
Peringatan Santa Teresa dari Kalkuta
1Kor 4:6b–15; Mzm 145:17–21; Luk 6:1–5
Sabat untuk Manusia, Bukan Manusia untuk Sabat
Komsoskam.com|| Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat sederhana: para murid sedang lapar. Mereka memetik bulir gandum, menggisarnya dengan tangan, lalu memakannya. Tetapi orang-orang Farisi tidak melihat orang yang lapar; mereka melihat aturan yang dilanggar. Mereka bertanya, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Di sinilah Yesus membongkar bahaya kehidupan beragama: kita dapat begitu sibuk menjaga aturan sehingga tidak lagi melihat manusia yang berada di depan kita. Kita dapat mengetahui dengan tepat apa yang boleh dan tidak boleh, tetapi kehilangan kepekaan terhadap orang yang lapar, terluka, lemah dan membutuhkan pertolongan. Dalam kisah paralelnya, prinsip yang ditegaskan Yesus sangat kuat: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.” Artinya, hukum Allah diberikan bukan untuk menindas manusia, melainkan untuk menjaga, memulihkan dan membawa manusia kepada kehidupan. Ketika aturan membuat kita tidak lagi melihat manusia, kita mungkin masih memegang huruf hukum, tetapi telah kehilangan hati Allah.
Sabat sendiri sebenarnya merupakan anugerah Allah bagi manusia. Tuhan memerintahkan manusia berhenti bekerja supaya ia tidak menjadi budak pekerjaan, produksi, keuntungan dan ambisi. Manusia perlu berhenti supaya dapat kembali kepada Tuhan, kembali kepada keluarga, kembali kepada sesama, bahkan kembali menemukan dirinya sendiri. Karena itu Sabat bukan beban; Sabat adalah pembebasan. Namun orang Farisi perlahan mengubah anugerah itu menjadi beban melalui begitu banyak penafsiran dan larangan. Inilah yang dapat terjadi dalam kehidupan beragama kita. Doa, liturgi, hukum, disiplin dan tradisi adalah anugerah yang sangat berharga. Tetapi semuanya harus menolong manusia semakin dekat kepada Allah dan semakin mampu mengasihi. Maka ukuran kehidupan rohani bukan hanya: “Apakah saya menaati aturan?” tetapi juga: “Apakah ketaatan saya membuat saya semakin menyerupai hati Allah?” Apakah setelah berdoa saya semakin sabar? Setelah mengikuti Ekaristi semakin mudah mengampuni? Setelah mempelajari ajaran Gereja semakin rendah hati? Sebab tujuan kehidupan rohani bukan sekadar membuat kita menjadi orang yang benar menurut aturan, tetapi manusia yang benar sekaligus penuh kasih.
Yesus kemudian mengingatkan mereka tentang Daud yang ketika lapar mengambil roti persembahan dan memakannya bersama orang-orangnya. Yesus tidak sedang mengatakan bahwa hukum boleh diabaikan sesuka hati. Ia sedang mengajarkan cara membaca hukum dengan hati Allah. Hukum mempunyai tujuan, dan tujuan terdalam hukum Allah adalah kehidupan, keselamatan, keadilan dan kasih. Maka kita perlu berhati-hati terhadap legalisme. Legalisme bukanlah kesetiaan terhadap hukum. Kesetiaan kepada hukum adalah sesuatu yang baik. Legalisme muncul ketika aturan menjadi tujuan pada dirinya sendiri, bahkan digunakan untuk menghakimi, mengontrol, mempermalukan atau menyingkirkan orang. Kasih tidak menghapus hukum; kasih menggenapi maksud terdalam hukum. Karena itu pertanyaan seorang murid Kristus tidak cukup hanya, “Apakah ini sesuai aturan?” Ia juga harus bertanya, “Apakah melalui tindakan ini manusia semakin mengalami kebaikan, kebenaran, keadilan dan belas kasih Allah?”
