Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Sabtu Pekan XXV Masa Biasa

 

Pkh 11:9–12:8; Mzm 90; Luk 9:43b–45

Tetap Mengikuti Yesus Ketika Jalan-Nya Belum Kita Mengerti

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Komsoskam.com|| Injil hari ini menghadirkan situasi yang sangat manusiawi. Ketika orang banyak masih kagum melihat karya-karya Yesus, tiba-tiba Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Para murid tidak mengerti perkataan itu, bahkan mereka takut menanyakannya kepada Yesus. Mereka mengerti Yesus yang membuat mukjizat, menyembuhkan dan membuat orang kagum; tetapi mereka belum mengerti Yesus yang akan ditolak dan menderita. Bukankah kita pun sering seperti mereka? Kita mudah mengikuti Tuhan ketika jalan-Nya sesuai dengan harapan kita. Tetapi ketika doa belum terjawab, rencana gagal, orang yang kita kasihi menderita, atau sesuatu terjadi di luar pengertian kita, muncullah pertanyaan: “Tuhan, mengapa jalan-Mu seperti ini?”

Namun yang menarik, ketidakmengertian para murid tidak membuat Yesus meninggalkan mereka, dan tidak pula harus membuat mereka meninggalkan Yesus. Di sinilah iman mulai menjadi dewasa. Iman bukan kemampuan memahami seluruh rencana Allah sebelum kita bersedia berjalan bersama-Nya. Iman adalah keberanian untuk berkata, “Tuhan, aku belum mengerti, tetapi aku tetap mengikuti-Mu.” Seorang anak kecil yang berjalan bersama ayahnya tidak harus mengetahui seluruh peta perjalanan; ia hanya perlu mengenal tangan yang menggenggamnya. Demikian pula kehidupan rohani. Ada saat ketika Allah memberi kita penjelasan, tetapi ada pula saat ketika Ia hanya memberi kehadiran-Nya. Dan kadang-kadang kehadiran Tuhan jauh lebih kita perlukan daripada jawaban. Kita tidak selalu membutuhkan penjelasan tentang seluruh perjalanan; kita membutuhkan keyakinan tentang siapa yang berjalan bersama kita.

Kitab Pengkhotbah hari ini mengingatkan bahwa masa muda berlalu, kekuatan manusia berkurang dan akhirnya kita kembali kepada Sang Pencipta. Kita tidak mempunyai cukup waktu untuk menunggu sampai seluruh misteri kehidupan dapat kita pahami sebelum mulai mempercayai Allah. Ada banyak hal yang baru kita pahami setelah melewatinya. Para murid pun baru mengerti perkataan Yesus tentang sengsara setelah mengalami salib dan kebangkitan. Demikian juga dalam hidup kita: sesuatu yang hari ini tampak seperti jalan buntu, beberapa tahun kemudian mungkin kita lihat sebagai jalan yang dipakai Tuhan untuk mendewasakan, memurnikan atau mengarahkan hidup kita. Karena itu jangan terlalu cepat menilai karya Allah hanya dari satu bagian perjalanan. Jangan membuat kesimpulan tentang seluruh buku ketika Tuhan baru membuka satu halaman.

Saudara-saudari, mungkin hari ini ada bagian kehidupan kita yang belum kita mengerti. Jangan takut membawanya kepada Tuhan. Para murid takut bertanya; kita tidak perlu takut. Katakanlah kepada-Nya dengan jujur: “Tuhan, aku tidak mengerti.” Tetapi jangan berhenti di sana. Tambahkanlah: “Namun aku percaya kepada-Mu dan aku akan tetap berjalan bersama-Mu.” Inilah iman yang meneguhkan: bukan iman yang mempunyai jawaban untuk segala sesuatu, tetapi iman yang mempunyai Seseorang untuk diikuti. Ketika kita tidak melihat jalan, pandanglah Kristus; ketika kita tidak memahami rencana-Nya, peganglah tangan-Nya; ketika perjalanan terasa berat, ingatlah bahwa salib bukan akhir kisah Yesus. Kita mungkin belum memahami apa yang sedang Tuhan kerjakan, tetapi kita mengenal Dia yang mengerjakannya. Dan karena kita mengenal-Nya sebagai Allah yang setia dan mengasihi kita, kita dapat tetap mengikuti-Nya, satu langkah demi satu langkah.
Amin.

 

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com