Renungan harian Uskup Mgr Kornelius Sipayung OFMCap, Senin Pekan Biasa XIX

 

Pesta St. Laurensius, Diakon dan Martir
2Kor 9:6–10; Mzm 112:1–2, 5–6, 7–8, 9; Yoh 12:24–26

Jatuh ke Tanah untuk Menghasilkan Banyak Buah

Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

Ada satu kalimat Yesus dalam Injil hari ini yang sangat sederhana, tetapi mengandung seluruh misteri kehidupan Kristiani: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Yesus memakai sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: sebutir benih. Selama benih itu disimpan dengan aman, ia memang tidak rusak, tetapi ia juga tidak menghasilkan apa-apa. Supaya menjadi kehidupan baru, benih harus berani “kehilangan dirinya”: jatuh ke tanah, tertutup, pecah, lalu mati sebagai benih. Justru ketika ia seolah-olah kehilangan dirinya, kehidupan baru mulai tumbuh. Inilah paradoks Injil: hidup yang terus dipertahankan untuk diri sendiri akhirnya mandul; hidup yang diberikan dalam kasih justru menjadi berbuah.

Sabda tentang biji gandum pertama-taBma menunjuk kepada Yesus sendiri. Kristus adalah iji Gandum Ilahi yang jatuh ke tanah. Ia tidak mempertahankan hidup-Nya untuk diri-Nya sendiri. Ia menyerahkan diri di salib. Dari luar, Jumat Agung tampak seperti kekalahan: Yesus ditolak, dihina, disalibkan, wafat, dan dimakamkan. Tetapi justru dari “benih” yang masuk ke dalam tanah itu lahirlah kehidupan baru bagi dunia. Dari salib lahir pengampunan; dari luka-luka-Nya lahir penyembuhan; dari kematian-Nya lahir kehidupan. Maka Yesus melanjutkan, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Kekristenan pada akhirnya adalah keberanian mengubah hidup dari “untuk diriku” menjadi “aku diberikan bagi Tuhan dan sesama.”

Inilah yang diwujudkan secara luar biasa oleh St. Laurensius, diakon dan martir yang kita pestakan hari ini. Sebagai diakon Gereja Roma, Laurensius mempunyai perhatian khusus kepada kaum miskin dan mengelola bantuan Gereja bagi mereka. Tradisi kuno mengisahkan bahwa ketika penguasa meminta harta kekayaan Gereja, Laurensius mengumpulkan orang miskin, janda, yatim, dan mereka yang membutuhkan pertolongan, lalu menunjuk mereka sebagai harta Gereja. Pesannya sangat kuat: kekayaan Gereja yang sesungguhnya bukan pertama-tama emas, bangunan, atau harta benda, melainkan manusia—terutama mereka yang kecil dan menderita. Laurensius kemudian menyerahkan hidupnya sebagai martir. Ia sendiri menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan menghasilkan buah kesaksian bagi Gereja sepanjang zaman.

Bacaan pertama memberikan sisi lain dari spiritualitas yang sama. St. Paulus berkata, “Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga.” Lalu ia menambahkan, “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Yang dimaksud bukan hanya uang. Setiap hari kita sedang menaburkan sesuatu. Kita dapat menaburkan waktu, perhatian, pengampunan, keramahan, pengetahuan, tenaga, kesempatan, dan kasih. Seorang ibu menaburkan dirinya ketika dengan sabar membesarkan anak-anaknya. Seorang ayah menaburkan dirinya melalui kerja dan tanggung jawab. Imam dan religius menaburkan hidup melalui pelayanan. Orang muda menaburkan masa depannya ketika menggunakan kemampuan bukan hanya untuk sukses pribadi, tetapi juga untuk kebaikan sesama. Pertanyaannya bukan pertama-tama: berapa banyak yang saya miliki? Pertanyaannya: dari apa yang saya miliki, berapa banyak yang berani saya jadikan benih?

Di sinilah Sabda Tuhan menjadi transformatif bagi kita. Dunia sering mengajarkan: kumpulkan, pertahankan, amankan untuk dirimu. Injil mengatakan: taburkan, bagikan, berikanlah. Dunia berkata bahwa semakin banyak yang kita simpan, semakin kaya kita. Kristus menunjukkan bahwa semakin banyak hidup diberikan dalam kasih, semakin kaya hidup itu di hadapan Allah. Kita dapat memiliki banyak harta tetapi miskin dalam kasih. Kita dapat mempunyai jabatan tinggi tetapi hidup tidak menghasilkan buah. Sebaliknya, seseorang mungkin sederhana dan tidak dikenal, tetapi karena setiap hari ia menaburkan kebaikan, hidupnya menjadi sangat berharga di hadapan Allah. Mazmur hari ini menyebut orang benar sebagai orang yang murah hati dan memberi kepada orang miskin. Kemurahan hati bukan aksesori iman; ia adalah buah dari hati yang sungguh percaya kepada Tuhan.

Karena itu kita perlu bertanya: apa yang dalam diri saya masih takut “jatuh ke tanah”? Mungkin ego yang tidak mau mengalah. Mungkin gengsi yang membuat kita sulit meminta maaf. Mungkin waktu yang tidak mau kita berikan kepada keluarga. Mungkin harta yang terlalu kuat kita genggam. Mungkin kemampuan yang hanya dipakai untuk kepentingan pribadi. Bahkan mungkin jabatan pelayanan yang kita pertahankan sebagai kehormatan, bukan sebagai kesempatan untuk memberikan diri. Santo Laurensius mengingatkan bahwa seorang murid Kristus tidak bertanya, “Apa yang dapat saya peroleh dari Gereja?” tetapi, “Apa yang dapat saya berikan melalui hidup saya kepada Kristus dan umat-Nya?” Di sinilah pertobatan terjadi: dari memiliki menuju memberi, dari mempertahankan diri menuju penyerahan diri, dari mencari kehormatan menuju pelayanan.

Saudara-saudari, pada akhirnya kita semua dipanggil menjadi biji gandum. Kita mungkin tidak dipanggil menjadi martir dengan menumpahkan darah seperti St. Laurensius, tetapi setiap hari kita dipanggil mengalami “kemartiran kecil”: mati terhadap egoisme supaya kasih hidup; mati terhadap dendam supaya pengampunan tumbuh; mati terhadap keserakahan supaya kemurahan hati berkembang; mati terhadap kenyamanan supaya pelayanan menjadi mungkin. Jangan takut kehilangan sesuatu karena kasih. Apa yang diberikan kepada Tuhan tidak pernah sungguh-sungguh hilang; di tangan-Nya, ia menjadi benih. Semoga Ekaristi hari ini mengubah kita dari orang yang hanya ingin menerima menjadi pribadi yang berani memberikan diri. Sebab pada akhirnya, nilai hidup bukan ditentukan oleh berapa banyak yang berhasil kita simpan, melainkan oleh berapa banyak kehidupan yang tumbuh karena kita pernah hadir, mengasihi, melayani, dan memberikan diri.
Amin.

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com