Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap Senin, Pekan Biasa XXI

PESTA SANTO BARTOLOMEUS, RASUL
Why. 21:9b–14; Mzm. 145:10–13.17–18; Yoh. 1:45–51

Mari dan Lihatlah: Dipanggil Menjadi Jembatan

Komsos.com||Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan. Injil hari ini menceritakan sebuah perjumpaan yang sederhana tetapi mengubah kehidupan. Filipus telah berjumpa dengan Yesus. Kemudian ia menemui Natanael dan berkata, “Kami telah menemukan Dia.” Natanael tidak langsung percaya. Ia bahkan bertanya dengan nada meragukan, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Filipus tidak marah, tidak berdebat, dan tidak memaksa. Ia hanya berkata, “Mari dan lihatlah!” Inilah cara yang sangat indah untuk bermisi. Filipus menjadi jembatan: ia mempertemukan Natanael dengan Yesus. Sesudah itu ia membiarkan Yesus sendiri menyentuh dan mengubah hati Natanael.

Ketika Natanael datang, Yesus berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya.” Natanael terkejut: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Yesus menjawab bahwa sebelum Filipus memanggilnya, Ia sudah melihatnya di bawah pohon ara. Natanael kemudian mengakui, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel.” Di sinilah kita menemukan dasar setiap perutusan. Sebelum menjadi jembatan bagi orang lain, kita sendiri harus berjumpa dengan Kristus. Kita tidak dapat membawa orang kepada Yesus kalau kita sendiri tidak mengenal-Nya. Kita tidak dapat membawa kasih kalau hati kita tidak pernah disentuh oleh kasih-Nya. Kita tidak dapat membawa pengampunan kalau kita sendiri tidak mengalami diri sebagai orang yang diampuni. Perutusan selalu dimulai dari perjumpaan.

Kemudian Yesus berkata sesuatu yang sangat indah: “Engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Gambaran ini mengingatkan kita pada mimpi Yakub tentang tangga yang menghubungkan bumi dengan surga. Tetapi sekarang tangga itu bukan lagi sebuah benda. Yesus sendirilah jembatan itu. Dalam diri-Nya, Allah datang mendekati manusia dan manusia memperoleh jalan menuju Allah. Bahkan seluruh kehidupan Yesus adalah kehidupan yang membangun jembatan: Ia mendekati orang berdosa, menyentuh orang kusta, menerima mereka yang disingkirkan, mengampuni mereka yang jatuh, dan mempertemukan kembali manusia dengan Allah. Puncaknya adalah salib: tangan-Nya terbentang seakan merangkul dua sisi yang terpisah dan memperdamaikannya.

Kalau Kristus adalah jembatan, maka orang yang mengikuti Kristus juga dipanggil menjadi pembangun jembatan. Dan ini sangat konkret. Ada begitu banyak jarak dalam kehidupan kita: antara suami dan istri, orang tua dan anak, generasi tua dan generasi muda, kaya dan miskin, kelompok yang berbeda, bahkan di dalam komunitas Gereja sendiri. Kadang-kadang kita malah memperlebar jarak itu melalui gosip, prasangka, kesombongan, iri hati, atau keinginan selalu merasa benar. Injil hari ini menawarkan jalan lain. Jangan memperlebar jurang; bangunlah jembatan. Dengarkan sebelum menghakimi. Datangi sebelum menyalahkan. Berdialog sebelum memutuskan hubungan. Ampuni sebelum luka berubah menjadi kebencian. Kadang-kadang sebuah jembatan dimulai hanya dengan satu keberanian sederhana: mengambil langkah pertama menuju orang lain.

Tetapi berjalan di atas jembatan membutuhkan keberanian dan keseimbangan. Seorang anak belajar berjalan karena ada tangan orang tua yang memegang dan menuntunnya. Orang lanjut usia pun kadang membutuhkan tangan orang lain agar dapat terus berjalan. Demikian juga hidup bersama dalam Gereja. Tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada yang imannya kuat, ada yang sedang ragu; ada yang bersemangat, ada yang terluka; ada yang sudah lama aktif, ada yang baru mulai mendekat. Gereja yang berjalan bersama bukan Gereja yang berkata kepada yang lambat, “Cepatlah, kalau tidak kami tinggalkan.” Gereja sinodal justru bertanya, “Siapa yang tertinggal? Siapa yang membutuhkan tangan? Bagaimana kita dapat berjalan bersama?” Kasih kadang berarti memperlambat langkah kita supaya orang lain tidak tertinggal.

Bacaan pertama memberikan gambaran tentang Yerusalem baru yang memiliki dua belas pintu gerbang dan dua belas batu dasar dengan nama para Rasul Anak Domba. Gambaran itu mengingatkan kita bahwa para rasul, termasuk Santo Bartolomeus yang kita rayakan hari ini, menjadi bagian dari karya Allah untuk menghimpun umat-Nya. Mereka tidak menjadi pusat keselamatan; Kristuslah pusatnya. Mereka menjadi dasar dan pelayan yang membawa manusia kepada Kristus. Inilah juga panggilan Gereja. Gereja tidak boleh menjadi tembok yang membuat orang sulit datang kepada Allah. Gereja harus menjadi jembatan dan pintu perjumpaan: tempat orang yang terluka menemukan penghiburan, yang berdosa menemukan jalan pertobatan, yang kesepian menemukan saudara, dan yang kehilangan harapan menemukan alasan untuk berdiri kembali.

Saudara-saudari, hari ini Santo Bartolomeus mengajak kita bertanya: bagi siapa saya dipanggil menjadi Filipus? Jembatan apa yang Tuhan minta saya bangun? Mungkin ada seseorang dalam keluarga yang sudah lama tidak kita sapa. Mungkin ada persahabatan yang rusak. Mungkin ada orang yang menjauh dari Gereja karena pernah terluka. Mungkin ada dua kelompok yang sulit duduk bersama. Jangan selalu menunggu orang lain mengambil langkah pertama. Filipus pergi mencari Natanael dan berkata, “Mari dan lihatlah.” Kita pun diutus melakukan hal yang sama: bukan membawa orang kepada diri kita, tetapi membantu mereka berjumpa dengan Kristus. Semoga melalui cara kita mendengarkan, mengampuni, melayani, merangkul dan membawa damai, orang lain akhirnya dapat melihat bahwa Kristus masih hidup dan sedang mendekati mereka. Jadilah jembatan, supaya melalui hidup kita semakin banyak orang menemukan jalan kepada Yesus.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com