Renungan Harian Uskup Mgr Kornelius Sipayung OFMCap,Sabtu Pekan Biasa XX


Peringatan St. Perawan Maria, Ratu
Yeh 43:1–7a; Mzm 85; Mat 23:1–12

Memperpendek Jarak antara Kata dan Perbuatan

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam|| Ada satu kalimat Yesus dalam Injil hari ini yang sangat tajam: “Mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya” (Mat. 23:3). Yesus sedang berbicara tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Persoalan mereka bukan karena apa yang mereka ajarkan semuanya salah. Yesus bahkan mengatakan agar orang mendengarkan ajaran yang benar. Masalahnya terletak pada jarak antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan. Mereka mengajarkan sesuatu kepada orang lain, tetapi hidup mereka sendiri tidak sesuai dengan ajaran itu. Inilah salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan beriman: kita mengetahui yang benar, mengatakan yang benar, bahkan mengajarkan yang benar, tetapi tidak melakukannya.

Hidup beriman memang selalu berada dalam tegangan antara kata dan perbuatan. Tidak seorang pun langsung sempurna. Kita semua masih mempunyai jarak antara Injil yang kita percaya dan kehidupan yang kita jalani. Tetapi persoalannya adalah: ke arah mana jarak itu bergerak? Apakah semakin hari semakin dekat, atau justru semakin jauh? Semakin jauh jarak antara kata dan perbuatan, semakin dekat kita kepada bahaya kemunafikan. Kita dapat berbicara tentang kasih tetapi menyimpan kebencian; berbicara tentang pengampunan tetapi tidak mau berdamai; berbicara tentang kesederhanaan tetapi mengejar kemewahan; berbicara tentang pelayanan tetapi mencari kehormatan; berbicara tentang kejujuran tetapi melakukan ketidakjujuran. Kemunafikan dimulai ketika mulut berjalan ke satu arah, tetapi kehidupan berjalan ke arah yang lain.

Yesus kemudian menunjukkan mengapa jarak itu dapat semakin lebar. Para ahli Taurat dan Farisi mulai melakukan sesuatu “supaya dilihat orang.” Mereka menyukai tempat terhormat, penghormatan, gelar dan pengakuan. Ketika hidup beriman mulai diarahkan kepada penampilan, kita lebih sibuk membangun kesan daripada membangun karakter. Kita ingin terlihat baik daripada sungguh-sungguh menjadi baik. Dan godaan ini semakin kuat pada zaman media sosial. Sangat mudah menampilkan doa, pelayanan, kebaikan dan kesalehan kepada orang lain. Tentu tidak salah membagikan sesuatu yang baik. Tetapi kita harus terus bertanya: Apakah yang tampak di luar sungguh sesuai dengan yang ada di dalam? Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita tampilkan; Tuhan melihat siapa kita ketika tidak seorang pun melihat.

Karena itu Yesus menunjukkan jalan keluarnya: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Cara memperpendek jarak antara kata dan perbuatan bukan dengan semakin banyak berbicara, melainkan dengan semakin sungguh melayani. Kalau kita berbicara tentang kasih, lakukanlah satu tindakan kasih. Kalau berbicara tentang pengampunan, mulailah berdamai. Kalau berbicara tentang perhatian kepada orang miskin, bantulah seseorang. Kalau mengajarkan kesederhanaan, hiduplah sederhana. Kalau meminta orang lain jujur, mulailah dari diri sendiri. Kesaksian jauh lebih kuat daripada nasihat. Orang mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita hidup.

Bacaan pertama memberikan gambaran yang indah: Nabi Yehezkiel melihat kemuliaan Tuhan kembali memenuhi Bait Allah. Allah hendak tinggal di tengah umat-Nya. Inilah tujuan kehidupan beriman: bukan sekadar agar kita mengetahui banyak hal tentang Allah, melainkan supaya Allah sungguh tinggal dan tampak dalam kehidupan kita. Hari ini Gereja juga memperingati St. Perawan Maria sebagai Ratu. Maria justru menunjukkan kebalikan dari sikap mencari kehormatan. Ia yang disebut segala keturunan berbahagia memperkenalkan dirinya dengan sederhana: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan.” Kebesarannya lahir dari ketaatan. Dalam diri Maria, kata dan perbuatan semakin menyatu: fiat yang diucapkannya kepada Allah menjadi fiat yang dijalaninya sepanjang hidup sampai di bawah salib.

Saudara-saudari, mungkin kita tidak pernah mampu menghilangkan seluruh jarak antara apa yang kita imani dan apa yang kita lakukan selama masih berziarah di dunia ini. Tetapi setiap hari kita dapat memperpendek jarak itu. Jangan puas menjadi orang yang tahu banyak tentang iman; jadilah orang yang semakin menghidupinya. Jangan hanya pandai mengatakan apa yang seharusnya dilakukan orang lain; mulailah melakukannya sendiri. Dan ketika kita jatuh, jangan menutupi kegagalan dengan kemunafikan; akuilah, bertobatlah, dan mulai kembali. Sebab kekudusan bukan berarti tidak pernah mempunyai jarak antara kata dan perbuatan; kekudusan adalah perjuangan terus-menerus untuk membuat apa yang kita katakan, apa yang kita percaya, dan apa yang kita lakukan semakin menjadi satu.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com