
Yes 5:1–7; Mzm 80:9.12–16.19–20; Flp 4:6–9; Mat 21:33–43
Kita Bukan Pemilik Kebun Anggur
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com|| Dalam Injil hari ini Yesus menceritakan seorang tuan yang membuka kebun anggur, memagarinya, menggali tempat pemerasan, mendirikan menara, lalu mempercayakannya kepada para penggarap. Di sinilah letak persoalannya: para penggarap itu kemudian bertindak seolah-olah mereka adalah pemiliknya. Ketika sang pemilik mengutus hamba-hambanya untuk mengambil hasil yang menjadi haknya, mereka menolak, memukul, bahkan membunuh para utusan itu. Akhirnya anak sang pemilik pun dibunuh. Dosa terbesar mereka bukan karena tidak bekerja. Mereka bekerja. Mereka mengelola kebun itu. Persoalannya ialah mereka melupakan siapa pemilik kebun anggur itu. Mereka menerima kepercayaan, tetapi kemudian mengubah kepercayaan menjadi kepemilikan. Mereka menerima perutusan, tetapi kemudian menjalankan kehendak sendiri. Mereka lupa bahwa penggarap bertanggung jawab kepada pemilik: bukan menentukan sendiri tujuan kebun, melainkan menjalankan maksud Sang Pemilik dan menghasilkan buah bagi-Nya.
Bukankah godaan yang sama dapat terjadi dalam hidup kita? Kita menerima kehidupan, lalu merasa hidup ini milik kita sepenuhnya. Kita menerima kemampuan, jabatan, harta, keluarga, pelayanan dan orang-orang yang dipercayakan kepada kita, lalu perlahan berkata dalam hati: “Ini milikku.” Bahkan di dalam Gereja godaan itu dapat muncul: “Ini parokiku, ini kelompokku, ini tarekatku, ini yayasanku, ini karyaku, ini umatku.” Padahal semuanya adalah kebun anggur Tuhan. Gereja bukan milik imam, uskup, tarekat, kelompok atau siapa pun. Panggilan bukan milik kita. Jabatan bukan milik kita. Bahkan buah pelayanan bukan milik kita. Semuanya dipercayakan untuk dirawat menurut kehendak Sang Pemilik. Maka pertanyaan seorang murid bukan pertama-tama, “Apa yang ingin saya lakukan dengan apa yang saya miliki?”, melainkan, “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki kulakukan dengan apa yang Engkau percayakan kepadaku?” Inilah perbedaan antara pemilik dan penggarap. Pemilik menentukan menurut kehendaknya sendiri; penggarap mendengarkan kehendak pemilik dan mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diterimanya.
Di sinilah St. Fransiskus dari Assisi menjadi penafsir Injil yang hidup. Ketika di San Damiano ia mendengar panggilan, “Fransiskus, pergilah, perbaikilah rumah-Ku,” ia tidak kemudian membangun “Gereja Fransiskus”. Ia tidak berkata, “Sekarang aku mempunyai proyekku sendiri.” Sebaliknya, semakin dalam ia mengenal Kristus, semakin ia menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan. Karena itu ia dapat menjadi frater minor—saudara dina. Ia tidak perlu memiliki untuk dapat mengasihi. Ia tidak perlu menguasai untuk dapat melayani. Ia tidak perlu menjadi pusat untuk dapat menghasilkan buah. Bahkan ketika banyak saudara mulai mengikutinya, ia menyadari bahwa mereka bukan miliknya. Dalam Wasiatnya, Fransiskus mengatakan bahwa Tuhanlah yang memberikan saudara-saudara kepadanya. Perhatikan bahasanya: Tuhan memberikan. Saudara adalah pemberian, bukan milik. Panggilan adalah pemberian. Karya adalah pemberian. Segala sesuatu diterima sebagai anugerah dan karena itu harus dijalani dengan rasa syukur dan dikembalikan kepada Allah.
