
Banner ucapan selamat datang kepada Paus Leo XIV dipasang di depan Katedral St. Etienne,untuk menyambut kedatangan Paus pada misa di Metz, Bagian Timur Prancis pada 28 September 2026 (foto:AFP)
Komsoskam.com|| PARIS — Gereja Katolik Perancis menaruh harapan besar pada kunjungan apostolik Paus Leo XIV, 25-28 September 2026. Di tengah arus sekularisasi yang terus berlangsung, umat Katolik berharap kedatangan Paus membawa “napas kehidupan baru” bagi Gereja sekaligus membangkitkan kembali semangat iman masyarakat.
Hampir 600.000 orang telah mendaftarkan diri untuk menghadiri Misa yang akan dipimpin Paus Leo XIV di Paris pada 26 September. Jumlah tersebut bahkan melampaui perkiraan Keuskupan Agung Paris.
“Jumlah ini melampaui seluruh harapan kami,” kata Uskup Agung Paris Laurent Ulrich dalam pernyataan 16 September.
Karena besarnya jumlah peserta, Keuskupan Agung Paris menyiapkan area tambahan yang akan diamankan aparat keamanan. Pendaftaran untuk menghadiri Misa tersebut telah ditutup.
Antusiasme itu sejalan dengan hasil survei Institut Opini Publik Perancis (IFOP) yang dilakukan 15 September dan dipesan media Katolik Famille Chrétienne, Aleteia, serta RCF Notre Dame.
Sebanyak 26 persen responden mengatakan kunjungan Paus Leo XIV berpotensi “memberikan napas kehidupan baru bagi Gereja di Perancis”.
Meski demikian, Paus Leo XIV belum terlalu dikenal masyarakat Perancis. Sebanyak 58 persen responden mengaku belum memiliki pendapat mengenai kemampuan Paus dalam membela nilai-nilai Katolik. Di antara mereka yang akan menyambut kunjungan Paus, 32 persen menilai ia cukup baik dalam membela nilai-nilai tersebut.
Perdamaian menjadi pesan yang dinanti
Pesan mengenai perdamaian menjadi salah satu hal yang paling dinantikan masyarakat.
Survei IFOP menunjukkan, 28 persen responden berharap Paus berbicara mengenai perdamaian dan konflik global. Mereka juga berharap Paus berbicara secara terbuka mengenai persoalan pelecehan seksual dalam Gereja.
Pengamat Perancis melihat kunjungan ini sebagai kesempatan bagi Paus Leo XIV untuk menciptakan momentum seperti yang pernah terjadi saat Paus Yohanes Paulus II menghadiri Hari Orang Muda Sedunia di Paris pada 1997.
Jérôme Fourquet, Direktur Departemen Opini IFOP, mengatakan salah satu tujuan kunjungan Paus memang menciptakan momen kebersamaan dan antusiasme tersebut.
Ia memperkirakan pengalaman generasi muda yang berjumpa dengan Paus dapat meninggalkan kesan mendalam, bahkan bagi sebagian orang memengaruhi pilihan hidup mereka.
Fourquet menunjuk pengalaman WYD 1997 ketika sejumlah imam kemudian mengakui bahwa pengalaman tersebut turut berperan dalam menemukan panggilan imamat mereka.
“Kehausan spiritual” masyarakat Perancis
Juru bicara Konferensi Waligereja Perancis, Uskup Pierre-Antoine Bozo, melihat adanya kerinduan spiritual di tengah masyarakat.
“Ada kehausan yang nyata dalam hati manusia modern,” katanya. Menurut dia, rasa ingin tahu spiritual di Perancis mulai kembali terlihat.
Salah satu tandanya adalah meningkatnya jumlah orang dewasa yang menerima baptis.
“Pesan Paus memiliki kekuatan untuk beresonansi dengan aspirasi eksistensial banyak orang Perancis. Ia datang untuk menyulut percikan di tanah yang subur,” ujar Bozo.
Menurut Bozo, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat Perancis untuk mengenal Paus Leo XIV secara lebih dekat, bukan hanya sebagai pemimpin Gereja Katolik, tetapi juga sebagai pribadi, Robert Prevost.
Antusiasme belum berarti kebangkitan Katolik
Namun, sosiolog agama Yann Raison du Cleuziou mengingatkan agar antusiasme terhadap kunjungan Paus tidak langsung dianggap sebagai tanda kebangkitan kembali Katolikisme di Perancis.
Sekularisasi, menurutnya, masih terus berlangsung. Jumlah umat Katolik yang secara aktif menjalankan praktik keagamaan juga terus menurun.
“Kita tidak seharusnya menyimpulkan dari hal ini bahwa Katolikisme sedang kembali memperoleh pengaruh besar,” katanya kepada OSV News.
Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tanda vitalitas baru dalam Gereja. Selain meningkatnya baptisan orang dewasa, sejumlah paroki dan gerakan Katolik mengalami kehidupan spiritual yang lebih dinamis.
Raison du Cleuziou juga melihat perubahan pada generasi muda Katolik. Mereka, katanya, tidak lagi merasa perlu menyembunyikan identitas iman mereka.
“Mereka ingin menunjukkan identitas mereka dengan jelas, bukan menghilang ke latar belakang dan berisiko larut dalam budaya sekuler yang dominan,” ujarnya.
Kaum muda juga semakin tertarik pada liturgi yang indah dan khidmat, pengajaran iman yang jelas, serta berbagai bentuk devosi dan kesalehan populer, seperti prosesi dan devosi kepada Hati Kudus Yesus.
Gereja dalam masyarakat sekuler
Kondisi tersebut berlangsung di tengah masyarakat Perancis yang semakin sekuler. Raison du Cleuziou menyebut sekitar 70 persen penduduk Perancis kini termasuk kelompok nonreligius.
Di kalangan warga berusia lebih dari 60 tahun, hampir separuh masih mengidentifikasi diri sebagai Katolik. Namun, di antara kelompok usia 18-29 tahun, angkanya turun menjadi sekitar 15 persen.
Dalam situasi itu, kehadiran umat Katolik imigran, terutama dari Afrika, menjadi penting. Mereka dinilai membawa kehidupan iman yang lebih terbuka dan sederhana serta berintegrasi dengan baik dalam kehidupan paroki.
Menariknya, sejumlah katekumen dan neofit—termasuk mereka yang berasal dari keluarga yang dahulu Katolik—mengaku mengalami “perjumpaan dengan Yesus” yang mengubah hidup mereka.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong mereka untuk memperdalam hubungan pribadi dengan Kristus.
Bagi mereka, menjadi bagian dari institusi Gereja pada awalnya bukanlah hal utama. Mereka juga belum terlalu mengenal Paus dan Takhta Suci.
Karena itu, Raison du Cleuziou menilai kunjungan Paus Leo XIV dapat membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus membuka jalan bagi mereka untuk mengenal Gereja secara lebih dekat.
Kunjungan Paus Leo XIV ke Perancis dengan demikian berlangsung dalam situasi yang penuh paradoks: Gereja menghadapi sekularisasi dan penurunan jumlah umat aktif, tetapi pada saat yang sama muncul tanda-tanda baru berupa meningkatnya baptisan orang dewasa, keterlibatan kaum muda, kehidupan paroki tertentu yang semakin dinamis, serta kerinduan spiritual yang kembali muncul.
Di tengah kenyataan tersebut, Gereja Perancis menanti Paus Leo XIV sebagai pembawa pesan perdamaian dan harapan—serta sebagai kemungkinan “napas kehidupan baru” bagi iman Katolik di negeri itu.
(Caroline De Sury, OSV News, 17 September 2026),