Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap,Selasa Pekan Biasa XXI

 

2Tes. 2:1–3a.14–17; Mzm. 96; Mat. 23:23–26

Transformasi Dimulai dari Dalam

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Dalam Injil hari ini Yesus menggunakan gambaran yang sangat sederhana tetapi tajam: “Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan menjadi bersih.” Sebuah cawan dapat tampak bersih dan mengkilap dari luar, tetapi bagian dalamnya kotor. Yesus memakai gambaran ini untuk menunjukkan bahaya kehidupan beragama yang hanya memperhatikan penampilan. Seseorang dapat kelihatan saleh, rajin berdoa, aktif dalam Gereja, mengetahui banyak ajaran iman, bahkan berbicara indah tentang Tuhan, tetapi semuanya belum tentu menunjukkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam hatinya. Allah tidak hanya melihat apa yang kita tampilkan; Allah melihat dari mana semuanya itu berasal: hati.

Karena itu, transformasi Kristiani selalu bergerak dari dalam ke luar. Kita sering mencoba jalan sebaliknya. Kita memperbaiki perilaku, penampilan, kata-kata, bahkan citra diri supaya terlihat baik di hadapan orang lain. Semua itu dapat berguna, tetapi Yesus mau pergi lebih dalam. Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang kamu lakukan?” tetapi juga, “Dari hati seperti apa tindakan itu lahir?” Kita dapat memberi bantuan kepada orang miskin, tetapi apakah karena kasih atau supaya dipuji? Kita dapat melayani Gereja, tetapi apakah karena mencintai Kristus atau karena ingin dihormati? Kita dapat mengatakan sesuatu yang benar, tetapi apakah untuk menyelamatkan orang atau untuk mempermalukannya? Yesus tidak puas hanya mengubah perbuatan; Ia ingin menyembuhkan sumber yang melahirkan perbuatan itu.

Sebab apa yang ada di dalam hati akhirnya akan mencari jalan keluar. Kalau hati dipenuhi belas kasih, mulut tidak mudah menghina. Kalau hati rendah hati, tangan tidak mudah menunjuk kesalahan orang lain. Kalau hati penuh syukur, kita tidak mudah iri terhadap keberhasilan sesama. Kalau hati sudah berdamai, kita tidak menikmati konflik. Kalau hati dipenuhi kasih, kita tidak mudah bergosip dan menjatuhkan. Sebaliknya, kemarahan yang terus keluar mungkin menunjukkan luka yang belum disembuhkan; iri hati dapat menunjukkan ketidakmampuan mensyukuri diri; kebiasaan merendahkan orang lain dapat berakar pada kesombongan atau ketidakamanan batin. Karena itu Yesus membawa kita ke akar: bersihkanlah dahulu sebelah dalam.

Di sinilah kita memahami pertobatan secara lebih mendalam. Pertobatan bukan kosmetik rohani; pertobatan adalah perubahan hati. Kita tidak hanya memotong buah yang buruk, tetapi membiarkan Tuhan menyembuhkan akarnya. Maka daripada terus bertanya, “Mengapa saya mudah marah?”, masuklah lebih dalam: “Luka apa dalam diriku yang belum sembuh?” Daripada hanya bertanya, “Mengapa saya suka membicarakan kesalahan orang?”, tanyakan: “Mengapa saya merasa lebih baik ketika orang lain kelihatan buruk?” Daripada berkata, “Saya sulit mengampuni,” bertanyalah: “Apa yang masih saya pegang dan belum saya serahkan kepada Tuhan?” Pertobatan sejati membutuhkan keberanian turun ke dalam hati dan membiarkan Kristus menjumpai kita di sana.

Namun membersihkan hati bukan semata-mata pekerjaan kita. Kita membutuhkan rahmat Allah. Santo Paulus dalam bacaan pertama berdoa agar Tuhan menghibur hati umat dan menguatkan mereka dalam setiap pekerjaan dan perkataan yang baik. Artinya, perubahan dari dalam tidak terjadi hanya karena kemauan keras, tetapi karena kita membiarkan Allah bekerja. Doa, Sabda Tuhan, Ekaristi, pemeriksaan batin, Sakramen Tobat, dan keberanian meminta maaf merupakan ruang tempat Tuhan membersihkan hati. Kita tidak datang kepada Tuhan karena hati kita sudah bersih; kita datang justru supaya Dia membersihkannya. Semakin hati disentuh oleh Kristus, semakin kehidupan lahiriah kita perlahan berubah.

Maka, saudara-saudari, hari ini janganlah kita terlalu sibuk membersihkan “cawan” orang lain. Jangan terlalu cepat menunjukkan apa yang salah dalam diri pasangan, anak, teman, rekan kerja, atau saudara sekomunitas. Ambillah cawan kita sendiri dan bawalah kepada Kristus. Berdoalah sederhana: “Tuhan, bersihkanlah dahulu bagian dalam diriku.” Bersihkan kesombonganku supaya aku dapat melayani dengan rendah hati; bersihkan iri hatiku supaya aku dapat bersukacita atas kebaikan orang lain; sembuhkan lukaku supaya aku tidak melukai; bersihkan dendamku supaya aku dapat mengampuni. Sebab ketika hati berubah, cara memandang berubah; ketika cara memandang berubah, perkataan berubah; ketika perkataan berubah, tindakan berubah; dan ketika tindakan berubah, kehidupan pun berubah. Itulah transformasi yang dikehendaki Kristus: dari dalam ke luar, dari hati menuju kehidupan.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com