Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Rabu Pekan XXVII Masa Biasa

 

Gal 2:1–2.7–14; Mzm 117:1bc.2; Luk 11:1–4
Peringatan St. Perawan Maria Ratu Rosario

Tuhan, Ajarlah Kami Berdoa

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Pada Peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario hari ini, kita mendengar permohonan yang sangat sederhana dari para murid: “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” Menariknya, mereka meminta itu setelah melihat Yesus sendiri sedang berdoa. Mereka telah melihat Yesus mengajar, menyembuhkan orang sakit dan melakukan banyak mukjizat, tetapi kali ini mereka tertarik kepada sumber dari seluruh kehidupan Yesus: doa-Nya. Seakan-akan mereka menyadari bahwa kekuatan Yesus untuk mengasihi, melayani, mengampuni dan melaksanakan kehendak Bapa lahir dari hubungan-Nya yang mendalam dengan Bapa. Maka permintaan mereka bukan, “Tuhan, ajarlah kami melakukan mukjizat,” melainkan, “Tuhan, ajarlah kami berdoa.”

Yesus kemudian mengajarkan doa yang sangat sederhana: Bapa, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu; berilah kami setiap hari makanan kami; ampunilah dosa kami sebagaimana kami pun mengampuni; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Perhatikan bahwa Yesus tidak pertama-tama mengajarkan banyak kata, tetapi sebuah relasi: panggillah Allah sebagai Bapa. Karena itu doa bukan terutama usaha meyakinkan Allah agar mengikuti kehendak kita. Doa adalah keberanian seorang anak datang kepada Bapanya, membawa kebutuhan, kelemahan, dosa dan pergumulannya. Kita boleh datang kepada Tuhan apa adanya dan berkata: “Bapa, aku membutuhkan Engkau.” Barangkali inilah salah satu penyakit manusia modern: kita ingin kuat sendiri, mengatur semuanya sendiri, menyelesaikan semuanya sendiri. Doa menghancurkan ilusi itu. Orang yang berdoa mengakui dengan rendah hati: aku tidak cukup bagi diriku sendiri; aku membutuhkan Allah.

Di sinilah Maria Ratu Rosario menjadi guru bagi kita. Rosario sesungguhnya adalah sekolah doa. Dalam Rosario kita datang kepada Allah bersama Maria dan belajar memandang kehidupan Yesus: kelahiran-Nya, pewartaan-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya dan kemenangan kebangkitan-Nya. Karena itu Rosario bukan sekadar memindahkan butir demi butir sambil mengulang kata-kata. Rosario mengajak kita tinggal bersama Kristus melalui mata dan hati Maria. Maria tidak membawa kita berhenti pada dirinya. Ia membawa kita kepada Yesus. Maka semakin sungguh kita berdoa Rosario, seharusnya semakin menyerupai Kristuslah hidup kita: lebih sabar, lebih lembut, lebih mudah mengampuni, lebih peka terhadap orang miskin, dan semakin siap melakukan kehendak Allah.

Bacaan pertama bahkan menunjukkan bahwa kehidupan iman tidak selalu bebas dari ketegangan. Paulus menceritakan perbedaan yang terjadi antara dirinya dan Petrus mengenai sikap terhadap orang bukan Yahudi. Sebelumnya Petrus biasa makan bersama mereka, tetapi kemudian ia menarik diri karena takut terhadap kelompok tertentu. Paulus menegurnya karena tindakan itu tidak sejalan dengan kebenaran Injil. Ini mengingatkan kita bahwa orang yang berdoa bukan orang yang melarikan diri dari kenyataan. Doa justru memberi kejernihan untuk melihat apa yang benar dan keberanian untuk memperjuangkannya. Rosario tidak membuat kita menutup mata terhadap persoalan keluarga, Gereja atau masyarakat. Sebaliknya, setelah berdoa kita harus mempunyai hati yang lebih jernih untuk berdamai, mengampuni, memperbaiki kesalahan dan membangun persekutuan.

Saudara-saudari, karena itu jangan meremehkan doa yang sederhana. Ada saat ketika kita tidak tahu lagi harus berkata apa kepada Tuhan. Ada masalah yang belum selesai, penyakit yang belum sembuh, keluarga yang sedang bergumul, masa depan yang belum jelas. Pada saat seperti itu, ambillah Rosario dan berdoalah. Mungkin setelah satu Rosario persoalan kita belum selesai. Tetapi sesuatu dapat mulai berubah di dalam diri kita: ketakutan perlahan menjadi kepercayaan, kegelisahan menjadi penyerahan, kemarahan menjadi pengampunan, dan keputusasaan mulai memberi tempat kepada pengharapan. Doa tidak selalu segera mengubah keadaan, tetapi doa mengubah hati kita agar mampu menjalani keadaan bersama Tuhan.

Maka pada Peringatan Maria Ratu Rosario ini, marilah kita mengulangi permohonan para murid: “Tuhan, ajarlah kami berdoa.” Dan marilah kita meminta Maria menemani kita dalam sekolah doa itu. Ketika jari kita memindahkan butir demi butir Rosario, biarlah hati kita semakin dekat kepada Kristus. Ketika mulut mengucapkan Salam Maria, biarlah kehidupan kita perlahan-lahan belajar mengatakan seperti Maria: “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Sebab tujuan Rosario bukan supaya kita selesai mengucapkan banyak doa, tetapi supaya setelah berdoa kita menjadi manusia yang berbeda: lebih percaya kepada Bapa, lebih dekat kepada Kristus, lebih terbuka kepada kehendak Allah, dan lebih mampu mengasihi sesama. Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com