
1Kor 10:14–22; Mzm 116; Luk 6:43–49
Menjadi Manusia Seperti Apakah Saya karena Doa Saya?
Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Komsoskam.com||Hari ini kita dapat membawa satu pertanyaan sederhana tetapi sangat tajam ke hadapan Tuhan: “Menjadi manusia seperti apakah saya karena doa saya?” Kita mungkin sudah bertahun-tahun berdoa, mengikuti Ekaristi, mendengarkan Sabda, bahkan terlibat dalam pelayanan. Tetapi apakah semua itu sungguh mengubah kita? Apakah kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih mudah mengampuni, lebih murah hati, dan lebih mampu mengasihi? Yesus berkata, “Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik.” Maka kualitas kehidupan rohani tidak terutama diukur dari banyaknya aktivitas keagamaan, tetapi dari buah yang dihasilkannya dalam kehidupan. Doa yang baik seharusnya perlahan-lahan menghasilkan manusia yang baik.
Yesus kemudian membawa kita lebih dalam: “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik… sebab yang diucapkan mulutnya meluap dari hatinya.” Jadi persoalannya bukan pertama-tama pada mulut atau tangan, melainkan pada hati. Doa sejati adalah membiarkan Tuhan mengolah hati. Bila doa sungguh masuk ke dalam hati, ia akan mengubah cara kita melihat orang, berbicara, mengambil keputusan dan memperlakukan sesama. Mungkin dahulu kita cepat tersinggung, sekarang belajar memahami; dahulu mudah menghakimi, sekarang belajar mendengarkan; dahulu sulit meminta maaf, sekarang berani merendahkan diri; dahulu hanya memikirkan diri sendiri, sekarang mulai melihat kebutuhan sesama. Mukjizat terbesar dari doa bukan selalu berubahnya keadaan di sekitar kita, tetapi berubahnya hati kita di tengah keadaan itu.
Bacaan pertama bahkan membawa pertanyaan ini langsung kepada Ekaristi. Paulus berkata bahwa piala yang kita berkati adalah persekutuan dengan Darah Kristus dan roti yang kita pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus. Artinya, ketika menerima Ekaristi, kita bukan hanya menerima sesuatu yang kudus; kita dipersatukan dengan Kristus. Maka pertanyaannya menjadi semakin serius: menjadi manusia seperti apakah saya karena menerima Kristus? Kita menerima Dia yang memberikan diri—apakah kita semakin mampu memberi diri? Kita menerima Dia yang mengampuni—apakah kita semakin mampu mengampuni? Kita menerima Dia yang memecahkan diri-Nya bagi banyak orang—apakah egoisme kita juga mulai dipecahkan? Tidak cukup tangan kita menerima Tubuh Kristus bila tangan yang sama enggan menolong sesama. Tidak cukup mulut berkata “Amin” kepada Kristus di altar apabila mulut yang sama terus melukai orang lain. Ekaristi harus mengubah orang yang menerimanya menjadi semakin ekaristis: hidup yang diterima, disyukuri, dipecahkan, dan dibagikan.
Karena itu Yesus memberikan teguran yang sangat kuat: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Kukatakan?” Yesus tidak meremehkan doa; Ia justru ingin agar doa mencapai kepenuhannya dalam kehidupan. Ada jarak yang harus terus kita perkecil: jarak antara “Tuhan, Tuhan” yang kita ucapkan dan kehendak Tuhan yang kita lakukan; antara altar dan kehidupan; antara iman yang kita akui dan kasih yang kita berikan. Orang yang berdoa seharusnya menjadi jembatan yang semakin menghubungkan keduanya. Sesudah berdoa, ia membawa damai Tuhan ke rumahnya; sesudah menerima Ekaristi, ia membawa belas kasih Kristus kepada orang yang terluka; sesudah mendengarkan Sabda, ia berusaha menjadikan Sabda itu keputusan konkret. Dengan demikian, orang lain bukan hanya mendengar bahwa kita percaya kepada Kristus, tetapi mengalami sesuatu dari Kristus karena bertemu dengan kita.
Akhirnya Yesus berbicara tentang dua orang yang membangun rumah. Keduanya mendengar Sabda, tetapi hanya satu yang mendengar dan melakukannya. Ia menggali dalam-dalam dan meletakkan fondasinya di atas batu. Badai tetap datang, banjir tetap menerjang, tetapi rumahnya tidak roboh. Di sinilah kita menemukan ukuran kedalaman doa: bukan apakah hidup kita bebas dari badai, tetapi menjadi manusia seperti apakah kita ketika badai datang. Apakah doa membuat kita tetap mengasihi ketika disakiti, tetap berharap ketika kecewa, tetap jujur ketika rugi, tetap melayani ketika tidak dihargai, dan tetap percaya ketika Tuhan terasa diam? Maka hari ini jangan hanya berdoa, “Tuhan, ubahlah keadaan hidupku.” Beranilah juga berdoa: “Tuhan, melalui doa dan Ekaristi ini, ubahlah aku. Jadikan aku semakin menyerupai-Mu, supaya hidupku sendiri menjadi buah dari doa yang setiap hari kuucapkan.”
Amin.