
Gal 1:13–24; Mzm 139; Luk 10:38–42
Mendengarkan Sebelum Melakukan
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com|| Injil hari ini menghadirkan dua saudari yang sama-sama menerima Yesus, tetapi dengan cara berbeda. Marta sibuk melayani; Maria duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Yesus tidak mengatakan bahwa pelayanan Marta tidak penting. Bukankah menerima tamu, menyediakan makanan, dan melayani merupakan sesuatu yang baik? Persoalannya tampak dalam perkataan Yesus: “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.” Jadi yang dikoreksi Yesus bukan terutama tangan Marta yang bekerja, melainkan hati Marta yang dikuasai kekhawatiran. Ia melakukan banyak hal yang baik, tetapi kesibukannya perlahan merampas damai dari hatinya. Bahkan akhirnya ia mulai mengeluh tentang Maria dan berkata kepada Yesus apa yang harus dilakukan-Nya: “Suruhlah dia membantu aku.” Kesibukan yang tidak lagi berakar dalam Tuhan dapat membuat pelayanan berubah menjadi beban, keluhan, bahkan penilaian terhadap orang lain.
Sebaliknya, Maria duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan Sabda-Nya. Itulah sikap seorang murid. Ia tidak berarti memilih kemalasan daripada pekerjaan. Maria sedang menunjukkan urutan yang benar dalam kehidupan rohani: sebelum melakukan sesuatu untuk Tuhan, dengarkanlah Tuhan; sebelum berbicara tentang Tuhan, dengarkanlah Sabda-Nya; sebelum menentukan apa yang harus dilakukan, tanyakanlah apa yang Tuhan kehendaki. Karena itu Yesus berkata, “Maria telah memilih bagian yang terbaik.” Kita sering membalik urutan ini. Kita bangun pagi dan segera memikirkan pekerjaan. Kita membuat rencana, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, melayani keluarga dan Gereja, lalu kalau masih ada waktu kita berdoa. Tanpa sadar kita menjadi Marta: melakukan banyak hal bagi Tuhan, tetapi terlalu sedikit tinggal bersama Tuhan. Padahal tidak semua kesibukan adalah kehendak Allah, dan tidak semua yang mendesak adalah yang paling penting.
Bacaan pertama memperlihatkan sesuatu yang serupa dalam perjalanan Paulus. Dahulu ia sangat aktif dan bersemangat dalam tradisi nenek moyangnya, bahkan menganiaya Gereja. Ia bukan orang malas; justru ia mempunyai energi, keyakinan dan semangat yang luar biasa. Tetapi semangat yang besar belum tentu berjalan ke arah yang benar. Perjumpaan dengan Kristus mengubah arah hidupnya. Paulus harus terlebih dahulu membiarkan Allah menyatakan Putra-Nya kepadanya sebelum seluruh tenaga dan semangatnya diarahkan menjadi pewartaan Injil. Inilah pelajaran penting bagi kita: berbuat banyak tidak selalu berarti melakukan kehendak Tuhan. Kita membutuhkan saat seperti Maria: berhenti, duduk di kaki Tuhan, mendengarkan dan membiarkan-Nya bertanya kepada kita, “Semua yang sedang engkau kerjakan ini sebenarnya berasal dari kehendak-Ku atau dari kecemasanmu sendiri?”
Saudara-saudari, dunia kita sangat menghargai orang yang sibuk. Bahkan kadang-kadang kita merasa bersalah ketika berhenti. Jadwal penuh dianggap tanda bahwa kita penting. Tetapi Injil hari ini mengingatkan: jangan sampai tangan kita sibuk bagi Tuhan sementara hati kita semakin jauh dari Tuhan. Dalam keluarga, jangan terlalu sibuk mencari nafkah sampai tidak mempunyai waktu mendengarkan pasangan dan anak. Dalam pelayanan, jangan terlalu sibuk mengurus kegiatan sampai kehilangan orang yang kita layani. Dalam hidup rohani, jangan sampai banyaknya doa dan aktivitas keagamaan justru membuat kita tidak pernah sungguh-sungguh diam di hadapan Allah. Maria mengajarkan kita berhenti sejenak dan bertanya: “Tuhan, apa yang hendak Engkau katakan kepadaku? Apa yang sungguh Engkau kehendaki?” Dari mendengarkan seperti itulah lahir tindakan yang lebih tenang, tepat dan penuh kasih.
Maka kita tidak perlu memilih menjadi Maria atau Marta. Kita membutuhkan tangan Marta, tetapi dengan hati Maria. Kita tetap bekerja, melayani, mengurus keluarga, menjalankan tanggung jawab dan melakukan banyak kebaikan; tetapi semuanya harus lahir dari hati yang terlebih dahulu mendengarkan Tuhan. Maria sebelum Marta: mendengarkan sebelum bertindak, berdoa sebelum memutuskan, tinggal bersama Tuhan sebelum bekerja bagi Tuhan. Ketika urutan ini benar, pelayanan tidak lagi terutama digerakkan oleh kekhawatiran, melainkan oleh kasih. Hari ini marilah kita berdoa: “Tuhan, di tengah banyaknya perkara yang harus kukerjakan, ajarlah aku memilih satu yang perlu: duduk di dekat-Mu, mendengarkan Sabda-Mu, dan membiarkan Engkau menata kembali hatiku. Sesudah itu, utuslah aku kembali untuk bekerja dan melayani—bukan sebagai Marta yang dikuasai kecemasan, tetapi sebagai Marta yang memiliki hati Maria.”
Amin.