
Peringatan St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir
Yeh 16:1–15, 60, 63; Mzm: Yes 12:2–6; Mat 19:3–12
Setia kepada Kasih yang Lebih Dahulu Mengasihi Kita
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada satu benang merah yang sangat indah dalam Sabda Tuhan hari ini: kasih sejati selalu mengandung kesetiaan. Bacaan pertama menggambarkan hubungan Allah dengan Israel dengan bahasa kasih perjanjian. Israel digambarkan seperti seorang yang dahulu terlantar, tidak diperhatikan dan tidak mempunyai apa-apa. Allah datang, melihatnya, mengangkatnya, merawatnya, menghiasinya, lalu mengikat perjanjian dengannya. Dengan kata lain, sebelum Israel dapat berkata, “Aku mengasihi Tuhan,” Allah sudah terlebih dahulu berkata melalui tindakan-Nya, “Aku mengasihimu.” Inilah dasar seluruh kehidupan iman kita: bukan kita yang pertama mencari Allah; Allah yang terlebih dahulu mencari, memilih, menyelamatkan, dan mengasihi kita.
Namun tragedi manusia terjadi ketika kasih itu dilupakan. Israel menikmati pemberian Allah, tetapi kemudian berpaling dari Sang Pemberi. Di sinilah kita memahami dosa secara lebih dalam. Dosa bukan hanya melanggar aturan; dosa adalah melukai sebuah hubungan kasih. Kita menerima hidup dari Tuhan, tetapi hidup seolah-olah Tuhan tidak ada. Kita menerima kemampuan, jabatan, keluarga, panggilan dan pelayanan, tetapi kemudian semuanya dapat dipakai hanya untuk kepentingan diri sendiri. Kita menikmati anugerah, tetapi melupakan Sang Pemberi. Namun yang mengagumkan dalam bacaan Yehezkiel ialah bahwa ketidaksetiaan manusia tidak menghancurkan kesetiaan Allah. Tuhan berkata, “Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau.” Manusia dapat melupakan Allah, tetapi Allah tidak melupakan manusia. Inilah belas kasih.
Dalam terang itulah kita memahami Injil mengenai perkawinan. Ketika orang Farisi bertanya tentang perceraian, Yesus membawa mereka kembali kepada “sejak semula.” Ia tidak pertama-tama berbicara tentang hukum, tetapi tentang maksud Allah: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Yesus mengembalikan perkawinan kepada logika perjanjian: aku memilih engkau dan tetap mengasihimu. Kesetiaan bukan berarti hidup tanpa persoalan, tetapi tetap memilih untuk mengasihi ketika kasih itu menuntut pengorbanan. Dalam dunia yang mudah mengganti sesuatu ketika tidak lagi menyenangkan, Injil mengajarkan bahwa kasih Kristiani bukan hanya perasaan. Perasaan dapat berubah, tetapi kasih yang dewasa menjadi keputusan, komitmen, pemberian diri, dan kesetiaan.
Hari ini Gereja memperingati St. Maksimilianus Maria Kolbe, dan dalam dirinya kita melihat betapa jauh kasih perjanjian itu dapat membawa seseorang. Di Auschwitz, ketika seorang tahanan dipilih untuk mati kelaparan dan menangis memikirkan istri serta anak-anaknya, Pastor Kolbe maju dan menawarkan dirinya menggantikan orang tersebut. Mengapa ia mampu melakukan sesuatu yang begitu luar biasa? Karena sepanjang hidupnya ia telah belajar bahwa hidupnya bukan lagi miliknya sendiri. Ia telah menerima kasih Kristus dan karena itu berani menjadikan hidupnya pemberian. Pada akhirnya, kasih yang sejati selalu berkata, “Biarlah aku memberikan sesuatu dari diriku supaya engkau dapat hidup.” St. Maksimilianus menghidupi secara radikal sabda Kristus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Tetapi kita tidak perlu menunggu Auschwitz untuk belajar memberikan hidup. Setiap hari ada kesempatan untuk mengalami kemartiran kasih dalam bentuk-bentuk kecil. Suami memberikan hidup ketika tetap setia dan hadir bagi keluarganya. Istri memberikan hidup melalui kasih dan pengorbanannya. Orang tua memberikan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya. Imam dan religius memberikan diri dengan tetap setia pada panggilan dan umat yang dipercayakan kepadanya. Kita memberikan hidup ketika memilih mengampuni daripada membalas, mendengarkan daripada menghakimi, melayani daripada mencari kehormatan. Kesetiaan besar dibangun dari ribuan kesetiaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Saudara-saudari, mungkin inilah pertanyaan yang perlu kita bawa pulang: Apakah kasih saya masih bergantung pada apa yang saya terima, atau sudah menjadi keberanian untuk memberikan diri? Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita. Ketika kita tidak setia, Ia tetap membuka jalan kembali. Kristus menunjukkan bahwa kasih berarti setia sampai salib. Dan St. Maksimilianus Kolbe menunjukkan bahwa manusia yang membiarkan dirinya dipenuhi kasih Kristus bahkan dapat memberikan hidup agar orang lain tetap hidup. Semoga Ekaristi hari ini mengubah kita dari orang yang hanya ingin dicintai menjadi orang yang berani mencintai, dari orang yang hanya ingin menerima menjadi orang yang berani memberi, dan dari kasih yang hanya bertahan ketika semuanya mudah menuju kasih yang mampu berkata dalam segala keadaan: “Aku akan tetap setia, sebab Allah telah terlebih dahulu setia kepadaku.”
Amin.