Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Sabtu Pekan XXVI Masa Biasa

Ayb 42:1–3.5–6.12–17; Mzm 119; Luk 10:17–24

Bersukacitalah karena Namamu Terdaftar di Surga

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com||  Tujuh puluh dua murid kembali dari perutusan dengan penuh kegembiraan. Mereka berkata, “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Mereka baru saja mengalami keberhasilan besar: pewartaan mereka mempunyai daya, kejahatan dikalahkan, dan pelayanan mereka menghasilkan buah. Yesus tidak mengatakan bahwa sukacita itu salah. Ia sendiri bersukacita atas kemenangan Kerajaan Allah. Tetapi Yesus segera memurnikan alasan sukacita mereka: “Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” Dengan kata lain: jangan menjadikan apa yang berhasil kamu lakukan bagi Tuhan sebagai alasan utama sukacitamu; bersukacitalah terutama karena siapa dirimu di hadapan Tuhan. Keberhasilan pelayanan dapat berubah; hari ini berhasil, besok gagal. Orang dapat memuji hari ini dan mengkritik besok. Tetapi ada sukacita yang lebih dalam: aku dikenal, dikasihi, dipanggil dan menjadi milik Allah.

Apa artinya “namamu terdaftar di surga”? Dalam Kitab Suci terdapat gambaran tentang kitab kehidupan: nama mereka yang menjadi milik Allah tercatat di hadapan-Nya. Ini bukan terutama gambaran tentang sebuah buku atau daftar administratif di surga. Bahasa itu menyatakan relasi, kepemilikan dan tujuan hidup: hidup kita dikenal Allah dan diarahkan kepada persekutuan kekal dengan-Nya. Nama sangat pribadi. Tuhan tidak mengenal kita sebagai nomor, statistik, jabatan atau fungsi. Ia mengenal nama kita. Maka “namamu terdaftar di surga” berarti: engkau mempunyai tempat di hati Allah; hidupmu berharga di hadapan-Nya; engkau dipanggil kepada kehidupan bersama-Nya. Inilah dasar sukacita Kristiani. Sebelum kita menghasilkan sesuatu bagi Allah, Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita. Sebelum menjadi pekerja Kerajaan-Nya, kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya.

Ini penting karena kita sering menggantungkan kebahagiaan pada keberhasilan: usaha berkembang, pekerjaan berhasil, anak-anak sukses, pelayanan dipuji, kesehatan baik, doa dikabulkan. Ketika semuanya berjalan lancar, kita berkata, “Tuhan sungguh baik.” Tetapi ketika usaha gagal, penyakit datang, pelayanan tidak dihargai, doa terasa tidak dijawab, sukacita kita ikut runtuh. Yesus hari ini mengajak kita memindahkan jangkar sukacita lebih dalam. Jangan hanya bersukacita karena apa yang dapat kita lakukan, tetapi karena siapa yang memiliki hidup kita. Jangan hanya bersukacita karena doa dikabulkan, tetapi karena kita mempunyai Allah kepada siapa kita dapat berdoa. Jangan hanya bersukacita karena pelayanan berhasil, tetapi karena Tuhan berkenan memanggil kita menjadi murid-Nya. Maka bahkan ketika kita mengalami kegagalan, kita masih mempunyai alasan untuk berkata: “Aku mungkin gagal dalam banyak hal, tetapi aku tidak kehilangan kasih Allah.”

Ayub dalam bacaan pertama menjadi contoh yang sangat indah. Setelah melewati penderitaan yang luar biasa, ia berkata kepada Allah: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Pada akhirnya, pengalaman terbesar Ayub bukan bahwa kekayaannya dipulihkan. Yang terbesar adalah ia mengenal Allah secara lebih dalam. Ia kehilangan banyak hal, tetapi justru menemukan hubungan dengan Allah yang tidak lagi hanya berdasarkan apa yang didengarnya dari orang lain. Demikian juga para murid: mukjizat dan keberhasilan pewartaan bukanlah hadiah terbesar. Hadiah terbesar adalah mengenal Allah dan dikenal oleh-Nya. Itulah sebabnya Yesus sendiri kemudian bersukacita dalam Roh Kudus dan bersyukur kepada Bapa. Sukacita terdalam selalu kembali kepada relasi dengan Allah.

Maka hari ini kita dapat bertanya: Apa alasan utama saya bersukacita? Kalau semua keberhasilan saya diambil, apakah saya masih dapat bersukacita karena mempunyai Tuhan? Kalau jabatan berakhir, kesehatan menurun, orang tidak lagi memuji, karya yang kita bangun diteruskan orang lain, apakah hati kita masih mempunyai dasar untuk bersukacita? Yesus berkata: “Bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.” Artinya: jangan biarkan nilai dirimu ditentukan oleh prestasi, kekayaan, popularitas atau penilaian manusia. Bersyukurlah atas keberhasilan, tetapi jangan jadikan keberhasilan sebagai identitas. Ketika berhasil, tetaplah rendah hati; ketika gagal, jangan kehilangan harapan. Sebab sukacita terbesar kita bukan bahwa dunia mengenal nama kita, melainkan Allah mengenal nama kita; bukan bahwa nama kita tercatat dalam sejarah manusia, tetapi bahwa hidup kita diarahkan kepada persekutuan kekal bersama-Nya. Maka dalam keberhasilan maupun kegagalan, marilah berkata: “Tuhan, cukuplah bagiku mengetahui bahwa Engkau mengenalku, mengasihiku, memanggilku dengan namaku, dan menghendaki aku hidup bersama-Mu.” Inilah sukacita yang tidak dapat dirampas dunia.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com