Renungan Harian Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Rabu Pekan Biasa XIX

Yeh 9:1–7; 10:18–22; Mzm 113; Mat 18:15–20.

Menegur untuk Menyelamatkan, Bukan Menghukum

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Kita hidup dalam zaman ketika kesalahan seseorang dapat tersebar dalam hitungan detik. Satu foto, satu video, satu kalimat yang keliru, lalu orang ramai-ramai memberi komentar, menuduh, menghakimi, bahkan menghancurkan nama baik seseorang. Sering kali orang yang bersalah belum sempat menjelaskan, tetapi pengadilan media sosial sudah menjatuhkan vonis. Kita lebih cepat membagikan kesalahan orang daripada membagikan kebaikannya; lebih mudah membicarakan seseorang daripada berbicara langsung kepadanya. Dalam situasi seperti ini, Injil hari ini terasa sangat transformatif. Yesus berkata: “Jika saudaramu berbuat dosa, pergilah dan tegurlah dia di bawah empat mata.” Tujuannya jelas: “Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapat saudaramu kembali.” Jadi koreksi kristiani bukan seni mempermalukan orang, melainkan seni menyelamatkan relasi.

Mengapa manusia begitu mudah membeberkan kesalahan orang lain? Sering kali di baliknya tersembunyi sesuatu yang lebih dalam. Ada kesombongan, karena dengan menunjukkan kelemahan orang lain kita merasa diri lebih benar. Ada iri hati, karena kejatuhan orang lain kadang memberi kepuasan tersembunyi. Ada luka batin yang tidak disembuhkan, lalu mencari jalan keluar melalui gosip. Ada juga keinginan memperoleh perhatian: kita merasa penting ketika memiliki cerita tentang orang lain. Dari situlah lahir gosip, sungut-sungut, dan budaya saling menjatuhkan. Padahal orang yang sungguh rendah hati tidak menikmati kelemahan saudaranya. Ia justru merasa ikut terluka dan bertanya: bagaimana saya dapat membantu dia bangkit?

Karena itu Yesus memberikan jalan yang sangat konkret. Pertama, datanglah langsung kepada orangnya. Jangan mulai dari kelompok WhatsApp, media sosial, atau teman-teman lain. Kedua, lakukan empat mata, supaya martabatnya tetap dijaga. Ketiga, tegurlah bukan untuk menang dalam perdebatan, tetapi untuk memenangkan saudara. Inilah yang disebut koreksi fraterna. Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa koreksi persaudaraan harus lahir dari kasih dan rasa tanggung jawab terhadap saudara, bukan dari reaksi terhadap luka atau keinginan membalas. Ia juga mengingatkan bahwa koreksi semacam ini menuntut kerendahan hati dan kesederhanaan hati.

Ada perbedaan besar antara menegur dan menghakimi. Menghakimi berkata, “Engkau orang jahat.” Menegur berkata, “Perbuatan ini salah, tetapi engkau tetap saudaraku.” Menghakimi ingin menjatuhkan. Menegur ingin memulihkan. Menghakimi menyebarkan aib. Menegur menjaga martabat. Menghakimi berbicara tentang orang itu kepada orang lain. Menegur berbicara langsung kepada orang itu dalam kasih. Karena itu, koreksi fraterna sejati selalu membutuhkan keberanian dan kasih sekaligus. Tanpa keberanian, kita membiarkan kesalahan terus berlangsung. Tanpa kasih, teguran berubah menjadi kekerasan.

Bacaan pertama dari Nabi Yehezkiel memperlihatkan betapa seriusnya Allah memandang kejahatan dan penyimpangan umat. Allah tidak bersikap masa bodoh terhadap dosa. Namun pesan keseluruhan Kitab Suci menunjukkan bahwa tujuan teguran Allah selalu menuju pertobatan dan pemulihan. Karena itu, Gereja pun tidak boleh jatuh pada dua ekstrem: membiarkan dosa tanpa koreksi atau menghukum orang tanpa belas kasih. Kebenaran dan kasih harus berjalan bersama. Kasih tanpa kebenaran menjadi permisif; kebenaran tanpa kasih menjadi kejam. Injil mengajarkan kita memadukan keduanya.

Sabda Yesus juga sangat penting bagi kehidupan keluarga, komunitas religius, paroki, dan Gereja Sinodal. Tidak mungkin berjalan bersama jika kita menyimpan kecurigaan, membicarakan orang di belakang, atau membangun kelompok-kelompok berdasarkan gosip. Sinodalitas menuntut budaya berbicara dengan orang, bukan berbicara tentang orang. Bila ada persoalan, bicarakan dengan jujur, dengarkan dengan sabar, dan carilah jalan pemulihan. Yesus menutup Injil hari ini dengan sabda: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kehadiran Kristus tumbuh di tengah komunitas yang berani menyelesaikan konflik dalam kebenaran dan kasih.

Maka sebelum kita membicarakan kesalahan seseorang, marilah bertanya tiga hal dalam hati: Apakah saya sudah berbicara langsung kepadanya? Apakah tujuan saya sungguh ingin menyelamatkan dia? Apakah saya mengatakan hal ini dengan kasih? Jika jawabannya belum, mungkin kita belum sedang melakukan koreksi fraterna, tetapi hanya sedang menggosip. Semoga Tuhan mengubah cara kita memperlakukan kelemahan sesama: dari menghukum menjadi menyembuhkan, dari mempermalukan menjadi memulihkan, dari membicarakan menjadi mendampingi. Karena dalam Injil, keberhasilan teguran bukan ketika kita merasa menang, tetapi ketika seorang saudara kembali dimenangkan dalam kasih. Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com