
PERINGATAN ST. GREGORIUS AGUNG
1Kor 3:18–23; Mzm 24:1–6; Luk 5:1–11
Percayalah Ketika Tuhan Meminta Sesuatu di Luar Perhitungan Kita
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada saat dalam hidup ketika perhitungan kita berkata “tidak mungkin”, tetapi Tuhan berkata “cobalah sekali lagi.” Itulah pengalaman Simon Petrus dalam Injil hari ini. Ia sudah bekerja sepanjang malam dan tidak menangkap apa-apa. Sebagai nelayan, Petrus tahu laut, tahu waktu yang baik untuk menangkap ikan, tahu kapan harus menebarkan jala. Secara profesional, ia lebih berpengalaman daripada Yesus. Maka ketika Yesus berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan,” Petrus sebenarnya mempunyai banyak alasan untuk menolak. Tetapi ia mengatakan kalimat yang menjadi pusat iman hari ini: “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Petrus tidak menyangkal pengalaman dan akal budinya. Ia hanya mengakui bahwa Sabda Tuhan lebih besar daripada seluruh perhitungannya.
Bacaan pertama membantu kita memahami sikap Petrus. Paulus berkata, “Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, hendaklah ia menjadi bodoh, supaya ia benar-benar berhikmat.” Paulus bukan mengajak kita menjadi bodoh atau berhenti menggunakan akal. Iman Kristiani tidak melawan ilmu, pengalaman, perencanaan, atau pertimbangan yang matang. Yang ditolak Paulus adalah kesombongan yang menganggap perhitungan manusia sebagai batas terakhir bagi karya Allah. Kita membutuhkan akal, data, pengalaman dan strategi, tetapi kita juga membutuhkan kerendahan hati untuk berkata: “Tuhan, aku sudah menghitung semuanya, tetapi Engkau melihat sesuatu yang tidak dapat kulihat.” Kebijaksanaan iman dimulai ketika manusia mengakui bahwa Allah lebih besar daripada apa yang dapat dihitung, direncanakan dan dikendalikannya.
Mungkin kita pun pernah mengalami “malam tanpa ikan.” Kita telah berusaha memperbaiki keluarga, tetapi persoalan tetap ada; telah mendidik anak dengan baik, tetapi jalan hidupnya berbeda dari harapan; telah bekerja keras, tetapi hasilnya tidak sebanding; telah berdoa, tetapi seakan-akan Tuhan diam; telah melayani dengan sungguh-sungguh, tetapi justru menerima kekecewaan. Dalam keadaan seperti itu mudah sekali berkata, “Sudahlah. Saya sudah mencoba. Tidak ada gunanya lagi.” Tetapi justru di tempat kegagalan itulah Yesus datang kepada Petrus. Ia tidak membawa Petrus ke laut yang lain, tidak mengganti perahunya, bahkan tidak mengganti jalanya. Ia meminta Petrus kembali ke tempat yang sama, tetapi kali ini dengan dasar yang berbeda: bukan hanya karena keahlian Petrus, melainkan karena Sabda Kristus. Kadang-kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan kita; Tuhan terlebih dahulu mengubah cara kita memasuki keadaan itu.
Namun ketaatan Petrus mengandung satu kata penting: “bertolaklah ke tempat yang dalam.” Iman yang dewasa tidak dapat terus tinggal di tempat yang dangkal, tempat semuanya aman, dapat diprediksi dan dikendalikan. Tuhan kadang meminta kita masuk lebih dalam: mengampuni ketika luka masih terasa; mencoba kembali setelah gagal; berdamai ketika gengsi meminta kita menjauh; berkata benar ketika kebohongan lebih menguntungkan; menerima tanggung jawab ketika kita merasa tidak mampu; meninggalkan kebiasaan lama yang memberi kenyamanan; atau mengambil keputusan berdasarkan Injil ketika lingkungan mengatakan sebaliknya. Di tempat yang dalam kita tidak lagi dapat berkata, “Saya mampu mengendalikan semuanya.” Kita hanya dapat berkata, “Tuhan, aku tidak mengetahui semuanya, tetapi aku tahu kepada siapa aku percaya.” Di situlah iman berhenti menjadi teori dan menjadi penyerahan.
Dan ketika jala akhirnya penuh, Petrus tidak berkata, “Ternyata saya memang nelayan hebat.” Ia justru tersungkur di depan Yesus: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Mukjizat membuat Petrus semakin rendah hati. Ini menghubungkan Injil dengan teguran Paulus kepada jemaat Korintus: jangan membanggakan Paulus, Apolos atau Kefas, sebab “kamu adalah milik Kristus.” Orang yang sungguh mengalami karya Tuhan tidak menjadi semakin sombong, tetapi semakin sadar bahwa semuanya adalah rahmat. Kalau berhasil, jangan berkata, “Karena saya.” Kalau orang lain berhasil, jangan iri. Kalau pelayanan berkembang, jangan menganggapnya milik kita. Kita menanam, kita menebarkan jala, kita bekerja; tetapi Allah yang memberi pertumbuhan dan memenuhi jala. Bahkan kegagalan dan keberhasilan akhirnya menjadi jalan untuk belajar bahwa Kristuslah pusatnya.
Saudara-saudari, mungkin hari ini ada bagian kehidupan kita yang sedang seperti jala kosong. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semuanya telah selesai. Dengarkanlah kembali Yesus yang berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam.” Lalu belajarlah mengatakan bersama Petrus: “Tuhan, menurut perhitunganku mungkin tidak masuk akal; menurut pengalamanku aku sudah gagal; menurut kemampuanku aku tidak sanggup. Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala sekali lagi.” Kita tetap menggunakan akal, bekerja keras dan membuat perencanaan yang baik, tetapi kita tidak menjadikan perhitungan manusia sebagai batas bagi Tuhan. Sebab kadang-kadang jala terbesar dalam hidup justru terisi sesudah malam kegagalan yang paling panjang. Yang Tuhan minta dari kita bukan kemampuan untuk mengetahui semua hasil, melainkan keberanian untuk mempercayai-Nya dan melangkah. Iman dimulai ketika perhitungan kita berhenti menjadi tuhan, dan Sabda Kristus mulai menjadi pegangan: “Karena Engkau menyuruhnya, aku akan melakukannya.”
Amin.