
Yeh. 34:1–11; Mzm. 23; Mat. 20:1–16a
Mengapa Engkau Iri Karena Aku Murah Hati?
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com||Ada satu sifat Allah yang sangat kuat muncul dari kedua bacaan hari ini: Allah itu murah hati. Dalam bacaan pertama, kemurahan hati Allah muncul ketika Ia melihat domba-domba-Nya tidak digembalakan dengan baik. Para gembala Israel justru menggembalakan dirinya sendiri. Mereka menikmati susu, mengenakan bulu domba, menyembelih yang gemuk, tetapi tidak menguatkan yang lemah, tidak mengobati yang sakit, tidak membalut yang terluka, tidak membawa pulang yang tersesat, dan tidak mencari yang hilang. Domba yang seharusnya dilayani justru dimanfaatkan. Maka Tuhan berkata dengan sangat tegas: “Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya.” Ketika manusia gagal mengasihi, Allah sendiri turun tangan. Ketika gembala mencari keuntungan dari domba, Allah datang mencari domba demi keselamatan domba itu.
Di sinilah kita menemukan perbedaan besar antara gembala sejati dan gembala palsu. Gembala palsu bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari domba-domba ini?” Gembala sejati bertanya, “Apa yang dapat saya berikan agar domba-domba ini hidup?” Dan ini bukan hanya ditujukan kepada imam atau pemimpin Gereja. Kita semua dipercayakan “domba” oleh Tuhan. Orang tua dipercayakan anak-anak. Guru dipercayakan murid. Pemimpin dipercayakan masyarakat. Atasan dipercayakan bawahan. Imam dipercayakan umat. Setiap bentuk kepemimpinan dapat berubah menjadi pencarian diri ketika orang-orang yang dipercayakan kepada kita mulai dipandang sebagai sarana untuk kepentingan, kehormatan, keuntungan, atau kekuasaan kita. Sabda Tuhan hari ini mengingatkan: orang dipercayakan kepada kita bukan untuk dimanfaatkan, tetapi untuk dikasihi dan dilayani.
Kemurahan hati Allah kemudian muncul dalam bentuk lain dalam Injil. Seorang pemilik kebun anggur keluar mencari pekerja sejak pagi. Ia keluar lagi pukul sembilan, tengah hari, pukul tiga, bahkan pukul lima sore. Ketika hari berakhir, ia memberikan satu dinar kepada setiap pekerja. Mereka yang bekerja sejak pagi mulai bersungut-sungut: “Mereka yang masuk terakhir hanya bekerja satu jam, tetapi engkau menyamakan mereka dengan kami.” Secara manusiawi kita mungkin memahami keberatan mereka. Tetapi tuan itu menjawab, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?” Tidak seorang pun dirugikan. Mereka yang bekerja sejak pagi menerima tepat seperti yang telah dijanjikan. Persoalannya muncul bukan karena tuan itu tidak adil, tetapi karena ia terlalu murah hati kepada orang lain.
Lalu keluarlah kalimat yang membongkar hati manusia: “Iri hatikah engkau karena aku murah hati?” Inilah hakikat iri hati yang sangat menarik: iri hati adalah ketidaknyamanan yang muncul ketika melihat orang lain menerima kebaikan. Kita tidak kehilangan apa-apa, tetapi kita tidak senang karena orang lain mendapat sesuatu. Tuhan memberkati orang lain, kita terganggu. Orang lain berhasil, kita gelisah. Orang lain dipuji, kita merasa berkurang. Orang yang baru datang mendapat kesempatan, kita berkata, “Saya sudah lebih lama di sini.” Orang yang pernah jauh dari Tuhan bertobat dan diterima kembali, kita merasa, “Mengapa begitu mudah?” Kita tidak dirugikan, tetapi kemurahan hati kepada orang lain terasa seperti ketidakadilan terhadap kita. Itulah iri hati.
Mengapa iri hati muncul? Karena kita mulai membandingkan rahmat. Para pekerja pertama sebenarnya bahagia menerima satu dinar—sampai mereka melihat apa yang diterima orang lain. Masalah mereka bukan pada satu dinar, melainkan pada perbandingan. Demikian juga kita. Banyak hal yang sebenarnya cukup membuat kita bersyukur berubah menjadi sumber ketidakpuasan ketika mulai dibandingkan dengan hidup orang lain. Saya mempunyai sesuatu yang baik, tetapi melihat orang lain mempunyai lebih banyak, lalu saya tidak lagi bersyukur. Perbandingan dapat mengubah berkat menjadi keluhan. Iri hati membuat kita tidak lagi melihat apa yang telah diberikan Allah kepada kita karena mata terlalu sibuk menghitung apa yang diberikan-Nya kepada orang lain.
