
Aparat keamanan menjaga tindakan protes para pengungsi di Imphal, Negara Bagian Manipur, India pada tanggal 16 Agustus 2023 (Foto:AFP)
MANIPUR, INDIA — Dewan Liangmai Naga meminta pemerintah India melakukan penyelidikan cepat dan independen atas pembakaran sebuah gereja dan sedikitnya 10 rumah warga di Desa Tokpa Naga, Distrik Kangpokpi, Negara Bagian Manipur, India timur laut.
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara komunitas Naga dan Kuki, dua kelompok masyarakat adat yang mayoritas beragama Kristen. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden itu.
Dalam pernyataan pada 12 Agustus, Liangmai Naga Council menuding kelompok bersenjata dari komunitas Kuki sebagai pelaku pembakaran. Namun, aparat keamanan sejauh ini menyatakan bahwa pelaku masih belum diketahui.
Dewan tersebut menyebut pembakaran gereja dan rumah warga sebagai tindakan kekerasan serius karena secara sengaja menyasar warga sipil, tempat tinggal, dan tempat ibadah.
“Penghancuran semacam ini merupakan ancaman serius terhadap kehidupan, keamanan, dan martabat warga sipil,” demikian pernyataan tersebut.
Pihak Naga juga menilai aparat keamanan lalai menjalankan tugasnya. Mereka mendesak pemerintah memperketat pengamanan di wilayah tersebut serta membawa para pelaku ke pengadilan.
Kuki membantah tuduhan
Para pemimpin Kuki membantah keterlibatan anggota komunitas mereka dalam pembakaran tersebut. Mereka menilai tuduhan terhadap Kuki tanpa bukti kuat justru dapat memperbesar konflik antara komunitas Kristen Naga dan Kuki.
Seorang pemimpin Gereja Kuki yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan kepada UCA News bahwa tidak tepat menuduh Kuki tanpa bukti yang memadai.
Menurut dia, serangan tersebut bisa saja dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengadu domba Naga dan Kuki. Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan kelompok tertentu dari komunitas Naga atau Meitei, kelompok etnis yang mayoritas beragama Hindu di Manipur.
“Kami berusaha memulihkan perdamaian dan keharmonisan antara Naga dan Kuki, tetapi kami masih dituduh dalam setiap kekerasan ketika warga Naga menjadi korban,” ujarnya.
Ia menilai insiden pembakaran tersebut dapat menjadi upaya terbaru untuk memecah persatuan umat Kristen di Manipur, khususnya antara komunitas Naga dan Kuki.
Konflik yang semakin kompleks
Insiden di Desa Tokpa Naga merupakan perkembangan terbaru dalam rangkaian kekerasan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat di Manipur.
Konflik besar di negara bagian tersebut pecah pada Mei 2023 antara komunitas Meitei yang mayoritas beragama Hindu dan masyarakat adat Kuki-Zo yang mayoritas beragama Kristen. Kekerasan bermula setelah muncul upaya memberikan status masyarakat adat kepada kelompok Meitei.
Konflik tersebut telah menewaskan sedikitnya 260 orang dan menyebabkan lebih dari 60.000 orang mengungsi, menurut kelompok-kelompok hak asasi manusia. Ribuan rumah dan ratusan tempat ibadah juga dilaporkan hancur.
Pemerintahan Partai Bharatiya Janata Party (BJP), yang secara politik banyak didominasi kelompok Meitei, mendapat kritik dan tuduhan telah memperburuk konflik. Tuduhan tersebut menjadi bagian dari perdebatan politik yang menyertai konflik Manipur.
Kekerasan kemudian relatif mereda setelah pemerintahan negara bagian digantikan dengan pemerintahan langsung dari pemerintah federal. Pergantian itu juga diikuti dengan penggantian Kepala Menteri Manipur, N. Biren Singh, yang berasal dari komunitas Meitei.
Naga dan Kuki ikut terlibat konflik
Meskipun sebelumnya komunitas Naga cenderung menjaga jarak dan bersikap netral dalam konflik antara Meitei dan Kuki, hubungan Naga-Kuki kemudian ikut memburuk.
Komunitas Naga dan Kuki memang memiliki sejarah sengketa wilayah. Ketegangan terbaru meningkat setelah sebuah serangan mematikan terhadap warga Naga pada April lalu. Kelompok Naga menuding Kuki berada di balik serangan tersebut, tetapi pihak Kuki membantah tuduhan itu.
Para pemimpin Kuki bahkan menduga serangan tersebut sengaja direkayasa oleh kelompok Meitei untuk mengadu komunitas Naga dan Kuki.
Sejak saat itu terjadi serangkaian serangan dan aksi balas dendam. Sedikitnya 25 orang dari kedua pihak dilaporkan tewas.
Berbagai upaya perdamaian antara Naga dan Kuki telah dilakukan, tetapi hingga kini belum menghasilkan kesepakatan konkret untuk menghentikan ketegangan.
Mayoritas penduduk adalah Meitei
Manipur memiliki sekitar 3,2 juta penduduk. Sekitar 53 persen merupakan masyarakat Meitei yang mayoritas beragama Hindu, sedangkan sekitar 41 persen merupakan kelompok masyarakat adat yang sebagian besar beragama Kristen.
Dalam situasi yang masih sangat sensitif tersebut, pembakaran gereja dan rumah warga di Tokpa Naga dikhawatirkan semakin memperdalam perpecahan antarkomunitas.
Karena pelaku resmi belum ditetapkan, penyelidikan independen dan transparan dinilai penting untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab sekaligus mencegah munculnya tuduhan baru yang dapat memicu kekerasan balasan.
Bagi komunitas Kristen di Manipur, persoalan tersebut juga menjadi ujian penting bagi upaya menjaga persatuan di tengah konflik antaretnis yang semakin kompleks.
(Reporter UCA NEWS,14 Agustus 2026)