Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Selasa Pekan XXV Masa Biasa

Ams 21:1–6,10–13; Mzm 119; Luk 8:19–21

Melampaui Ikatan Darah: Menjadi Keluarga karena Sabda

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Ketika Yesus sedang mengajar, seseorang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Menarik bahwa Yesus tidak menghentikan pengajaran-Nya untuk menemui mereka. Bukan karena Ia tidak menghormati ibu dan keluarga-Nya. Justru informasi sederhana tentang kedatangan keluarga-Nya itu diubah Yesus menjadi bahan pengajaran yang inspiratif dan transformatif. Yesus membawa para pendengar dari kenyataan yang kelihatan menuju makna yang lebih dalam. Dari keluarga berdasarkan hubungan darah, Ia membuka pandangan mereka kepada sebuah keluarga yang jauh lebih luas: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Dengan demikian, Yesus tidak menghapus keluarga sedarah, tetapi melampauinya dan memperluasnya. Hubungan darah memang membuat seseorang dekat secara biologis, tetapi kedekatan rohani dengan Yesus dibangun melalui mendengarkan dan melakukan Sabda Allah. Bahkan Maria menjadi contoh terbaik dari keluarga rohani ini, sebab ia terlebih dahulu mendengarkan Sabda dan berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Maka menjadi keluarga Yesus terbuka bagi siapa saja. Orang sederhana maupun terpelajar, kaya maupun miskin, dari suku dan bangsa apa pun dapat menjadi saudara dan saudari Yesus. Syaratnya bukan hubungan darah, melainkan hati yang terbuka kepada Allah. Sabda Tuhan meruntuhkan batas yang memisahkan dan membangun sebuah keluarga baru yang dipersatukan bukan oleh darah, melainkan oleh ketaatan kepada kehendak Allah.

Tetapi Yesus tidak berkata hanya, “Mereka yang mendengarkan.” Ia menambahkan, “dan melakukannya.” Di sinilah kemuridan menjadi konkret. Sabda yang didengar harus menyeberang menjadi Sabda yang dihidupi. Mendengar tentang kasih harus membuat kita lebih mampu mengasihi; mendengar tentang pengampunan harus membuat kita berani mengampuni; mendengar tentang keadilan harus membuat kita berlaku adil; mendengar tentang belas kasih harus membuat kita semakin peka terhadap orang yang menderita. Kita dapat duduk sangat dekat dengan Yesus dalam Ekaristi, mendengarkan Injil setiap hari, bahkan mengetahui banyak hal tentang iman, tetapi Yesus menunjukkan ukuran kedekatan yang lebih dalam: apakah Sabda-Nya telah menjadi cara hidup kita? Kedekatan dengan Kristus tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering kita mendengar-Nya, tetapi oleh seberapa jauh hidup kita berubah karena mendengarkan-Nya.

Saudara-saudari, peristiwa kecil dalam Injil hari ini akhirnya menjadi undangan yang sangat besar: Yesus mengundang kita masuk menjadi keluarga-Nya. Dan jalan masuknya terbuka bagi semua orang: dengarkan Sabda dan lakukanlah. Maka setiap kali mendengarkan Firman Tuhan, jangan hanya bertanya, “Apa arti Sabda ini?” tetapi bertanyalah, “Apa yang harus berubah dalam diriku karena Sabda ini?” Dengan demikian, keluarga sedarah kita pun perlahan-lahan dapat menjadi keluarga rohani: rumah tempat orang saling mendengarkan, mengampuni, melayani, berdoa dan mencari kehendak Allah bersama-sama. Yesus melampaui ikatan darah bukan untuk melemahkan keluarga, tetapi untuk membawa keluarga kepada tingkat yang lebih dalam: dari sekadar hidup bersama karena hubungan darah menjadi hidup bersama sebagai pendengar dan pelaksana Sabda Allah.
Amin.

 

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com