Tetapi perumpamaan ini mempunyai pesan yang lebih dalam. Kerajaan Allah bukan perusahaan yang menghitung rahmat berdasarkan jam kerja. Kasih Allah bukan upah yang kita peroleh karena kita lebih lama menjadi Katolik, lebih banyak berdoa, lebih aktif melayani, atau merasa lebih baik daripada orang lain. Semuanya adalah rahmat. Orang yang sejak kecil setia kepada Tuhan hidup dari rahmat; orang yang bertobat pada akhir hidupnya juga diselamatkan oleh rahmat. Karena itu tidak ada seorang pun yang dapat berdiri di hadapan Allah dan berkata, “Tuhan berutang kepadaku.” Kita semua hidup karena kemurahan hati-Nya.
Bahkan mungkin kita perlu melihat perumpamaan ini dari sudut yang berbeda. Kita sering merasa diri sebagai pekerja yang datang paling pagi. Tetapi bagaimana kalau sebenarnya di hadapan Allah kita adalah pekerja yang datang pukul lima sore? Bagaimana kalau dibandingkan dengan begitu banyak rahmat yang telah kita terima, jawaban kita kepada Allah sebenarnya sangat kecil? Kita berdosa berkali-kali, tetapi tetap diberi kesempatan. Kita jatuh, tetapi diangkat kembali. Kita menjauh, tetapi dicari. Kita kurang setia, tetapi tetap dikasihi. Kalau kita menyadari betapa murah hati Allah kepada kita, kita akan semakin sulit iri terhadap kemurahan hati-Nya kepada orang lain.
Maka pertobatan yang diminta Sabda hari ini sangat konkret: belajarlah bersukacita karena kebaikan yang diterima orang lain. Ketika teman berhasil, bersyukurlah. Ketika saudara mendapat kesempatan, dukunglah. Ketika seseorang yang pernah jatuh diberi kesempatan kedua, jangan ungkit masa lalunya. Ketika orang berdosa kembali kepada Tuhan, sambutlah. Ketika Allah memberkati orang lain dengan cara yang berbeda dari kita, katakanlah, “Terima kasih, Tuhan, karena Engkau juga baik kepadanya.” Itulah salah satu tanda hati yang semakin menyerupai hati Allah: kita bukan hanya bersyukur karena Allah baik kepada kita, tetapi mampu bersukacita karena Allah baik kepada orang lain.
Saudara-saudari, dua bacaan hari ini akhirnya memperlihatkan satu wajah Allah yang sama. Dalam Yehezkiel, Allah berkata, “Aku sendiri akan mencari domba-domba-Ku.” Dalam Injil, pemilik kebun anggur terus keluar mencari pekerja bahkan sampai menjelang petang. Allah adalah Allah yang terus keluar mencari manusia. Ia mencari domba yang hilang dan mencari pekerja yang belum mendapat tempat. Ia tidak mudah menyerah terhadap manusia. Dan ketika menemukan mereka, Ia tidak pelit memberikan rahmat-Nya.
Maka janganlah kita menjadi gembala yang memanfaatkan domba, dan jangan menjadi pekerja yang iri terhadap pekerja lain. Belajarlah mempunyai hati seperti hati Allah: murah hati. Jangan bertanya, “Mengapa dia mendapat sebanyak itu?” tetapi bertanyalah, “Bagaimana saya dapat ikut bersukacita karena Allah baik kepadanya?” Sebab pada akhirnya Kerajaan Allah bukanlah tempat orang saling menghitung siapa yang paling berjasa. Kerajaan Allah adalah perjamuan orang-orang yang sadar bahwa semuanya hidup dari kemurahan hati Bapa. Dan betapa indahnya jika suatu hari kita mampu berkata dengan tulus: “Tuhan, aku bersyukur bukan hanya karena Engkau baik kepadaku, tetapi juga karena Engkau begitu baik kepada saudara-saudariku.”
Amin.