
Yeh 181-10.13b.30-32; Mzm 51; Mat 19:13-15
Jangan Menjadi Penghalang; Jadilah Jembatan
Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Ada sesuatu yang menarik dalam Injil yang sangat singkat hari ini. Orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus supaya Ia meletakkan tangan atas mereka dan mendoakan mereka. Tetapi para murid justru memarahi mereka. Lalu Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” (Mat. 19:14). Perhatikan ironi ini: orang-orang yang paling dekat dengan Yesus justru hampir menjadi penghalang bagi orang lain untuk berjumpa dengan Yesus. Para murid seharusnya membuka jalan, tetapi mereka justru menutup jalan. Seharusnya mereka menghubungkan manusia dengan Kristus, tetapi mereka justru membuat jarak. Maka teguran Yesus itu sangat relevan bagi setiap murid-Nya: jangan menjadi penghalang; jadilah jembatan.
Sesungguhnya itulah salah satu panggilan dasar seorang murid Kristus: membangun jembatan, menghubungkan, dan memfasilitasi perjumpaan manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya. Seorang murid tidak dipanggil untuk membuat orang berhenti pada dirinya, tetapi untuk mengantarkan orang kepada Kristus. Seperti Yohanes Pembaptis yang menunjuk kepada Yesus, “Lihatlah Anak Domba Allah,” demikian pula hidup kita seharusnya menjadi sebuah tanda yang menunjuk melampaui diri kita sendiri. Orang yang berjumpa dengan kita hendaknya menjadi lebih mudah percaya kepada Tuhan, lebih berani berdoa, lebih dekat dengan Gereja, lebih mampu berharap, dan lebih terdorong untuk berbuat baik. Keberhasilan seorang murid bukan ketika banyak orang datang kepadanya, tetapi ketika melalui dirinya semakin banyak orang datang kepada Kristus.
Namun kita perlu jujur: tanpa sadar kita pun dapat menjadi penghalang. Orang tua menjadi penghalang ketika meminta anak rajin ke gereja, tetapi dirinya tidak memberikan teladan iman. Pelayan Gereja menjadi penghalang ketika pelayanan berubah menjadi kekuasaan, keramahan berubah menjadi penghakiman, atau perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Komunitas menjadi penghalang ketika hanya orang-orang tertentu yang merasa diterima. Kita juga dapat menjadi penghalang melalui perkataan kasar, gosip, kesombongan rohani, kemunafikan, atau sikap merasa paling benar. Kadang orang tidak menjauh dari Kristus karena menolak Kristus; mereka menjauh karena wajah Kristus tertutup oleh perilaku murid-murid-Nya sendiri. Karena itu pertanyaan yang sangat penting bagi kita ialah: Apakah melalui kehidupan saya orang semakin mudah berjumpa dengan Kristus, atau justru semakin sulit?
Yesus kemudian mengarahkan perhatian kita kepada anak-anak: “Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga.” Anak kecil datang dengan tangan kosong. Ia bergantung, percaya, dan membiarkan dirinya dituntun. Kerajaan Allah bukan prestasi yang direbut oleh mereka yang merasa hebat, melainkan anugerah yang diterima oleh mereka yang membuka diri kepada Allah. Karena itu membangun jembatan juga menuntut kerendahan hati. Jembatan tidak berdiri untuk dikagumi; orang menginjaknya supaya dapat sampai ke seberang. Demikian pula seorang murid Kristus. Kita tidak perlu selalu terlihat, disebut, dipuji, atau menjadi pusat. Cukuplah jika melalui hidup kita seseorang dapat menyeberang dari keputusasaan menuju harapan, dari kesepian menuju persaudaraan, dari dosa menuju pertobatan, dan dari kejauhan menuju perjumpaan dengan Kristus.
Bacaan pertama dari Nabi Yehezkiel memperdalam panggilan itu. Tuhan berkata, “Bertobatlah dan berpalinglah… Perbaruilah hatimu dan rohmu!” Pertobatan berarti berhenti mewariskan pola-pola yang merusak dan mulai membangun jalan baru. Jika selama ini kita membangun tembok karena sakit hati, mulailah membangun jembatan pengampunan. Jika ada jarak dalam keluarga, bangunlah jembatan dialog. Jika ada perbedaan antargenerasi, bangunlah jembatan saling mendengarkan. Jika ada perbedaan suku, budaya, status sosial, bahkan agama, bangunlah jembatan persaudaraan dan penghormatan. Membangun jembatan tidak berarti menghilangkan perbedaan; membangun jembatan berarti memastikan bahwa perbedaan tidak berubah menjadi pemisahan dan permusuhan.
Panggilan ini sangat penting bagi Gereja. Gereja harus menjadi sakramen perjumpaan: mempertemukan manusia dengan Allah dan mempertemukan manusia satu dengan yang lain. Maka paroki, lingkungan, komunitas basis, keluarga, sekolah, dan lembaga-lembaga Gereja harus bertanya: siapa yang belum dapat menyeberang menuju kita? Siapa yang merasa tidak didengarkan? Siapa yang terluka dan menjauh? Siapa yang merasa dirinya tidak cukup baik untuk kembali? Siapa yang berada di pinggir? Gereja Sinodal bukan Gereja yang hanya menunggu orang datang, melainkan Gereja yang membangun jembatan menuju mereka, mendengarkan mereka, berjalan bersama mereka, lalu membantu mereka berjumpa dengan Kristus.
Saudara-saudari, mungkin Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang luar biasa hari ini. Mungkin Ia hanya meminta kita menjadi satu jembatan bagi satu orang. Teleponlah seseorang yang sudah lama menjauh. Dengarkan anak yang selama ini tidak didengarkan. Berdamailah dengan anggota keluarga yang sudah lama tidak disapa. Sambutlah orang baru di komunitas. Dekatilah orang yang selama ini kita hindari. Ajaklah seseorang kembali berdoa. Kadang satu sapaan sederhana dapat menjadi jembatan yang membawa seseorang kembali kepada kehidupan. Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalannya; cukup membawa dia selangkah lebih dekat kepada Kristus.
Maka marilah kita membawa pulang sabda Yesus hari ini: “Janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku.” Jangan menjadi tembok; jadilah jembatan. Jangan menjadi orang yang mempersulit perjumpaan; fasilitasilah perjumpaan. Jangan membuat orang berhenti pada diri kita; antarkanlah mereka kepada Kristus. Dan semoga pada akhir kehidupan, kita dapat mengatakan: Tuhan, mungkin aku tidak melakukan hal-hal besar, tetapi aku telah berusaha menjadi jembatan. Melalui hidupku, semoga ada orang yang lebih dekat kepada sesamanya, lebih dekat kepada Gereja, dan terutama lebih dekat kepada-Mu.
Amin.