kemuliaan-Nya untuk menjaga jarak dari manusia. Dalam diri Yesus Kristus, Putra Allah justru merendahkan diri, memasuki kehidupan manusia, dan memberikan diri sampai wafat di kayu salib. Kristus mengosongkan diri bukan karena kehilangan keilahian-Nya, melainkan karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia. Ia memberikan tempat bagi manusia dalam kehidupan dan kasih-Nya, bahkan rela menyerahkan diri demi keselamatan kita.

Namun, dalam Injil hari ini, kita menemukan sikap manusia yang sangat berbeda. Yesus menceritakan tentang seorang tuan yang mengadakan perjamuan besar dan mengundang banyak orang. Ketika perjamuan telah siap, para undangan justru menolak datang. Ada yang sibuk dengan ladangnya, ada yang mengurus lembunya, dan ada yang baru menikah. Semua alasan itu berkaitan dengan hal-hal yang sebenarnya baik. Namun, mereka menjadikan urusan tersebut lebih penting daripada undangan yang telah diterima. Allah membuka ruang bagi manusia dalam kasih-Nya, tetapi manusia justru tidak menyediakan ruang bagi Allah dalam kehidupannya. Allah datang mendekati manusia, tetapi manusia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Allah menawarkan perjamuan keselamatan, tetapi manusia merasa mempunyai urusan yang lebih penting. Inilah ironi kehidupan rohani kita: Allah begitu menginginkan persekutuan dengan manusia, tetapi manusia sering tidak mempunyai waktu untuk bersekutu dengan Allah.

Saudara-saudari, di sinilah kita menemukan hubungan yang sangat mendalam antara kedua bacaan. Kristus mengosongkan diri untuk memberikan tempat bagi manusia, sedangkan manusia dipanggil mengosongkan diri agar mampu menerima kehadiran Allah. Mengosongkan diri bukan berarti meninggalkan pekerjaan, keluarga, harta, atau tanggung jawab. Mengosongkan diri berarti membebaskan hati dari keegoisan, kesombongan, ambisi, dan keterikatan yang membuat kita tidak lagi mampu mendengarkan kehendak Tuhan. Betapa sering hati kita terlalu penuh dengan keinginan untuk berhasil, dihormati, berkuasa, dan memiliki lebih banyak! Kita mempunyai waktu untuk banyak urusan, tetapi sulit menyediakan waktu untuk berdoa. Kita mempunyai tenaga untuk mempertahankan kepentingan pribadi, tetapi merasa lelah ketika diminta melayani. Kita mampu menyediakan ruang bagi berbagai ambisi, tetapi sulit memberi tempat bagi orang miskin, orang lemah, dan mereka yang membutuhkan perhatian. Persoalan kita kadang-kadang bukan karena Allah jauh dari kehidupan kita, melainkan karena hati kita terlalu penuh dengan diri sendiri sehingga tidak mampu menyambut kehadiran-Nya.

Menariknya, ketika para undangan pertama menolak datang, tuan rumah dalam perumpamaan Yesus tidak membatalkan perjamuannya. Ia justru mengundang orang miskin, cacat, buta, dan lumpuh. Mereka yang sering tidak mendapat tempat dalam masyarakat justru memperoleh tempat dalam perjamuan. Inilah wajah Allah yang diwartakan Yesus: Allah yang murah hati, yang membuka pintu keselamatan bagi mereka yang sering disingkirkan. Sikap ini sekaligus menjadi teladan bagi kita. Jika Allah memberikan tempat bagi manusia dalam kasih-Nya, kita pun harus belajar memberikan tempat bagi sesama dalam kehidupan kita. Memberikan tempat berarti bersedia mendengarkan orang lain, menghargai mereka yang berbeda, mengampuni yang bersalah, memperhatikan yang lemah, dan tidak menjadikan kedudukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Dalam keluarga, Gereja, dan masyarakat, kita dipanggil menciptakan ruang bagi setiap orang untuk mengalami kasih dan penghormatan. Kerendahan hati sejati bukan hanya kesediaan menempatkan diri lebih rendah, melainkan kesediaan membuka ruang agar orang lain dapat bertumbuh dan memperoleh kehidupan.

Saudara-saudari yang terkasih, hari ini Sabda Tuhan mengundang kita melakukan pertobatan yang mendasar: dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri menuju kehidupan yang berpusat pada Kristus. St. Paulus mengingatkan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5). Artinya, kita tidak cukup hanya mengagumi Kristus yang mengosongkan diri. Kita harus belajar hidup seperti Dia. Ketika kita melepaskan kesombongan, kita memberikan ruang bagi kerendahan hati. Ketika kita melepaskan kebencian, kita memberikan ruang bagi pengampunan. Ketika kita mengurangi keegoisan, kita memberikan ruang bagi pelayanan. Ketika kita tidak lagi menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala sesuatu, kita memberikan ruang bagi Allah untuk berkarya. Mengosongkan diri bukanlah kehilangan sesuatu yang berharga, melainkan membebaskan hati agar dapat menerima sesuatu yang jauh lebih berharga, yakni kasih dan kehidupan Allah sendiri.

Marilah kita membawa pulang satu pesan yang sederhana tetapi mendalam: Allah telah memberikan tempat bagi kita dalam kasih-Nya. Jangan sampai kita justru tidak memberikan tempat bagi-Nya dalam hidup kita. Jangan biarkan hati kita begitu penuh dengan urusan, ambisi, dan kepentingan sendiri sehingga undangan Allah selalu kita jawab dengan alasan dan penundaan. Kristus telah mengosongkan diri untuk menyelamatkan kita. Marilah kita mengosongkan hati dari segala sesuatu yang menghalangi kita menyambut kasih-Nya. Sebab semakin kita membebaskan diri dari keegoisan, semakin luas ruang bagi Allah untuk hadir; dan semakin Allah mendapat tempat dalam hidup kita, semakin besar pula kemampuan kita memberikan tempat bagi sesama. Semoga hidup kita menjadi perjamuan kasih, tempat Allah disambut dan sesama diterima sebagai saudara.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com