Kesadaran bahwa dirinya bukan pemilik justru membuat Fransiskus bebas menjadi saudara bagi semua. Ia dapat mendekati orang kusta karena tidak lagi sibuk mempertahankan kenyamanan dirinya. Ia dapat hidup bersama orang miskin karena tidak lagi mengukur hidup dari banyaknya yang dimiliki. Ia dapat mendatangi Sultan dalam suasana Perang Salib karena orang yang tidak ingin menguasai dapat datang kepada orang lain dengan damai. Ia dapat menyebut matahari saudara, bulan saudari, air saudari, dan bumi ibu, sebab ciptaan tidak dipandang sebagai benda yang boleh dieksploitasi sesuka hati, tetapi sebagai anugerah Sang Pencipta yang harus dihormati dan dirawat. Bahkan tubuh dan hidupnya sendiri tidak dianggap sebagai milik mutlak yang harus dipertahankan. Semuanya dapat dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Inilah kemiskinan Fransiskan yang paling dalam: bukan sekadar tidak mempunyai barang, tetapi tidak menjadikan diri sebagai pemilik atas anugerah Allah.
Kalau kita sungguh percaya bahwa kita hanyalah penggarap, cara kita hidup akan berubah. Terhadap alam: bukan “berapa banyak yang dapat saya ambil?”, tetapi “bagaimana saya merawat ciptaan yang dipercayakan Tuhan?” Dalam keluarga: pasangan dan anak bukan milik yang dapat kita atur sesuka hati, tetapi pribadi yang dipercayakan untuk dicintai dan dibantu bertumbuh. Dalam Gereja: umat bukan milik pastor, dan karya bukan milik kelompok tertentu; kita semua bekerja di kebun anggur yang sama. Dalam jabatan: kewenangan bukan hak untuk menguasai, melainkan tanggung jawab untuk melayani. Dalam harta: bukan hanya “berapa banyak yang saya punya?”, tetapi “untuk kebaikan apa Tuhan mempercayakan ini kepadaku?” Bahkan terhadap diri sendiri kita belajar berkata: waktu, kesehatan, kemampuan dan hidup ini adalah titipan. Karena itu pertanyaan setiap malam seharusnya bukan hanya, “Apa yang berhasil kulakukan hari ini?”, tetapi “Buah apa yang kuhasilkan dari apa yang Tuhan percayakan kepadaku?”
Dan suatu hari Sang Pemilik akan datang meminta buah. Ia tidak pertama-tama bertanya seberapa besar kebun yang berhasil kita kuasai, tetapi apa yang kita lakukan dengan kebun yang dipercayakan kepada kita. Apakah orang yang dipercayakan kepada kita menjadi lebih hidup karena kehadiran kita? Apakah keluarga menjadi lebih penuh kasih? Apakah Gereja menjadi lebih bersaudara? Apakah orang miskin semakin diperhatikan? Apakah bumi semakin terawat? Apakah melalui pelayanan kita orang semakin dekat kepada Kristus, atau justru semakin bergantung kepada kita? Inilah pertanyaan yang tajam: apakah saya sedang menggarap kebun anggur Tuhan, atau diam-diam sedang mengubahnya menjadi kebun anggur saya sendiri? St. Fransiskus menunjukkan bahwa semakin kita berhenti menjadi pemilik, semakin kita mampu menjadi saudara; semakin kita melepaskan keinginan menguasai, semakin kita bebas untuk melayani.
Saudara-saudari, delapan ratus tahun sesudah Transitus St. Fransiskus, mungkin warisan yang perlu kita hidupkan kembali sangat sederhana: semuanya adalah anugerah, semuanya dipercayakan, semuanya harus menghasilkan buah, dan semuanya akhirnya dikembalikan kepada Allah. Kita bukan pemilik kebun anggur. Kita adalah penggarap. Karena itu marilah kita menerima dengan syukur, merawat dengan tanggung jawab, melayani dengan rendah hati, menghasilkan buah dengan setia, lalu mengembalikan semuanya kepada Sang Pemilik. Dan ketika perjalanan hidup kita selesai, semoga kita dapat berdoa bersama Fransiskus: “Tuhan, semuanya berasal dari-Mu. Saudara-saudaraku adalah milik-Mu. Gereja adalah milik-Mu. Ciptaan adalah milik-Mu. Karya dan buahnya adalah milik-Mu. Bahkan hidupku adalah milik-Mu. Aku hanyalah orang yang menerima dan dipercaya. Terimalah kembali semuanya, dan jadikanlah aku saudara dina yang setia bekerja di kebun anggur-Mu.”
Amin.