*Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Minggu XXXII Masa Biasa

Keb 6:12-16; 1Tes 4:13-18; Mat 25:1-13

Minyak dalam Buli-Buli: Kebijaksanaan untuk Selalu Siap Menyambut Tuhan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Mengapa lima gadis disebut bijaksana dan lima lainnya disebut bodoh, padahal semuanya membawa pelita, semuanya menantikan mempelai, bahkan semuanya tertidur? Ternyata, yang membedakan mereka adalah kesiapan menghadapi sesuatu yang tidak dapat diprediksi. Kelima gadis bijaksana membawa minyak cadangan dalam buli-buli mereka karena menyadari dan siaga manakala mempelai mungkin datang lebih lambat daripada yang diperkirakan. Mereka tidak mengetahui kapan mempelai datang, tetapi telah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tersebut. Inilah kebijaksanaan: bukan kemampuan mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi, melainkan kemampuan mengantisipasi berbagai kemungkinan yang belum kita ketahui. Dalam kehidupan, kita pun menghadapi banyak peristiwa yang tidak terduga: penyakit, kehilangan, kegagalan, bencana, atau perubahan keadaan hidup. Orang bijaksana tidak menunggu kesulitan datang untuk mulai mempersiapkan diri. Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan bahwa kebijaksanaan ditemukan oleh mereka yang mencintai, mencari, dan berjaga untuk memperolehnya. Kebijaksanaan bukan hanya mengetahui apa yang benar, melainkan mengambil keputusan yang tepat sebelum kesempatan berlalu.

Saudara-saudari, kehidupan kita sesungguhnya merupakan penantian akan perjumpaan dengan Tuhan. Kita mengetahui bahwa kehidupan duniawi tidak berlangsung selamanya, tetapi tidak mengetahui kapan perjalanan ini berakhir. Karena itu, Yesus berkata, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat 25:13). Menarik bahwa kesepuluh gadis itu sama-sama tertidur, termasuk kelima gadis bijaksana. Namun, mereka tetap siap karena telah membawa minyak. Artinya, berjaga-jaga bukanlah hidup dalam ketakutan, melainkan menjalani kehidupan sedemikian rupa sehingga kapan pun Tuhan datang, kita siap menyambut-Nya. Dalam tradisi rohani Gereja, minyak dapat menggambarkan iman yang dipelihara melalui doa, kasih, kesetiaan, dan perbuatan baik. Kita mungkin rajin beribadah, aktif dalam pelayanan, dan memiliki pengetahuan agama yang luas. Namun, apakah semuanya membuat kita semakin jujur, rendah hati, mudah mengampuni, dan berbelaskasihan? Jangan sampai kita memiliki pelita agama yang indah, tetapi kehilangan minyak kasih yang membuatnya tetap menyala. Orang bijaksana bukanlah orang yang mengetahui kapan Tuhan akan datang, melainkan orang yang menggunakan seluruh kehidupannya untuk mempersiapkan perjumpaan dengan Tuhan.

Namun, memelihara kesetiaan tidak sealu mudah, terutama ketika penantian menjadi panjang dan melelahkan. Santa Monika memberikan teladan yang indah. Selama bertahun-tahun ia berdoa dan berjuang bagi pertobatan putranya, Agustinus. Ia tidak menyerah meskipun harapannya belum terwujud. Doa, air mata, kesabaran, dan kasihnya menjadi seperti minyak yang terus memelihara pelita imannya. Akhirnya, Agustinus bertobat. Menjelang akhir hidupnya, Monika dapat menghadapi kematian dengan tenang karena percaya bahwa tidak ada tempat yang terlalu jauh dari Allah. Kesetiaan bukanlah kemampuan mempertahankan semangat hanya ketika semuanya berjalan baik, melainkan keberanian untuk terus mengasihi dan berharap ketika penantian terasa panjang. Maka, jangan menyerah apabila doa belum terjawab, keluarga sedang mengalami kesulitan, atau perjuangan hidup belum menghasilkan buah. Tetaplah berdoa, berbuat baik, dan mengasihi. Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.

Saudara-saudari yang terkasih, Yesus menggambarkan kedatangan-Nya sebagai kedatangan seorang mempelai yang membawa sukacita pesta perkawinan. Inilah wajah Allah yang meneguhkan kita: Allah yang mengundang manusia kepada persekutuan kasih yang abadi. Tujuan akhir perjalanan kita bukanlah kehancuran, melainkan kehidupan bersama Kristus. Santo Paulus menegaskan dalam bacaan kedua, “Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes 4:17). Kita berjaga bukan terutama karena takut Tuhan datang, melainkan karena merindukan perjumpaan dengan Dia yang mengasihi kita. Pengharapan akan surga tidak membuat kita mengabaikan kehidupan dunia. Sebaliknya, kita semakin terdorong untuk mengasihi keluarga, menolong yang menderita, memperjuangkan keadilan, dan membangun persaudaraan. Kita mempersiapkan perjumpaan dengan Kristus yang akan datang dengan mengasihi Kristus yang hadir dalam diri sesama hari ini.

Akhirnya, saudara-saudari, setiap kali merayakan Ekaristi, kita mendengar undangan, “Berbahagialah Saudara-saudari yang diundang ke perjamuan Anak Domba.” Ekaristi merupakan perjumpaan dengan Kristus sekaligus gambaran awal perjamuan abadi dalam Kerajaan Allah. Di sini Tuhan memberikan rahmat yang menguatkan iman dan kasih kita. Karena itu, jangan hanya membawa pelita iman, tetapi peliharalah minyak kasih yang membuatnya tetap menyala. Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk mulai mengasihi, jangan menunggu musibah untuk memperbaiki kehidupan, dan jangan menunggu kematian untuk mulai bertobat. Kebijaksanaan sejati adalah mempersiapkan hari esok dengan menggunakan hari ini secara benar. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok, tetapi kita dapat memilih untuk hidup dalam kasih dan kesetiaan hari ini. Tuhan tidak meminta kita mengetahui kapan Dia akan datang. Tuhan meminta kita hidup sedemikian rupa sehingga kapan pun Dia datang, kita siap menyambut-Nya.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com