
1Kor 7:25–31; Mzm 45; Luk 6:20–26
Peringatan Santo Petrus Claver
Hiduplah di Dunia, tetapi Jangan Dimiliki Dunia
Komsoskam.com|| Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada satu kalimat Paulus hari ini yang sangat kuat: “Rupa dunia ini sedang berlalu.” Paulus tidak meminta kita meninggalkan dunia, keluarga, pekerjaan, harta atau kegembiraan. Ia meminta kita mengubah cara kita berelasi dengan semuanya itu. Kita boleh memiliki, tetapi jangan sampai dimiliki; boleh menikmati, tetapi jangan diperbudak; boleh berhasil, tetapi jangan menjadikan keberhasilan sebagai identitas; boleh menerima pujian, tetapi jangan hidup demi pujian. Sebab semua yang hari ini kita genggam—harta, jabatan, kesehatan, popularitas, bahkan kesempatan hidup—suatu hari harus kita lepaskan. Maka kebijaksanaan Kristiani bukanlah tidak memiliki apa-apa, melainkan mempunyai kebebasan hati terhadap apa yang kita miliki. Pertanyaan yang tajam bagi kita bukan hanya, “Apa yang saya miliki?” tetapi: “Apa yang ternyata telah memiliki saya?”
Dalam terang itulah kita memahami Sabda Yesus: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Yesus bukan sedang memuliakan kemiskinan yang membuat manusia kehilangan martabat, dan bukan pula mengatakan bahwa memiliki harta adalah dosa. Yesus sedang membongkar sebuah ilusi: kita dapat mempunyai banyak hal tetapi kehilangan hal yang paling penting. Karena itu sesudah ucapan bahagia, Yesus memberikan peringatan: “Celakalah kamu yang kaya… yang sekarang kenyang… yang sekarang tertawa… apabila semua orang memuji kamu.” Masalahnya bukan harta, makanan, tertawa atau penghargaan. Bahayanya muncul ketika semuanya itu membuat hati berkata, “Aku sudah cukup. Aku tidak membutuhkan siapa-siapa, bahkan tidak membutuhkan Allah.” Orang miskin dalam arti Injili adalah orang yang masih menyediakan ruang bagi Allah. Tangannya tidak menggenggam terlalu erat sehingga masih dapat terbuka untuk menerima dari Tuhan dan terulur untuk memberi kepada sesama.
Karena itu Injil hari ini sebenarnya berbicara tentang kebebasan. Dunia sering berkata: bahagia kalau memiliki semakin banyak; Yesus berkata: bahagia kalau hatimu tidak diperbudak oleh apa yang engkau miliki. Dunia berkata: bahagia kalau semua orang memuji; Yesus berkata: tetaplah setia sekalipun kesetiaanmu membuatmu tidak populer. Dunia berkata: hindarilah segala penderitaan; Yesus berkata: bahkan dalam air mata pun Allah dapat hadir. Maka kita perlu memeriksa keterikatan kita. Mungkin bukan uang yang menguasai kita, tetapi jabatan—kita sulit melepaskannya. Mungkin bukan kekayaan, tetapi reputasi—kita takut orang berpikir buruk tentang kita. Mungkin bukan barang, tetapi kenyamanan—kita tidak mau lagi berkorban. Bahkan kita dapat melekat pada keinginan untuk selalu benar dan mengendalikan orang lain. Di sinilah Sabda Tuhan menjadi transformatif: apa pun yang tidak dapat kita lepaskan ketika Tuhan memintanya, perlahan-lahan dapat menjadi tuan atas hidup kita. Hanya orang yang bebas dapat memberikan dirinya sepenuhnya.
St. Petrus Claver memperlihatkan bagaimana kebebasan itu berubah menjadi keberpihakan. Ia berjumpa dengan para budak Afrika yang diperlakukan seolah-olah mereka bukan manusia. Ia memilih mendekati mereka, merawat yang sakit, memberi makanan, menghibur, membela martabat mereka dan menghadirkan kasih Kristus. Ia bahkan menghayati panggilannya sebagai “hamba para budak.” Di sinilah Sabda “Berbahagialah kamu yang miskin” menjadi nyata. Kita tidak boleh membaca Sabda Bahagia sambil membiarkan orang miskin tetap sendirian. Berbahagialah orang miskin bukan alasan bagi kita untuk membiarkan kemiskinan; justru menjadi panggilan bagi kita untuk berdiri di samping mereka. Orang yang bebas dari keterikatan dapat menjadi jembatan: dari kelimpahan menuju kekurangan, dari yang kuat kepada yang lemah, dari mereka yang diperhatikan kepada mereka yang dilupakan. Kita tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi. Yang dibutuhkan pertama-tama adalah hati yang tidak dimiliki oleh apa yang dimilikinya.
Maka, saudara-saudari, hari ini Paulus mengingatkan: “Waktu telah singkat… rupa dunia ini sedang berlalu.” Suatu hari kita akan meninggalkan semuanya. Pertanyaannya bukan berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan berapa banyak yang telah kita ubah menjadi kasih. Harta akan berlalu, tetapi kebaikan yang dilakukan dengannya tinggal; jabatan akan berakhir, tetapi orang yang kita layani melalui jabatan itu tetap menjadi bagian dari sejarah hidup kita; pujian akan dilupakan, tetapi martabat orang yang kita bela mempunyai nilai di hadapan Allah. Karena itu hiduplah sepenuhnya di dunia, tetapi jangan dimiliki dunia. Milikilah tanpa melekat, nikmatilah tanpa diperbudak, gunakanlah tanpa menyembah, dan ketika Tuhan meminta, beranilah melepaskan. Semoga kita memiliki hati yang miskin di hadapan Allah, lapar akan kebenaran, mampu menangis bersama mereka yang menderita, dan berani tetap setia sekalipun tidak dipuji. Sebab pada akhirnya, yang sungguh kaya bukanlah orang yang mempunyai banyak, tetapi orang yang begitu bebas sehingga seluruh yang dimilikinya dapat diubah menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi Allah.
Amin.