Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap,Jumat Pekan Biasa XX

Peringatan St. Pius X, Paus
Yeh. 37:1–14; Mzm. 107; Mat. 22:34–40

Kasih yang Menghidupkan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Bacaan pertama membawa kita ke sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan: lembah yang penuh dengan tulang-tulang yang sangat kering. Tulang-tulang itu menggambarkan bangsa Israel yang telah kehilangan segala harapan. Mereka sendiri berkata, “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering dan harapan kami sudah hilang.” Tetapi tulang-tulang kering itu juga dapat menjadi gambaran hidup kita. Seseorang dapat masih hidup, bekerja, beraktivitas, bahkan beribadah, tetapi hatinya sudah “kering”: kehilangan sukacita, kehilangan semangat, tidak mampu mengampuni, tidak lagi mempunyai harapan. Keluarga dapat tinggal dalam satu rumah, tetapi kasihnya mengering. Komunitas dapat mempunyai banyak kegiatan, tetapi persaudaraannya mati. Pertanyaannya: dapatkah yang sudah kering itu hidup kembali?

Tuhan bertanya kepada Yehezkiel, “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Yehezkiel tidak menjawab dengan putus asa, tetapi juga tidak dengan keyakinan pada kemampuannya sendiri. Ia berkata, “Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahui.” Kemudian terjadilah sesuatu yang luar biasa. Firman Allah disampaikan, tulang-tulang bergerak dan tersusun kembali; lalu Roh Allah dihembuskan dan mereka hidup serta berdiri. Tuhan berkata, “Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalam kamu, sehingga kamu hidup.” Pesannya sangat meneguhkan: tidak ada kehidupan yang terlalu kering untuk dihidupkan kembali oleh Allah. Tidak ada luka yang terlalu dalam, keluarga yang terlalu hancur, orang yang terlalu jauh, atau masa depan yang terlalu gelap bagi kuasa Roh Allah.

Injil kemudian menunjukkan kepada kita napas yang membuat kehidupan itu sungguh hidup: kasih. Ketika ditanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu,” dan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Seluruh hukum bergantung pada kedua perintah ini. Artinya, kita dapat mempunyai banyak hal dalam hidup, tetapi tanpa kasih semuanya seperti tubuh yang sudah tersusun namun belum mempunyai napas. Kita dapat rajin beribadah, mengetahui banyak ajaran, aktif dalam pelayanan, mempunyai jabatan dan kemampuan, tetapi kalau hati dipenuhi kebencian, iri hati, kesombongan dan ketidakpedulian, ada sesuatu yang sedang mengering dalam diri kita. Kasih adalah napas yang membuat iman menjadi hidup.

Tetapi kasih yang dimaksud Yesus bukan sekadar perasaan senang terhadap seseorang. Kasih adalah kekuatan yang menghidupkan. Mengasihi berarti berani mengampuni ketika hubungan mulai mati; menyapa ketika persaudaraan mulai renggang; mendengarkan ketika seseorang merasa sendirian; menolong ketika orang lain hampir menyerah; dan tetap melakukan kebaikan meskipun tidak mendapatkan balasan. Karena itu, kalau kita ingin mengetahui apakah kasih sungguh hidup dalam diri kita, jangan hanya bertanya, “Apakah saya mencintai Tuhan?” Bertanyalah juga, “Siapa yang menjadi lebih hidup karena kehadiran saya?” Apakah orang yang tinggal bersama saya merasa diteguhkan, dihargai dan mempunyai harapan? Kasih kepada Allah yang tidak menghidupkan kasih kepada sesama belum mencapai kepenuhannya.

Hari ini Gereja memperingati St. Pius X, Paus yang berusaha membawa umat semakin dekat kepada sumber kehidupan, yaitu Kristus, khususnya melalui Ekaristi. Ia mendorong umat untuk lebih sering menerima Komuni Kudus dan membuka jalan agar anak-anak dapat menerima Komuni pada usia yang lebih dini setelah memperoleh persiapan yang memadai. Semangatnya dapat diringkas dalam kerinduan agar segala sesuatu diperbarui dalam Kristus. Gereja tidak cukup mempunyai struktur, aturan, gedung, dan kegiatan. Semua itu diperlukan, tetapi semuanya dapat menjadi seperti tulang-tulang yang tersusun rapi apabila kehilangan Roh dan kasih. Gereja sungguh hidup ketika Kristus menjadi pusatnya dan kasih-Nya mengalir melalui umat kepada sesama.

Maka hari ini marilah kita melihat ke dalam diri dan bertanya: bagian mana dalam hidup saya yang sudah menjadi tulang kering? Mungkin doa kita mulai kering, kasih dalam keluarga mulai dingin, hubungan dengan seseorang sudah mati, semangat pelayanan mulai hilang, atau kita hampir kehilangan pengharapan. Jangan menyerah. Bawalah semuanya kepada Tuhan dan berdoalah: “Tuhan, hembuskanlah Roh-Mu ke dalam diriku. Hidupkan kembali apa yang telah mati. Hidupkan kembali kasihku.” Kemudian mulailah dengan satu tindakan kasih: mengampuni, meminta maaf, menyapa, mengunjungi, mendengarkan atau menolong. Sebab kasih Allah menghidupkan kita supaya melalui kita orang lain pun memperoleh kehidupan.
Amin.

 

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com