Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Senin Pekan Biasa XXIII

 

1Kor 5:1–8; Mzm 5; Luk 6:6–11

Ulurkanlah Tanganmu: Dari Kelumpuhan Menuju Kehidupan

Komsoskam.com || Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada sebuah perintah Yesus dalam Injil hari ini yang sangat sederhana: “Ulurkanlah tanganmu!” Yesus mengatakannya kepada seorang yang tangan kanannya lumpuh. Tangan adalah bagian tubuh yang memungkinkan kita bekerja, memberi, menerima, menolong, merangkul, membangun dan melayani. Karena itu, tangan yang lumpuh dapat menjadi gambaran tentang sesuatu dalam diri kita yang tidak lagi mampu bergerak menuju kebaikan. Kita mungkin masih berdoa, bekerja dan menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi ada bagian hati yang “lumpuh”: tidak mampu mengampuni, tidak mampu berdamai, sulit memberi, takut memulai kembali, tidak peka terhadap penderitaan, atau sudah kehilangan keberanian untuk melakukan yang benar. Kristus datang bukan hanya untuk menunjukkan kelumpuhan itu. Ia datang untuk memulihkan kemampuan kita untuk berbuat baik. Maka pertanyaan pertama hari ini bukanlah, “Siapa yang salah di sekitar saya?” melainkan: “Tuhan, bagian mana dari hidupku yang sedang lumpuh dan perlu Engkau sembuhkan?”

Menariknya, di rumah ibadat itu ada dua macam kelumpuhan. Ada seorang yang tangannya lumpuh, tetapi ada juga para ahli Taurat dan orang Farisi yang hatinya lumpuh. Orang yang tangannya lumpuh sadar bahwa ia membutuhkan pertolongan; sementara mereka yang hatinya lumpuh merasa dirinya benar. Mereka melihat orang yang menderita, tetapi tidak tersentuh oleh penderitaannya. Bahkan ketika Yesus hendak menyembuhkan, perhatian mereka bukan tertuju pada kesembuhan orang itu, melainkan pada kemungkinan menemukan kesalahan Yesus. Inilah kelumpuhan yang lebih berbahaya: ketika mata masih dapat melihat penderitaan tetapi hati tidak lagi tergerak; ketika kita lebih cepat menemukan pelanggaran daripada melihat manusia yang membutuhkan pertolongan. Karena itu Yesus bertanya, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” Dengan kata lain: agama yang benar harus membuat manusia semakin mampu menyelamatkan kehidupan.

Bacaan pertama memperlihatkan bentuk kelumpuhan yang lain. Paulus melihat adanya dosa berat di tengah jemaat Korintus yang mulai dibiarkan. Ia menggunakan gambaran yang kuat: “Sedikit ragi mengkhamirkan seluruh adonan.” Dosa yang terus dibiarkan dapat perlahan-lahan menjadi kebiasaan; kebiasaan menjadi karakter; dan karakter seseorang akhirnya dapat membentuk budaya keluarga, komunitas atau lembaga. Awalnya hanya kebohongan kecil, lalu menjadi kebiasaan tidak jujur. Awalnya hanya satu gosip, kemudian terbentuk budaya membicarakan orang. Awalnya hanya kekecewaan, lalu menjadi kepahitan. Awalnya hanya kompromi kecil, akhirnya hati tidak lagi merasa bahwa sesuatu itu salah. Karena itu kasih Kristiani tidak berarti membiarkan semuanya. Kita harus lembut kepada orang yang berdosa, tetapi tegas terhadap dosa yang menghancurkannya. Jangan menganggap dosa ringan, tetapi jangan pula menganggap orang berdosa tidak dapat diselamatkan. Tujuan koreksi bukan menghancurkan orang, melainkan membuang “ragi” yang menghancurkan hidupnya agar ia dapat kembali menjadi manusia yang bebas.

Namun membuang ragi lama belum cukup. Kekristenan bukan hanya tentang berhenti melakukan yang jahat, tetapi juga mulai melakukan yang baik. Inilah hubungan yang indah antara Paulus dan Injil hari ini. Paulus berkata, “Buanglah ragi yang lama supaya kamu menjadi adonan yang baru.” Yesus berkata, “Ulurkanlah tanganmu.” Yang satu membersihkan, yang lain menggerakkan. Pertobatan Kristiani mempunyai dua gerakan: meninggalkan yang merusak dan mulai melakukan yang menghidupkan. Tidak cukup berkata, “Saya tidak membenci siapa pun”; apakah saya sudah mengasihi? Tidak cukup, “Saya tidak mengambil milik orang lain”; apakah saya sudah berbagi dengan yang membutuhkan? Tidak cukup, “Saya tidak menyakiti”; apakah saya sudah menyembuhkan luka seseorang? Tidak cukup, “Saya tidak membuat masalah”; apakah kehadiran saya membawa kebaikan? Kekudusan bukan hanya memiliki tangan yang tidak melakukan kejahatan, tetapi memiliki tangan yang aktif melakukan kebaikan.

Karena itu perintah “Ulurkanlah tanganmu” dapat kita dengarkan secara pribadi hari ini. Kepada orang yang lama menyimpan dendam, Yesus berkata: ulurkanlah tanganmu untuk berdamai. Kepada orang yang melihat sesamanya jatuh: ulurkanlah tanganmu untuk mengangkatnya. Kepada orang yang mempunyai lebih: ulurkanlah tanganmu untuk berbagi. Kepada pemimpin: ulurkanlah tanganmu untuk melayani, bukan untuk menguasai. Kepada orang yang pernah terluka: jangan biarkan luka membuat tanganmu selamanya tertutup terhadap kasih. Dan kepada kita yang merasa tidak mampu, Yesus tidak berkata, “Sembuhkan dahulu tanganmu, baru ulurkan.” Ia justru berkata kepada tangan yang masih lumpuh: “Ulurkanlah!” Di sinilah rahmat dan keberanian manusia bertemu. Orang itu melakukan sesuatu yang menurut keadaannya tampak mustahil, dan ketika ia menanggapi Sabda Kristus, tangannya dipulihkan. Kadang-kadang kesembuhan mulai terjadi ketika kita berani melakukan langkah kecil yang Tuhan minta.

Saudara-saudari, marilah kita pulang dengan dua pertanyaan: “Ragi lama apa yang harus saya buang?” dan “Tangan kepada siapa yang harus saya ulurkan?” Mungkin ada kebiasaan lama yang harus dihentikan, tetapi mungkin juga ada seseorang yang menunggu langkah pertama dari kita. Kristus, Anak Domba Paskah kita, telah dikurbankan supaya kita tidak terus hidup dalam ragi lama kejahatan, melainkan menjadi manusia baru dalam ketulusan dan kebenaran. Jangan sampai tangan kita aktif untuk memegang, tetapi lumpuh untuk memberi; cepat menunjuk kesalahan, tetapi lambat menolong; sibuk mengetik komentar, tetapi tidak pernah terulur kepada orang yang terluka. Mintalah kepada Tuhan: “Yesus, sembuhkanlah apa yang lumpuh dalam diriku. Bersihkanlah ragi lama yang merusak hatiku. Lalu bukalah tanganku supaya mampu memberi, mengampuni, menolong, membangun dan menyelamatkan.” Sebab tangan yang telah disentuh Kristus tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia menjadi tangan yang terulur—tangan yang membawa kehidupan kepada sesama.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com