Bacaan pertama menunjukkan mengapa manusia mudah jatuh ke dalam legalisme: kesombongan rohani. Paulus bertanya, “Apakah yang engkau miliki yang tidak engkau terima?” Ketika kita lupa bahwa semuanya adalah anugerah, kita mulai merasa menjadi pemilik kebenaran. Lalu dengan mudah kita berdiri di atas orang lain sebagai hakim: saya lebih benar, kelompok saya lebih baik, cara saya paling Katolik, pelayanan saya paling penting. Orang Farisi jatuh ke dalam perangkap itu. Mereka tidak lagi berdiri sebagai manusia yang juga membutuhkan belas kasih, tetapi sebagai hakim atas orang lain. Paulus membawa kita kembali kepada kerendahan hati: semuanya telah kita terima. Iman adalah anugerah. Pengetahuan adalah anugerah. Kesempatan melayani adalah anugerah. Bahkan kemampuan menaati hukum pun adalah rahmat. Kalau semuanya adalah anugerah, kita tidak mempunyai alasan untuk menggunakan agama sebagai tempat meninggikan diri. Orang yang sungguh menyadari bahwa dirinya hidup dari belas kasih Allah akan lebih mudah menunjukkan belas kasih kepada sesamanya.
Hari ini peringatan Santa Teresa dari Kalkuta memberi kita gambaran yang sangat konkret tentang hal ini. Ia mempunyai kemampuan luar biasa untuk melihat manusia sebelum melihat kategori. Di jalan-jalan Kalkuta ia melihat orang sakit, miskin, terlantar dan sekarat. Ia tidak pertama-tama bertanya siapa mereka, dari agama apa, dari kelompok mana, atau apakah mereka layak menerima pertolongan. Ia melihat seorang manusia yang menderita dan membutuhkan kasih. Itulah mata Kristus. Kita pun membutuhkan mata seperti itu. Kadang-kadang di balik orang yang marah ada hati yang terluka; di balik anak yang sulit ada kebutuhan untuk didengarkan; di balik orang yang gagal ada perjuangan yang tidak kita ketahui; di balik orang yang melakukan kesalahan mungkin ada seseorang yang sedang mencari jalan untuk kembali. Jangan terlalu cepat melihat pelanggarannya sampai kita tidak melihat manusianya. Kebenaran tetap harus dikatakan dan kesalahan tetap perlu dikoreksi, tetapi koreksi Kristiani selalu bertanya: “Bagaimana orang ini dapat diselamatkan, dipulihkan dan dibantu untuk bangkit kembali?” Bukan: “Bagaimana saya membuktikan bahwa saya benar dan dia salah?”
Saudara-saudari, mungkin Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengubah cara kita melihat sesama: dari aturan menuju manusia, dari penghakiman menuju pendampingan, dari kesombongan menuju belas kasih. Jangan salah memahami pesan ini: Yesus tidak berkata bahwa hukum tidak penting. Justru karena hukum Allah begitu penting, hukum itu harus dijalankan sesuai dengan maksud Allah—supaya manusia hidup. Maka ketika bertemu seseorang yang gagal, jangan hanya bertanya, “Apa kesalahannya?” tetapi juga, “Apa yang sedang dialaminya?” Ketika seseorang jatuh, jangan hanya menunjukkan aturan yang dilanggarnya; ulurkan juga tangan yang dapat membantunya bangkit. Ketika kita harus menegur, tegurlah untuk menyelamatkan, bukan mempermalukan. Dan ketika harus menerapkan hukum, lakukanlah dengan kebenaran sekaligus belas kasih. Sebab Kristus tidak datang untuk memenangkan perdebatan melawan manusia; Ia datang untuk menyelamatkan manusia. Maka biarlah agama kita semakin memiliki wajah Kristus: tegas dalam kebenaran, tetapi lembut kepada manusia; setia kepada hukum, tetapi kaya dalam belas kasih. Sabat untuk manusia, bukan manusia untuk Sabat; hukum diberikan untuk melayani kehidupan, dan puncak seluruh hukum adalah kasih.
Amin.